• Whatsapp

*Tentang Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Tegalwero; Ilmu adalah Amanah*

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Tegalwero merupakan salah satu situs penting berkembangnya pendidikan islam di Kecamatan Pucakwangi. Berdiri sejak 18 tahun silam, ponpes ini sudah mencetak 40 penghafal Al-Qur’an. Saat ini, pesantren yang beralamat di Desa Tegalwero RT 3 RW I tersebut dihuni sekitar 95 santri yang sedang menimba ilmu. 50 diantaranya adalah santri putri, sedangkan santri putra berjumlah 45 orang.

Sebagaimana namanya, ponpes yang berdiri di bawah asuhan Kiai Masyhudi dan Ibu Nyai Sri Suparmi merupakan pondok berbasis Al-Qur’an. Kyai Mashudi sendiri, dikenal sebagai ulama bersahaja dan disepuhkan di kalangan para kyai di Kecamatan Pucakwangi. Kyai Mashudi merupakan santri dari Almaghfurlah KH.Nursalim Narukan Kragan Rembang, yang merupakan ayahanda dari KH. Ahmad Bahauddin.

Sebagaimana umumnya, ada dua metode pembelajaran Al-Qur’an yang digunakan, yakni metode Binnadhor dan Bil Ghoib. Metode Binnadhor ditujukan bagi santri yang maju membawa Al-Qur’an, sedangkan metode Bil Ghoib untuk santri yang maju menyetorkan hapalan. Keduanya sama-sama menggunakan sistem sorogan. Para santri akan menunggu. Saat giliran tiba, para ustadz atau ustadzah akan menyimak dan mentashih bacaan atau hafalannya.

Tidak hanya menerapkan program mengaji Bil Ghoib dan Bin Nadhor, Ponpes Tahfidzul Qur’an juga mengajarkan kitab-kitab kuning. Para santri pun diajari kemampuan public speaking dengan cara berkhutbah (berpidato). Hal ini dimaksudkan untuk mengasah mental, juga sebagai bekal karena mereka kelak akan terjun di masyarakat.

Program-program tersebut membuat Ponpes Tahfidzul Qur’an Tegalwero terus mendapatkan perhatian masyarakat. Padahal, pada tahun berdirinya (2001), Ibu Nyai Suparmi sama sekali tidak berekspektasi mendirikan pesantren karena merasa belum pantas. Sekarang ponpes ini kian besar, jumlah santri bertambah dari waktu ke waktu. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Pucakwangi, tetapi juga dari luar daerah seperti Rembang, Indramayu, Sidomulyo, Plosojenar, dan Blora.

Dengan visi dan misi “Membentuk jiwa Qur’ani yang berakhlakul karimah”, Ibu Nyai Sri Suparmi selaku pengasuh. Ia berharap agar santri-santri menjadi hafidz hafidzoh yang berkah ilmunya. “Ilmu itu amanah. Kami hanya mengharapkan keberkahan hidup, yang insyaallah tercapai jika ilmu yang telah ditimba di pesantren diamalkan dengan tujuan mendatangkan manfaat untuk keluarga maupun masyarakat,” tutur aktifis Muslimat NU tersebut. Dalam keseharian santri pun selalu dididik untuk mandiri dan disiplin termasuk dalam beribadah. Para santri dibiasakan menerapkan berbagai macam ibadah sunnah seperti puasa Senin Kamis, salat malam, melanggengkan wudhu, dan mendaras Alquran.

Tak bisa dipungkiri, Pesantren Tahfidzul Qur’an Tegalwero adalah salah satu motor penting berkembang pesatnya tradisi pesantren berbasis Al-Qur’an di Pucakwangi. Hal itu yang membuat Kecamatan Pucakwangi semakin dikenal sebagai wilayah santri Qur’an di Kabupaten Pati, tanah para kyai dan ulama. (Lip. Yati & Eva) (suasana aula pesantren: para santri kecil mengikuti pengajian harian.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *