Aku adalah Doa (Puisi)

  • Whatsapp
JURNALISTIK

Aku adalah Doa
Oleh: Muhammad Harir (Trangkil)

Puisi
Sepasang matamu adalah puisi, kekasih/ Kata-katanya terbuat dari lentik-lentik bulu/ Dan maknanya tersirat kala matamu berkedip-kedip.

Sepasang Matamu
Sepasang matamu adalah matari kembar/ Tiada seorangpun yang berani bersitatap/ Apalagi menatap/ Dan aku adalah yang buta karenanya

Sajak Perempuan
Demi Tuhan pencipta rembulan/ Kini bulanku lagi datang bulan/    Kita libur beribadah dulu

Aku Adalah Doa
Kenapa hari hari aku bangun lebih pagi buta?/ Karena aku ingin menikmati hidup lebih panjang dari yang lainya./ Dan kenapa aku lebih hidup di malam hari?/ Karena aku adalah doa.

Hadirmu Kematianku
Kedipan matamu adalah tebasan pedang sekali ayun/ Dan cambukan rotan sekali gebuk/ Aku antara hidup dan mati/ Setengah sadar dan tidak/ Kematian pelan-pelan datang sarat keserakatan/ Cinta mengulurkan tanganya, dan berkata “Sudah waktunya”

Kenanglah!!
Kutanyai kekasih “Apa warna dari kenangan?”/ “Tak patut kau bertanya demikian” jawabnya/ Baik manis dan pahit sekalipun kenangan itu/ Andai dikenang, yang pahit berubah manis, dan yang manis tambahlah manis/ Jadi Kenang-kenanglah, kenangan sedih itu

Cinta itu
Aku senandungkan seribu puisi cinta/ Cinta menjawab : “Pembual!!! Cinta bukan definisi, cinta adalah dzauq (merasakan). Sejuta kata makanan tidak akan mengenyangkan dan sejuta kata air tidak akan mengenyahkan dahaga”.
Purnama Dibasuh Wajahmu

O, Bulan berkah/ Dari Mu segala nikmat tumpah ruah/Para ahli ibadah dan peronda malam tampak cemas bila kelewat menyaksikan malam seribu bulan/ Sedang, aku pendosa selalu menemukannya di wajahmu tiap malamnya/ Aku bersaksi, malam ini sungguh sekali-kali purnama tidak bersinar terang kecuali dibasuh wajahmu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *