Namanya Juga Cinta (Cerpen)

  • Whatsapp

Namanya Juga Cinta
Oleh: Azka Shadam (Margoyoso)

Kring…kring…kring…gadget bergetar di saku celana Irwan. Langsung saja, tangannya menjamah ke dalam kantong. Muka tegang spontan terpasang ketika lirik matanya menemukan nama Mama dilayar gadgetnya.
“Waduh, ada apa Mama menelepon ? gitu juga kenapa pas banget aku baru jadi narasumber.” Batinnya dalam hati.
“Mohon maaf minta izin rekan rekanita, saya angkat telepon sebentar.”
“Halo, gimana Ma ?”
“Wan, kamu lagi dimana ? ini sudah jam berapa, tengah malam begini masih keluyuran.” Kata Ibunya dengan nada tinggi menjebol keheningan speaker gadget.
“Iya Ma, Irwan sebentar lagi pulang kok, ini baru ada acara penting di IPNU IPPNU.”
“Kamu ingat ya, buat apa berorganisasi sampai segitunya. Toh, kamu juga tidak dapat apa-apa dari sana. Pikirkan kuliahmu yang sudah dibiayai Mama dan Papa susah payah. Jangan setiap hari IPNU IPPNU saja, emangnya kamu mau makan dari sana apa.”
“Iya Ma, aku mengerti.”
Tut…tut…tut… telepon genggam tak lagi menghantarkan suara Mama di telinga Irwan. Tak pikir panjang, Irwan pun melanjutkan tugasnya menjadi narasumber acara LAKMUD di Desa Situayem yang letaknya berseberangan dengan tempat tinggal Irwan, yaitu Desa Sonoadem.

Sehari-hari Irwan memang dikenal aktif berorganisasi, terutama IPNU IPPNU. Bersama grupnya yang diberi nama tim rexona, beranggotakan Irwan, Jojo, Ali, Bayu, Anang, dan Dani. Ya, grup mereka sangat unik namanya, filosofi nama itu diambil dari iklan salah satu produk deodoran di televisi yang berslogan “sedia setiap saat”. Oleh karena itu mereka memakai nama itu untuk grup kecil yang harus ada dimanapun lahirnya ranting IPNU IPPNU baru.

“Maaf Ya Rekan Rekanita menunggu lama. Baiklah kita lanjutkan pembahasan kita mengenai IPNU IPPNU.” Lanjut Irwan menerangkan materi yang tadi terpotong oleh omelan Ibunya.

Jarum jam yang melingkar di tangan Irwan sudah menunjukan angka 2 malam. Dirasa acara malam ini sudah selesai, Irwan mengajak tim rexona untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Lur, ayo kita pulang. Sudah malam nih, nggak enak sama orang tua. Soalnya sudah janji bakal pulang setelah acara selesai.” Ucap Irwan
“Okelah, daripada nanti kamu kena 5 tahun penjara kamar. Bisa berantakan tim kita nanti.” Canda Jojo seketika mengundang gelak tawa seisi ruangan.
“Bisa aja lo Jo. Emangnya orang tuanya hakim apa, bisa memvonis orang sembarangan.” Tambah Ali menyulut humor mereka.
“Sudah lah, ayo kita pulang.” Ketus Irwan dengan sinis.

Suara knalpot motor bersahutan meninggalkan tempat acara menuju rumah mereka masing-masing. Sesampainya di halaman rumah, Irwan langsung memarkirkan motornya di garasi. Sembari membuka jaketnya, ia berjalan menuju pintu rumah. Setelah dibukanya pintu, tiba-tiba Irwan kaget melihat Ibunya duduk di kursi ruang tamu sambil memegang kipas anyaman bambu.

“Bagus, jam segini baru pulang. Sekalian saja nggak usah mampir ke rumah. Biar tidur di IPNU IPPNU sana yang katanya memberi manfaat luar biasa.” Ujar Ibunya memasang muka merah.
“Maaf Ma, habisnya acara baru kelar jam segini. Aku tadi jadi narasumber, makanya tidak bisa pulang lebih awal.” Balas Irwan dengan suara luluh.
“Mama hanya ingin kamu itu serius kuliah dan dapat IPK bagus nak. Organisasi seperti itu nggak ada untungnya, malahan kamu bisa jadi dimanfaatkan orang-orang yang mau mencari kesempatan dalam kesempitan.”
“Namanya juga cinta Ma, mau seperti apapun tetap Irwan lakukan. Lagian niat Irwan hanya mencari keberkahan para ulama dan keridhoan Allah.”
“Ini ada apa sih ribut terus dari tadi. Ganggu Papa lagi istirahat saja.” Sela Papa meredam suasana.
“Itu Pa, bilangin sama Irwan kalo gak usah ikutan IPNU IPPNU lagi. Pulangnya saja larut malam, gimana bisa kuliah cepat kelar.”
“Sudah lah Ma, Irwan kan bukan anak-anak lagi. Dia sudah tau jalan hidupnya seperti apa, jadi biarkan dia bebas menjalaninya asal berani mempertanggung jawabkan semua.”
“Papa nih ya, bukan belain Mama malah sama saja kaya anaknya. Udah deh, Mama capek menasihati kamu.” Ujar Mamanya menutup permasalahan dengan berpaling masuk kamar.
“Sana Wan masuk ke kamar. Cepat tidur, jangan lupa bersihkan dirimu dulu !” Seru Papa kepada Irwan.
“Iya Pa, Irwan ke kamar dulu.”

Keesokan harinya karena tidak ada jam kuliah, Irwan berdandan rapi mengenakan seragam kebanggaannya batik hijau tua ditambah peci berlogo IPNU dikepala. Saat sarapan bersama, Ibu yang melihat penampilan Irwan seperti itu sudah menebak-nebak di angannya. Tak berlangsung lama, sambil memakan nasi goreng dihadapannya, Ibu bertanya kepada Irwan.

“Mau kemana kamu, fajar begini sudah rapi ?” Tanya Mama.
“Biasa Ma, mau pergi ke acara kemarin. Kan LAKMUDnya belum selesai, jadi Irwan dan teman-teman masih mengisi beberapa materi lagi.” Jawab Irwan santai.
“Tidak ada IPNU IPPNU an lagi. Pokoknya hari ini kamu dilarang keluar rumah kecuali Mama atau Papa perintahkan sesuatu.”
“Tapi Ma, Irwan kan…”
“Titik nggak ada protes.” Cekat Mama memotong pembicaraan Irwan.

Tangan Irwan berhenti menyendok nasi dipiringnya. Seketika bangkunya digeser ke belakang lalu berdiri dan melangkah meninggalkan meja makan menuju ke kamar dengan tampang kesal. Pintu kamar di kunci dari dalam, lalu ia berjalan ke arah jendela. Matanya berbinar menatap dedaunan kelapa yang melambai seakan memanggilnya. Sembari menatap, hatinya bersenandika meratapi nasibnya yang begitu sial.

“Kenapa Mama tak mengizinkan aku untuk berorganisasi di IPNU IPPNU ? Padahal di sana aku mendapatkan pengalaman yang tak aku dapatkan di bangku kuliah. Di IPNU IPPNU aku bisa belajar banyak hal, menambah teman, bahkan mencari pasangan kehidupan kalau ada yang mau.”
“Kang Irwan, Hai, sut…sut…sut” Suara misterius yang muncul memecah lamunan Irwan. Seketika ia langsung mencari sumber suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari Adinda. Teman organisasi sekaligus pujaan hati Irwan namun belum berani mengungkapkan. Adinda sangat aktif ber IPNU IPPNU dan terkenal dikalangan temannya karena kecantikan sekaligus derajatnya sebagai anak kyai di desanya.

“Eh, Adinda. Ada apa memanggil Irwan ? “ Tanya Irwan dengan sikap salah tingkah.
“Itu, Kenapa Kang Irwan melamun sendiri disana. Adinda takut Kang Irwan kerasukan setan, jadinya aku panggil deh.”
“Gak bakalan aku kerasukan setan, kalau kerasukan cinta kamu malaha iya Din.” Gombal Irwan.
“ Ah, Kang Irwan bisa aja. Memangnya kamu tidak mengisi LAKMUD di desa sebrang ?” Tanya Adinda.
“Begini Din, aku tidak boleh keluar sama Mamaku karena tau mau mengisi acara di IPNU IPPNU. Beliau sudah melarangku untuk ikutan IPNU IPPNU. Padahal aku masih ingin berkiprah di sana. Tolong bantu Irwan dong, Adinda pasti bisa membujuk Mama.”
“Ow jadi begitu ceritanya. Baiklah Kang, coba saya rayu Ibu Kang Irwan agar mengizinkan.”

Tak lama kemudian, Adinda mampir ke rumah Irwan untuk bertemu Ibunya.

“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh, Adinda anaknya Kyai Zuber. Silahkan duduk dahulu. Ada keperluan apa datang kemari ? ” Tanya Ibu Irwan.
“Begini Bu, saya mau mengajak Kang Irwan untuk menghadiri acara IPNU IPPNU di desa sebrang. Boleh kan Bu ? ”
“Maaf ya Adinda. Ibu tidak mengizinkan lagi Irwan untuk ikut IPNU IPPNU. Tidak ada manfaatnya bagi anak Ibu ikut begitu. Malahan gara-gara itu, Irwan sering pulang malam dan tugas kuliahnya berantakan.”
“Tapi Bu, Kang Irwan sangat…”
“Sudah Adinda, saya tak ingin mendengar lagi nama itu untuk kedua kalinya.” Sela Ibu Irwan memotong pembicaraan Adinda.
“Baiklah Bu, saya mohon pamit dahulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan.”

Segala rayuan Adinda berusaha membujuk Ibu Irwan, namun tetap saja keputusan tak bisa di tawar. Adinda segera menghampiri Irwan yang tak henti bersedih.

“Kang Irwan, Kang…” Suara yang sama untuk kedua kalinya mengejutkan Irwan.
“Eh, gimana hasilnya ?”
“Maaf ya Kang. Ibu Kang Irwan bersikukuh dengan keputusannya. Adinda tak bisa merubahnya lagi.”
“Ya sudah tidak apa-apa. Memang ini sudah takdirnya. Terima kasih sudah bantu Irwan.”
“Iya, sama-sama. Adinda langsung pamit ke acara dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Bidadariku.” Pelan suara Irwan menjawabnya. Namun hati berbunga melihat senyum Adinda, meskipun sebelumnya sedih telah melanda.

Sudah dua minggu hidup Irwan terasa hampa tanpa ikut IPNU IPPNU. Ia hanya kuliah, kerjakan tugas, lalu berdiam diri di kamar tanpa ada kegiatan. Dalam lubuk hatinya, Ia selalu bedoa semoga ada hidayah bagi hambanya yang ingin berjuang dan beristiqomah di IPNU IPPNU.

Genap 14 hari Irwan bosan dengan hidupya. Tiba-tiba Ibu Irwan menyuruhnya untuk mengantarkan beliau ke pasar. Irwan pun menuruti perintah ibunya itu. Pagi buta sebelum mentari memecah gelapnya cakrawala, Ia sudah memanasi motornya dan bersiap untuk pergi ke Pasar.
“Ayo wan kita berangkat. Biar nanti tidak kehabisan lauk pauk.” Kata Ibu.
“Baik Bu, mari kita pergi.” Jawabnya sambil menghela nafas.

Beberapa lama kemudian, sampailah mereka di pasar tradisional. Irwan hanya menunggu Ibunya di parkiran motor sambil bermain gadgetnya. Sedangkan Ibu sudah masuk ke dalam pasar untuk belanja. Irwan membuka postingan sosial media teman tim rexonanya dan betapa Ia merindukan segala kenangan yang pernah ia lalui bersama rekan rekanita.
Saat Ibu Irwan belanja sayuran di salah satu pedagang langganan beliau, kebetulan juga ramai bertemu tetangga sekitar rumahnya. Ternyata para tetangganya sedang membicarakan Irwan dan teman-temannya yang begitu disegani masyarakat karena memberikan banyak manfaat di lingkup sana.

“Bu, anda sangat beruntung punya anak seperti Irwan. Sudah baik, ganteng, jiwa sosialnya tinggi lagi. Apalagi dia dan temannya IPNU IPPNU sering membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Pokoknya anak Ibu hebat sekali.” Kata salah satu pembeli yang kebetulan juga tetangganya.

Setelah mendengar perbincangan para tetangganya, Ia termenung diam seakan merasa bersalah karena telah melarang Irwan berkecimpung di IPNU IPPNU. Tak lama terdiam, Ia langsung membayar belanjaannya dan segera pergi meninggalkan keramaian pasar.
Sampainya di parkiran, beliau langsung menghampiri Irwan yang terdiam melihat foto-foto kenangannya semasa berjuang.

“Irwan…” Ucap Ibunya sembari memeluk Irwan tanpa basa-basi.
“Ma, ini ada apa ? kok Mama nangis begini. Sebenarnya kenapa ?” Tanya Irwan merasa heran sekaligus kaget dengan keadaan ini.
“Nak, maafkan Mama ya. Selama ini telah melarang Irwan ikut IPNU IPPNU. Ternyata kamu mengharumkan nama Mama dan Papa di masyarakat dengan menjadi orang bermanfaat. Sekali lagi maafkan Mama Nak.“ Kata beliau dengan air mata berderai di pipi.
“Berarti sekarang Irwan boleh ikutan IPNU IPPNU lagi dong Ma.”
“Iya nak, silakan berkiprah di sana menjadi orang yang bermanfaat. Tetapi kamu juga ingat, jangan sampai kuliahmu berantakan.”’
“Alhamdullilah Ya Allah, engkau menjawab doaku. Terima kasih Ma, sekarang mari kita pulang ke rumah.” Balas Irwan dengan senyum lebar dan hati gembira.

Tibanya di rumah, Ia bergegas pergi ke kamar mengambil seragam kesayangannya dan langsung pergi ke acara bakti sosial yang ada di salah satu desa tak jauh dari rumahnya. Tak lupa, Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sekarang telah memberikan restu sekaligus kesempatan kedua untuk berjaya di IPNU IPPNU. Kembalinya lagi Irwan di IPNU IPPNU menyempurnakan kekuatan tim rexona yang sekian lama sempat padam oleh rintangan semesta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *