Lima Belas Menit yang Berharga (Cerpen)

  • Whatsapp

Lima Belas Menit yang Berharga
Oleh: Irma Noviana

Malam yang begitu sunyi, hanya suara kerikan jangkrik dan suara burung hantu yang menemani disaat itu. Mata mulai mengantuk dan segera Aku melihat kearah jam dinding dan ternyata sudah menandakan pukul 20.45 WIB. Segera mungkin aku yang awalnya berada di ruang tamu untuk pindah ke kamar tidur untuk segera tidur. Rutinitas sebelum tidur, aku akan menghidupkan alarm untuk bangun pada jam 03.00 pagi. Belum sempat aku mengambil handphone, handphone berbunyi “Klunting……..” (suara WhatsApp grub CBP-KPP PATI).

CBP (Crops Brigade Pembangunan) dan KPP (Crops Pelajar Putri) merupakan salah satu lembaga yang ada dalam organisasi IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU ( Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Segera mungkin aku membuka chat grup tersebut dan ternyata isinya adalah pemberitahuan pelaksanaan kegiatan DIKLATSUS di Wonosobo. Segera mungkin aku membaca teknis serta persyaratan peserta untuk mengikuti kegiatan tersebut. Salah satu isi persyaratan adalah peserta diwajibkan telah mengikuti jenjang DIKLATAMA ( Pendidikan dan Pelatihan Pertama). Kebetulan saat itu, aku telah mengikuti DIKLATAMA di Jepara tepatnya di kecamatan Bangsri. Dari Kabupaten Pati ada beberapa yang mengikuti kegiatan tersebut.
Setelah aku membaca persyaratan tersebut terdapat jadwal kegiatan yang dilampirkan dalam file edaran itu. Kegiatannya dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut . Untuk peserta merupakan perwakilan dari kabupatennya masing-masing. Dari kabupaten pati mengirimkan 6 delegasi yang terdiri dari 4 CBP ada Komandan Ma’ruf, Mas Masna, Kak Ghofur, Mas Mudhor, dan KPP ada Dek Iva, dan Aku. Tapi, aku belum bisa fix mengikuti kegiatan tersebut terkait izin orang tua dan pihak sekolah karena sudah sering pergi bahkan jarang pulang ke rumah dan sering izin sekolah bahkan sering nekat untuk membolos sekolah.

Pagi harinya, matahari di langit sudah mulai muncul ditemani kicauan burung emprit yang ada di atas rumah. Aku memberanikan diri untuk menghampiri ibuku untuk meminta restu agar diperbolehkan mengikuti kegiatan itu. Kakiku mulai melangkah dengan menyusun kata untuk meminta izin. Ibuku sedang memasak untuk sarapan nanti. Sebernya aku manggilnya bukan ibuk tapi “EMAK”. akupun mulai membuka pembicaraan .

Aku : “ Mak, aku boleh izin untuk ikut kegiatan? Tapi nginep selama 3 hari di Wonosbo.” (sambil bantu mengupas bawang merah)

Emak : “Acara apa? Kegiatannya gimana? Sekolahmu gimana? Peringkatmu? Ngaji dan hafalanmu? Perempuan itu layaknya perempuan gitu lho, Nduk.. di rumah nggak usah ikut organisasi macem-macem cukup di rumah ngaji, sinau gitu aja, nggak usah keluyuran nggak jelas kayak gitu. Jangan nambah-nambahin beban pikiran orang tua.” (ujar emak sambil sedikit jengkel menghadapiku karena aku ngotot dan sering pergi-pergi)
Alhasil aku diam dan sedikit kecewa dalam hati. Tapi bagaimanapun caranya aku akan memikirkan bagaimana caranya Aku bisa mendapatkan izin Emak. Akupun bergegas untuk pergi ke sekolah.

***
Matahari begitu cerah, jam dinding menunjukan pukul 06.35 WIB akupun bergegas pergi ke sekolah dan mengikuti pelajaran. Saat jam istirahat, aku pergi ke ruang kepala sekolah dengan hati deg – degan, takut, cemas, campur aduk rasanya. Aku takut ketika nanti tidak mendapatkan izin dari kepala sekolahku. Sampailah aku ke ruang kepala sekolah dan menceritakan maksud kedatanganku kesana. Namun, alhasil kepala sekolahku tidak mengizinkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. untuk kembali ke kelas. Rasa kecewa lagi dan lagipun datang. Aku menuju ruang kelas dengan meneteskan air mata.

Pukul 14.30 WIB, saatnya untuk pulang sekolah. Aku segera pulang dan mengabari teman – teman bahwa tak bisa ikut pelatihan karena tak dapat izin dari sekolah. Dari teman-teman DKC CBP- KPP Pati akhirnya mencoba mengizinkan ke sekolahan. Saat itu Komandan Ma’ruf datang kesekolahan untuk mengizinkanku. Di sana, Ia berbincang-bincang banyak dengan Wakil Kepala Sekolahku. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu aku tak tau. Aku berfikir positif jika aku mendapatkan izin dari pihak sekolah.

Tak lama kemudian Komandan Ma’ruf pulang dan aku mengirimkan pesan serta bertanya bagaimana hasilnya, dan ternyata masih tidak diberikan izin oleh pihak sekolah. Rasa kecewa yang semakin berat kurasakan kembali.

Segera mungkin aku menelfon Dek Iva (partner di KPP Pati). Aku bercerita bahwa aku benar- benar tidak bisa ikut DIKLATSUS. Pesan terakhir yang aku katakan ke dia adalah ” Dek, aku nitip KPP ya, Mbak Ndung ngga bisa ikut pelatihan itu. aku benar-benar nitip KPP. Tolong bawa KPP Pati menuju kejayaan. Selamat berproses dan semangat selalu.” (saat itu aku bicara sambil menangis, dan Iva pun malah ikut menangis). Tak lama kemudian Iva menjawab : “ Mbak, jangan bicara gitu, kita RAKORWIL, DIKLATAMA bareng, masak aku harus ikut diklat ini sendiri. Ayolah, Mbak.’’ (sambil meneteskan air mata yang semakin deras), segera mungkin aku menutup telfon itu karena merasa sudah tak kuat lagi untuk malanjutkan pembicaraan.

Malampun datang, aku bedo’a kepada Tuhan untuk diberikan yang terbaik untuk diriku. Alhasil aku memilih untuk nekat berangkat dengan tidak masuk sekolah. Pagi harinya aku minta pertimbangan pada beberapa keluargaku, karena saking bingungnya tak tau harus bagaimana.

Dari pihak keluarga memutuskan untuk tidak mengikuti pelatihan itu. Sangat kecewa namun rasanya hampir putus asa. Namun, aku berifikir bagaimana agar aku bisa ikut.

Setelah itu, aku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Sambil meneteskan air mata dan berbicara dalam hati : (Pak, Buk, maafkan muridmu ini, bukan bermaksud untuk durhaka pada kalian. Namun ini untuk kabupaten Pati kedepan. Bukan hanya untuk aku saja. Maaf jika selama ini aku selalu membuat kecewa kalian).

Saat itu, pukul 13.30 WIB aku sudah pulang sekolah. Setiba di rumah aku membereskan baju persiapan berangkat. Namun, Aku berfkir dua kali untuk meminta izin ke kepala sekolah. Lalu aku bertamu ke rumahnya dengan naik sepeda motor. Sampai di depan rumah beliau air mataku menetes kembali takut akan tidak dapat izin . Kulangkahkan langkah kaki hingga tiba di depan pintu. Tak lama aku mengucapkan salam. Alhamdulilah beliau ada di rumah, gumamku dalam hati. Segera mungkin aku bersalaman dan menceritakan maksudku kedatanganku. Namun, hasilnya kepala sekolahku tetap tidak mengizinkan.

Aku mencoba meyakinkan beliau lagi dan alhasil diberi izin. Dan beliau berpesan “Iya, Saya mengizinkan, hati-hati dan jaga kepercayaan dari saya dan guru-guru yang lain serta orang tuamu, terlebih nama baik sekolah kita”. Seketika aku menarik nafas sangat dalam dan menghembuskan nafas dengan mengucapkan alhamdulillah.

Sekitar 15 menit aku disana. Tapi, 15 menit itu sangat berharga untuk diriku. Lalu akupun berpamitan pulang.

***

Sampai di rumah, aku masih memikirkan bagaimana cara agar aku dapat restu dari Emak. Aku menghampiri Emak dengan menangis berkata “Mak, aku minta restu. Restui aku untuk ikut kegiatan ini.” dan akhirnya Emak mengizinkan. Lega banget rasanya. Tak lama kemudian aku berangkat ke gedung PCNU Pati karena titik kumpulnya ada disana.

Tak lama kemudian aku dijemput oleh kak Ghofur ( salah satu anggota yang akan ikut DIKLATSUS). Sampai di sana kita briefing lalu kita berangkat ke Wonosobo. Saat itu, hujan rintik-rintik dari Pati sampai Temanggung. Suka duka kita alami saat itu, mulai dari hujan- hujanan, kehilangan arah, motor rusak, tidur di masjid dan masih banyak lainnya.
***

Tak lama kami sampai di Wonosobo, kami sampai di sana telat dan segera mengurus administrasi. Momen yang sangat indah, bisa bertemu teman-teman CBP-KPP se-Jawa Tengah, berbagi ilmu dan lain – lain. Hingga tak terasa 3 hari sudah berlalu dan kita menuju ujung perpisahan untuk kembali ke daerah kita masing-masing.

Rasa lelah ingin istirahatpun pasti ada. Tapi kita harus melanjutkan perjalanan untuk pulang. Kita tidur di serambi masjid yang ada di pinggir jalan. Dan sampailah kita di Kabupaten Pati dengan selamat pada pagi harinya.
****
Beberapa hari kemudian kita yang ikut DIKLATSUS itu berkumpul. Mengevaluasi kegiatan kemarin. Alhasil, kita menyepakati untuk membuat DIKLATAMA di Pati, dan banyak melahirkan kader CBP IPNU dan KPP IPPNU di Kabupaten Pati sampai sekarang. Selesai.

Pesan : Akan ada hasil bagi yang mau berusaha karena usaha tidak akan menghianati hasil. Salam BERJUTA, Salam Permata Nusa, Salam Permata Bangsa, dan Salam Permata Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *