IPNU-IPPNU Wajib Ramaikan Masjid

IPNU-IPPNU Wajib Ramaikan Masjid
IPNU-IPPNU Wajib Ramaikan Masjid

Karakteristik Aswaja An Nahdliyyah dapat dilihat dari tiga Hal:Pertama, amaliyah sehari-hari. Tahlil, barzanji, burdah, Istighatsah, manakib, selametan, haul, ziarah kubur, Dan halal bi halal adalah sebagian amaliyah warga NU dalam melestarikan tradisi Aswaja An Nahdliyyah.

Dalam Hal ini, IPNU-IPPNU Harus menjadi Garda depan yang bertugas meramaikan masjid dengan kegiatan barzanji setiap Malam JUM’AT, shalat Jamaah Lima waktu, Istighatsah, Dan lain-lain. Jangan sampai masjid NU direbut kelompok anti tahlil gara-gara Tidak pernah dikunjungi Dan diramaikan.

Bacaan Lainnya

Kedua, sumber ilmu Dan nilai yang memandu seluruh aktivitas yang dikenal dengan nama “kitab Kuning”. Kitab ini mencakup akidah, fiqh, tasawuf, hadis, Tafsir, Ushul fiqh, qawaid fiqh, Dan lain-lain.Dalam konteks ini, IPNU-IPPNU Harus berada di baris depan sebagai kader yang mampu membaca, memahami, mengamalkan, Dan mengajarkan kitab Kuning kepada masyarakat.

Dalil-dalil Al Qur’an, hadis, Dan pendapat Ulama tentang amaliyah warga NU (barzanji, manakib, Istighatsah, haul, ziarah kubur, Dan lain-lain) Harus dikuasai sehingga mampu menyampaikan argumentasi dengan benar, khususnya ketika berdebat dengan kalangan Wahabi.

Ketiga, dalam interaksi sosial lintas sektoral mengedepankan prinsip tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), Dan Amar Ma’ruf nahyi mungkar.Dalam aras ini, maka kader-kader IPNU-IPPNU Harus membangun militansi ideologi yang sesuai dengan prinsip Aswaja An Nahdliyyah sehingga Tidak ekstrim. Bahkan mereka harus berani melawan kelompok-kelompok radikal yang mengusung Khilafah dengan memaksakan kehendak Dan menggunakan cara-cara yang melawan konstitusi Negara.

Bagi NU:
Pancasila, Binneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Dan UUD 1945 (PBNU) adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Ijtihad Ulama NU ini Tidak lepas dari core value yang meyakininya bahwa Empat Pilar bangsa tersebut menjadi bukti kemaslahatan hakiki bangsa Indonesia.

Sesuai kaidah:

المصلحة المحققة مقدمة علي المصلحة الموهومة

Kemaslahatan nyata didahulukan dari kemaslahatan yang masih semu

درء المفسدة مقدم علي جلب المصلحة

Menolak kerusakan didahulukan dari mendatangkan kemaslahatan

Khilafah yang diusung HTI Dan kelompok radikal lainnya akan memecahbelah bangsa Indonesia yang heterogen Dan plural sehingga wajib ditolak. Di Negara Pancasila, umat Islam bebas penuh tanpa halangan untuk mengamalkan ajaran Agama (shalat, puasa, haji, mendirikan masjid, Mushalla, Madrasah, TPQ, Pesantren, panti Asuhan, Dan lain-lain).

Dawuh KH A Mustafa Bisri: Kita adalah bangsa Indonesia yang beragama Islam, bukan umat Islam yang kebetulan hidup di Indonesia. Oleh sebab itu, merawat Indonesia adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Hubbul wathan Minal iman (cinta Tanah sebagian dari iman) menjadi doktrin yang menyatu dalam diri warga NU.

Semoga IPNU-IPPNU mampu memenuhi harapan warga NU Dan bangsa ini secara keseluruhan sebagai bukti implementasi Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah yang menebarkan rahmat bagi seluruh Alam. Amin.

Lakmud IPNU-IPPNU Juwana,
Kamis, 25 Ramadan 1440 – 30 Mei 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.