Dentum Perjuanganku (Cerpen)

  • Whatsapp

Dentum Perjuanganku
Oleh: Nur Hidayatun Nikmah (PKPT IPMAFA)

Senyap malam membawaku menanyai fikiranku sendiri “Wahai hati kapan kau kembali ke tempat yang seharusnya kau tempati”. Rasa dinginnya tak lagi aku hiraukan demi mendapatkan kenikmtan malam yang akan segera berganti fajar. Tangan ini tak hentinya menari bersama pena hijau favorit pemberian almarhum Mas Irwan. Masih ku ingat betapa dia sangat ingin berpasangan denganku setelah Kang Hermawan dan Mbak Jihan demisioner bulan lalu. Allah itu Maha Asyik, awalnya aku mengira itulah yang aku inginkan, menjabat selama dua tahun dengan Mas Irwan. Bersama membangun Organisasi kesayangan kami bi sam’an wa tho’atan, bersama belajar memahami semesta yang ikut menjadi saksi berseminya cinta dan kasih anggota kami, bersama berjuang menegakkan Ahlussunnah wal Jama’ah di lembah Pengusen.

“ Roi … kamu ngopo kok ndak tidur ndhuk …??” Suara Ibu mengejutkan aku, seketika aku menutup jurnalku dan ku balas dengan senyum seraya berucap
“ Ini masih ngerjain tugas sambil ngecek jadwal bulan ini buk, Roi juga belum ngantuk kok …”
“ Lha nunggu awakmu ngantuk yo kasian ayam e tho ndhuk …”
“ Hehehehe … mboten ibuk, bentar lagi Roi selesai kok, tenang aja ..”

Ibu pun menutup pintu kamarku pelan sekali, takut Bapak terbangun dari tidurnya. Selalu Ibu yang mengejutkanku disaat-saat aku genting dengan penaku. Andai Mas Irwan masih ada di sampingku. Sudah pasti aku akan membalas puluhan voicenote nya di WhatsApp. Dulu saat kami bertemu tak sengaja di sebuah acara Diklat di Semarang aku begitu gugup karena kebetulan kami adalah perwakilan dari Kabupaten. Sedangkan aku sama sekali tak mengenalnya, padahal kecamatan kami bersebelahan.

“ Maaf Mbak, boleh berkenalan …???” Ucap Mas Irwan padaku yang duduk di depannya saat di lobi.
“ Umm … Iya boleh kang,..” Aku sedikit gemetar dan salah tingkah, kurapikan lagi jilbab putihku sambil menatap lelaki yang lebih tepat ku panggil Mas, tapi aku terlanjur memanggilnya kang.
“ Hehehehe, panggil Mas Irwan saja Mbak …” Sudah kuduga dia tak mau dipanggil Kang, dikira Yuyu Kangkang. “ Saya Roi …” Kataku. Dia sedikit mengerutkan dahi sambil tersenyum mentapku, pandangannya lebih dalam dibanding tadi saat aku belum berbicara tantang namaku. Semua orang pasti bingung kenapa bisa seorang gadis desa yang cuek seperti aku dikasih nama Roi. Iyalah aku saja kebingungan menjelaskan pada mereka. Hingga akhirnya Mas Irwan kembali bertanya padaku.

“ Maaf … Roi …??????” Sudah kutebak pasti ia mengulangi menyebut namaku. Mirip di film romansa yang sering aku lihat di Viu atau Iflix. Bukan, bukan itu yang aku maksudkan. Memang karena sering banyak orang bertanya saja jadi aku bisa mudah menebaknya. “ Iya Mas, nama saya Roihatul Jannah ..” Ucapku agak keras padanya. Berharap ia tak lagi menanyaiku tentang namaku atau apalah tentang aku. “ Owhh .. saya kira namanya siapa Mbak.. “ Katanya lagi sambil menyalakan rokok. Aku berdiri dan berpindah tempat duduk. “ Eh, maaf Mbak Roi, kok malah jadi nggak enak saya nyalain ini.. hehehe…”
“ Panggil Roi saja Mas, biar lebih akrab ..” Tak ada sedikitpun niat untuk membuat dia makin banyak bicara. Tapi inilah yang menjadi awal kami berdua saling mengenal satu sama lain. Aku sedikit meliriknya yang gugup dan sedikit berkeringat padahal lobi ini ber AC.
“ Hehehe iya Mbak Roi, “ Jawabnya lagi.
“ Bisa Roi aja nggak manggilnya, kayaknya lebih tua sampean deh…”
“ …. Haaa ….??” Mungkin dia semakin merasa tidak jelas. Aku tersenyum dan dia juga membalas senyumku dengan tawa terbahak, aku menutup wajahku karena banyak orang melihat ke arah kami berdua. Tak kusangka tumbuh benih asmara hingga sekarang tak menghilang. Wajah Mas Irwan lebih mirip seperti orang China menurutku, kedua mata sipitnya mengingatkan aku pada sosok Lim Ju Hwan aktor Drama Korea yang sangat aku kagumi, entah kenapa bisa semirip itu. Atau hanya aku saja yang mencoba memiripkan mereka berdua. Tubuhnya begitu tinggi, aku sampai harus mendongak untuk sekedar berbicara saat kami berjalan menuju Aula Hotel Greenland.

“ Ini utusan dari kabupaten mana ya Mbak ..??” Ucap salah seorang Panitia padaku. Dia cantik dan sangat ramah, dia mendekatiku sambil tersenyum dan berkata “ Datengnya barengan sama Mas Ir ya Mbak…” Ternyata dia sudah lama menganal Mas Irwan. Terdengar dari caranya memanggil Mas Irwan. Aku mengangguk dan berjabat tangan dengan gadis cantik yang sedari tadi mencoba mencari keberadaan Mas Irwan yang minta izin untuk merokok di toilet.

“ Heii Lin …” Suara Mas Irwan berasal dari belakangku. Gadis itu kemudian menghampiri Mas Irwan. Aku hanya melihat mereka berdua di dekat pintu masuk Aula. Aku masih menerka-nerka apa hubungan mereka. Terlalu dini memang berfikir demikian, namun aku tahu aku sudah bisa meraskan aura positif yang dibawa lelaki bermata sipit ini. Aku harus tahu tentangnya bahkan jika perlu aku jadikan dia Imamku. Keberadaan mereka berdua menghalangi peserta diklat yang akan masuk ke Aula. Aku menatap dengan hati gelisah, aku tahu pasti ini perasaan aneh yang tak seharusnya aku abaikan. Karena sejak aku bertemu Mas Irwan, aku merasa ada yang aneh dengan detak jantungku, tiba-tiba aku langsung berucap lirih pada diriku sendiri “This is Love story”.

Dalam sebuah Organisasi baru aku temukan lelaki semacam dia. Dia sangat cakap berkomunikasi, pandai melobi dan memiliki wawasan luas tentang dunia IPNU/IPPNU. Aku juga baru saja dilantik ditahun yang sama dengannya. Kami saling menatap saat memasuki Aula, tatap matanya seperti memberiku keyakinan akan masa depan. Akhirnya kami berpisah selama 6 jam. Setelah acara usai aku melihat Mas Irwan sedang berbincang dengan Linda, gadis cantik yang tadi memanggilnya saat di depan Aula. Mereka terlihat sangat serius membahas hal penting yang aku juga tak mengetahuinya. Sembari menunggu Mas Irwan aku membuka jurnalku dan menulis beberapa hal yang hari ini aku dapatkan dari acara tadi. Hingga lobi Hotel Grrenland menjadi sangat sepi, tinggal beberapa panitia saja yang wara-wiri mengemasi barang sisa acara. Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku meunggu Mas Irwan dengan harapan bisa mendapat nomor ponselnya. Ya Allah,niat ku semoga tidak tercampuri perasaan dholim ini. Sambil menahan gelisah aku berdoa, semoga ini bukan hal yang Engkau murkai Ya Robb. Aku hanya manusia biasa yang tak bisa lepas dari dosa. Apalagi lepas dari perasaan ini. Aku ingin sekali menghindar namun hati telah berbicara, lantang menentang otakku yang berfikir bagaimana kalau aku pulang saja. Aku masih dengan pena Pilotku yang mungkin hampir habis kurasa, keran semakin tipis, dan tulisanku semakin tak terlihat.

“ Lhoooh… Roi, kamu masih disini tho…”
“ Mas Irwan, … Hehehehe… iya ini Roi nunggu sampeyan Mas ..” Astagfirullah, Roi apa yang kamu lakukan. Sama sekali tak ku sangka dia sangat bahagia mendengar ucapanku, garis wajahnya semakin mempesona. Dan aku semakin terpana. “ MashaAllah, kamu ini yaa ..” dia tersenyum menatapku dan duduk diseberang meja. Dengan nada santai dia mulai menjelaskan apa yang baru saja dibahas bersama Linda. Sembari menjelaskan aku sedikit mencatat dan melirik ke arah Mas Irwan. Terasa semakin ringan jalanku dalam Organisasi jika aku punya partner secerdas dia. Ya Allah, kenapa Engkau Hukum aku dengan perasaan ini. Aku ingin meledak rasanya. Mas Irwan begitu memukau, sedang aku hanya bermodalkan percaya diri yang sedikit overload bisa-bisanya berharap dia mau menerimaku menajdi sahabatnya, atau mungkin lebih. Dasar tamak, Roi sadarlah dia bukan lelaki yang sepadan dengan kondisimu saat ini. Kamu hanya akan merasa terabaikan jika tahu yang sebananya, jika tahu kalau lelaki ini memiliki banyak wanita disekitarnya yang lebih darimu Roi. “ Apa mungkin kamu bisa Roi …??” Aku terhenyak, sedikit kaget karena asyik menghayal tentang hal yang tak seharusnya aku fikirkan.
“ Um…Ehhh, gimana Mas… ??” Tanyaku seperti manusia blo’on
“ Tadi aku tanya soal pencalonan Roi, apa mungkin kamu bisa ikutan gabung…??” Ini pasti soal Konfercab yang akan diadakan dua bulan lagi. Aku diam sejenak
“ Roi…”
“ Iya Mas… Roi masih belum bisa jawab hari ini, gimana kalo ntar Roi jawab lewat voicenote aja, ini udah hampir maghrib soalnya..gimana..?? ndak papa kan Mas..??”
“ Ok lah, Mas anter kamu pulang yo..” Ya Allah, dadaku terasa ingin meledak.
“ Ndak popo Mas, nggak usah dianterin, jam segini masih ada grab tho..” Aku segera berdiri dan mengemasi buku-buku yang ku taruh di lengan kursiku.
“ Tunggu dulu Roi..” Apa lagi sekarang Ya Allah.
“ Iya Mas, gimana…??” Aku berbalik badan dan menghampiri Mas Irwan yang berjalan ke arahku.
“ Kamu lupa ndak nulis nomormu di Agendaku, “ sambil menyodorkan sebuah Agenda yang cukup tebal padaku. Aku menulis nomor dan namaku disana.pertanda apa lagi ini. Sudah tahu aku ini sangat tidak sopan meninggalkan Mas Irwan tanpa pamit dengan sopan, malah sekarang aku kelupaan memberinya nomor hapeku.
Dengan senyumnya ia melepasku pergi di halaman Hotel. Aku bahagia menemukan dia disaat aku sangat membutuhkan asupan nutrisi dalam Organisasiku. Aku bertekad untuk memperjuangkan apa yang seharusnya dimiliki seorang wanita dalam Organisasi, yaitu hak menjadi seorang pemimpin. Ini bukan tentang mimpi apalagi ambisi, ini hanya tentang malam-malam yang aku lewati begitu berharga saat mendengar voicenote seorang Irwan Danadipa Al Kaff. Ia dan hatinya yang luas adalah gambaran Ke-Agung-an Allah yang luar biasa merubah hidupku. Lantunan ayat sucinya tiap malam kujadikan sebagai pengantar tidurku. Mungkin raganya tak lagi kulihat setelah kami berpisah di halaman hotel, tak ada video call bagi kami, bahkan sekedar bertukar foto kami tak sempat sejauh itu. Karena Allah ingin kami bertukar kabar melalui untaian Doa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *