Perjuangan Tanpa Kenangan, di Balik Layar Sandiwara (Cerpen)

  • Whatsapp
JURNALISTIK

Perjuangan Tanpa Kenangan, di Balik Layar Sandiwara
Oleh: Faiz Alim Rosyada (Juwana)

Hari ini adalah pembagian raport, saat-saat paling menegangkan bagi sebagian siswa yang peduli akan nilainya di sekolah. Namun sebagian siswa tersebut tidak termasuk Rafli. Salah seorang murid di Madrasah ternama yang terletak di Kecamatan Kota. Rafli tidak terlalu perduli dengan nilai raportnya, bukan karena nilainya buruk,namun tak ada yang perduli dengan hal itu.

Di saat-saat pembagian raport sudah tiba, kini saatnya Rafli dan teman-teman sekelasnya untuk mengetahui hasil belajarnya selama satu semester ini. Kemudian tibalah saatnya Guru mengumumkan peringkat kelas, urut dari yang terendah hingga tertinggi. Betapa tidak terkejutnya Rafli saat ia mengetahui bahwa ia mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Semua teman-temannya bertepuk tangan saat namanya dipanggil sebagai peraih ranking 1. Dan ini sudah ketiga kalinya. Di raut mukanya ia tersenyum dan tertawa gembira, namun di dalam hatinya ia merasa biasa saja, karena sudah seringkali si Rafli mendapatkan peringkat pertama di kelas. Dan ia sudah bosan dengan hal itu. Kemudian atas prestasinya, Wali Kelasnya menghadiahinya alat-alat tulis dan sejumlah uang di dalam amplop yang tidak diketahui berapa nominal isinya.

Begitu kembali pulang ke rumah, Rafli tidak memasang raut wajah bahagia sedikitpun. Ekspresinya sangat datar bagaikan genangan air di danau. Prestasi akademis yang diterimanya saat ini begitu hampa rasanya di hatinya. Bahkan, ekspresinya itu tetap bertahan hingga ia sampai ke rumah. Begitupun perasaan hatinya.

Di saat tiba di depan pintu rumah, dan ketika ia akan masuk, tiba-tiba….
gempriyang……terdengar suara wajan yang terbanting di lantai rumah. Kemudian suara itu disusul oleh teriakan amarah ayah dan ibu Rafli yang sedang berseteru dengan hebatnya. Lalu karena tak mau mendengar ocehan orang tuanya yang mengerikan itu, ia pun langsung pergi ke kamar, merenung di dalam, dan sebelum beranjak, ia menjatuhkan hadiah serta rapotnya ke bawah lantai bagai barang tak bernilai. Baginya hal itu tidak ada gunanya apabila orang tuanya sendiri tidak mau mengapresiasinya. Percuma ia ranking satu berturut-turut kalau orang tuanya sendiri tak memberinya apresiasi.

Setelah penerimaan raport berlalu, maka yang tiba ialah liburan panjang. Saat itu di tengah keretakan rumah tangganya, ada salah seorang temannya yang satu sekelas dengannya, ia merupakan teman gadisnya Rafli yang kabarnya semester ini ia meraih ranking 2. Gadis itupun datang ke rumah Rafli dan membawakan sesuatu.
“Assalamualaikum…” salam gadis tersebut.
Mendengar ucapan salam dari gadis itu, Raflipun beranjak dan membukakakan pintu.
“waalaikumussalam…” jawab rafli sambil membukakakn pintu. “ada apa Dev…?” sambung Rafli menanyai maksud kedatangan gadis itu.
“ini aku mengantarkan surat padamu…” Jawab gadis itu.
“surat apa ini Dev…?”
“sudah di terima saja dan di buka isinya. Nanti kamu tahu sendiri !” jawab Gadis tersebut.
“terimakasih ya Devi….”
“sama-sama…”

Kemudian gadis itupun pergi lalu lalang begitu saja dan si Raflipun membuka surat itu dan membacanya. Rupanya isi dari surat tersebut adalah undangan Sosialisasi IPNU IPPNU PAC Kecamatan Kota. Rafli mendapat undagan untuk hadir pada acara tersebut dan di rekrut sebagai anggota.

Semakin berjalannya waktu, Sosialisasi IPNU dan IPPNU itupun sudahberlalu begitu lama. Dan Raflipun sudah bergabung sebagai anggota dan ikut dalam kepengurusan di Departemen. Namun meskipun Rafli anak yang cerdas secara akademik, ia tak begitu memiliki kecerdasan sosial. Maka dari itu dirinya mulai beradaptasi di organisasi ini dan ikut serta aktif dalam kepengurusan. Namun sayangnya kepengurusan pada periode saat ini begitu stagnan. tak ada gebrakan yang membuat nama organisasi ini dapat dikenal luas. Dan bagi para pengurus yang aktif, mereka tak punya kesempatan untuk melampiaskan keaktifannya dalam berorganisasi. Selama ini mereka terkendala oleh kurangnya tenaga dalam membuat kegiatan serta dana yang kurang mencukupi. Selama ini yang dilakukan hanyalah rapat, diskusi dan debat. Tak ada kegiatan yang terealisasi karena selama ini mereka sibuk berselisih membenturkan ide-idenya dan tak mau toleransi terhadap pemikiran yang lain. Bagi Rafli yang merupakan pengurus baru, ia merasa agak putus asa sebab tak punya kesempatan untuk menyampaikan aspirasi karena terlebih dahulu aspirasinya dibungkam oleh atasan. Itu sebabnya ia mulai tidak menyukai kepengurusan PAC saat ini.

Waktupun terus berjalan dan dan tak terasa, sudah setahun kepengurusan PAC Kecamatan kota periode ini berjalan. Dan naasnya organisasi ini mulai tenggelam karena para kadernya sudah masa bodoh dengan organisasi ini dan tak mau buang-buang waktu dengan perdebatan yang mereka lakukan. Hingga akhirnya tak ada kegiatan maupun pertemuan selama lima bulan terkahir ini.

Rafli yang memiliki pemikiran yang kritis tak mau kehabisan akal. Ia mulai berpikir dan mencoba untuk menantang dirinya, ‘mampukah ia memangkitkan lagi PAC IPNU IPPNU Kecamatan Kota dan membuatnya berada di bawah genggaman tangannya’. Ia yang mulai sedikit mendapatkan ilmu berorganisasi dari IPNU ini ingin menerapkannya dalam kehidupan nyata. Dan ia berpikir bahwa momen ini adalah kesempatan yang bagus untuknya. Karena kondisi keluarganya yang sedang break kali ini bisa saja membuat dirinya jatuh ke dalam kenakalan remaja dan kesesatan menyakitkan akibat depresi yang dideritanya demi mencari tempat pelampiasan dan menemukan kebahagiaan serta jati diri. Itu sebabnya sebagai anak yang cerdas ia berpikir, lebih baik melampiaskan kekecewaan hidup ke hal yang positif agar berguna bagi masyarakat daripada meresahkan masyarakat.

Setelah berpikir agak keras, ia pun berhasill mendapatkan ide. Ia mencoba membentuk kekuatan lain yang nantinya bisa ia kendalikan untuk mendobrak PAC agar bisa berjalan di masa kepemimpinan yang selanjutnya. Dan solusinya adalah membentuk Ranting IPNU dan IPPNU. Bersama Devi, teman gadisnya di sekolah yang kebetulan satu Desa dengannya, mereka bekerja sama membentuk kepengurusan Ranting dan dalam proses pembentukannya itu ia juga melibatkan pengurus PAC sebagai syarat.

Setelah Ranting terbentuk, ia pun mulai bergerak dengan mencari massa. Dan dalam waktu dua bulan saja, ia berhasil mengumpulkan massa dalam jumlah yang banyak. Dan itupun melebihi jumlah pengurus PAC. Dan dari situlah ia menjalankan organisasi sebagaimana mestinya sambil dia sendiri yang mengetuai. Ketika Rafli dan Devi yang memimpin, semua rekan-rekannya ikut aktif membantu kinerjanya. Dan mereka pun bisa berjalan dengan kompak dan satu pemikiran. Hingga lambat laun IPNU dan IPPNU di Rantingnya tersebut berkembang pesat dan bangkit menjadi kekuatan yang besar dengan massa yang banyak meskipun berdiri di Kota. Bahkan dalam membuat kegiatan, mereka sampai kelebihan dana karena banyak sekali sponsor yang mengalir ke dalam rekening organisasi mereka. Akibat kebanyakan anggotanya adalah anak dari pengusaha perusahaan besar di kota tersebut.

Satu tahun kemudian, tibalah saatnya untuk KONFERANCAB. Sudah saatnya pemilihan ketua yang baru diadakan. Dan dalam Koferensi tersebut, Rafli, Devi, dan rekan-rekannya membuat konspirasi agar mereka salah satu rekan dari IPNU IPPNU dari Ranting tersebut maju sebagai ketua anak cabang. Tujuannya agar dapat mendobrak organisasi dan membuat gebrakan. Sebab mereka semua sudah satu pemikiran dan dapat berjalan dengan kompak sehingga dapat menjalankan organisasi dengan baik. serta Rafli sebagai bos mereka dapat mengendalikan PAC dari balik layar dan memberikan sumbang sisih pemikirannya secara tertutup.

Dan saat KONFERANCAB akan dimulai, jajaran panitia yang mengurusi adalah dari rekan-rekan rantingnya Rafli sendiri. Jadi seakan mereka sudah sepenuhnya dipasrahi untuk mengatur jalannya KONFERANCAB ini. hingga pada akhirnya setelah semua persiapan selesai, pada hari – H, KONFERANCAB pun dimulai.

Ketika dalam perjalanan menuju gedung konferensi, Rafli harus rela berangkat naik motor sendirian ke sana. Karena ada kesibukan lain, jadi ia terpaksa berangkat terlambat menuju ke sana. Dalam perjalanan ia sangat letih dan lelah setelah semalam begadang mengkonsep acara ini. pikirannya penuh dengan beban berat karena menanggung masa depan PAC nya. Hingga naasnya ia tidak fokus berkendara dan motor yang dikendaraninya menabrak bis dari depan. Dan Rafli pun langsung tak sadarkan diri tergeletak di tanah. Malang sekali nasibnya hingga harus di bawa ke rumah sakit. Dan saat diperiksa dokter ia di diagnosa mengalami gegar otak akibat benturan yang sangat keras tadi. Beruntung nyawanya masih terselamatkan. Namun ia akan mengalami gangguan otakyang membuatnya seperti orang gila. Dan kecerdasan Rafli yang luar biasa pun sirna akibat gangguan otaknya ini.

Di Lain tempat, di gedung konferensi, semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya dirinya. Karena Rafli hanya main bersih di sana tak mendapat job apapun. Dan acara yang berjalan selama satu hari penuh itu berjalan dengan baik meskipun terdapat sedikit kendala.

Hingga berjalannya waktu, hari demi hari berlalu. Dan PAC kota kini sudah berjalan sebagaimana mestinya. Dan karena kesibukan organisasi, rekan-rekan mulai melupakan Rafli, mereka masih agak kecewa saat itu karena mengetahui bahwa Rafli tak mau hadir pada KONFERANCAB saat itu. Dan kini Rafli pun juga hilang tanpa kabar. Tak ada yang tahu kabarnya dan berita mengenai dirinya.

Namun kenyataan yang terjadi, Rafli kini tak punya siapa-siapa lagi yang mengurusnya. Ia keluar dari ruamh sakit tanpa membayar biaya, dan karena kasihan dokter yang merawat Rafli hanya bisa melepaskannya ke jalanan begitu saja karena tak sanggup menangani gegar otak dan kegilaannya.

Di tengah perjalanan pulang dari sekolah, Devi sempat melihat orang gila yang sedang mengais tong sampah, awalnya ia menghiraukannya karena jijik melihat orang gila yang telanjang itu. Namun saat ia menoleh lagi, wajahnya yang khas mengingatkannya pada seseorang.
“RAFLI….?”

TAMAT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *