Puisi Rindu untuk IPNUku (Cerpen)

  • Whatsapp

Puisi Rindu untuk IPNUku
Oleh: Nur Lailatul Qodriyah (Gunungwungkal)

Allah memerantarakan kamu sebagai tema dalam tulisanku kali ini. I never felt this
way before. I’m so fast in writting, not like before. I just need a fifteen minutes to write this, amazing! Just you that make me speechless and no one word can descript you in my imaji.
You are so.. cool! Handsome! Smart! Religious!

Malam yang sunyi ini, aku ingin bercerita tentang kisah cintaku yang begitu singkat dan tidak rumit seperti kisah-kisah yang dituliskan dalam novel maupun film. Kisah cinta yang bersemi dalam satu organisasi IPNU IPPNU. Sebuah perjalanan awal kisah cinta yang kami lalui tanpa harus pacaran. Hanya bermodalkan komitmen satu sama lain.

Aldi namanya, sosok yang sangat aku kagumi karena kepandaianya dalam publik speaking. Ia pandai berbicara di depan umum dengan logatnya yang sangat lembut serta kepawaiannya dalam bertutur kata. Aku akui, sejak dulu aku memang sangat mengidam ngidamkan punya cowok yang pandai berbicara di depan umum.

Awal pertama aku mengenalnya,saat ia menjadi tamu dalam MAKESTA KORWILDES 4 di MI Minsya’ul Huda Jembulwunut. Kebetulan pada saat itu pula aku menjadi panitia, sehingga semua tamu yang datang aku layani dan ajak berbincang-bincang. Ia berbicara dengan sangat ramah dan lembut, sesekali ia menunjukan senyum manisnya. Kamipun mulai memperkenalkan diri, dengan gugup aku memberanikan diri berbicara di depanya.
Aldi : “Sudah, jangan gugup rekanita, mukamu itu lo sampai merah (sambil sesekali senyum)”

(sambil ngeles, akupun menjawab dengan nada kesal)

Aku : “Ah masa, tidak kok, biasa aja,”
Aldi : “Eemm.. ngomong-ngomong mbaknya namanya siapa? Dari ranting mana?”
Aku : “Ella dari Jembulwunut, lha sampean?”
Aldi : “Aldi, dari Pucakwangi”
(Percakapan demi percakapan terus berlanjut hingga pada akhirnya waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, Ia pun berpamitan untuk pulang)

Setelah Ia pulang, ada sesuatu yang rasanya mengganjal dalam hatiku, ternyata aku belum meminta nomornya. Akupun menyesal dan berfikir apakah suatu saat nanti kita dipertemukan kembali? Ataukah tadi pertemuan pertama sekaligus terakhirku dengannya? Aku hanya percaya pada takdir Allah, mungkin kalau
memang jodoh,suatu saat dapat dipertemukan kembali. Sebagai makhlukNya, aku hanya bisa berdoa meminta yang terbaik kepadaNya.

*****
Dua bulan kemudian…
Seperti biasa kuisi malamku untuk belajar, membaca novel, dan menulis diary. Tiba-tiba hatiku merindukan sosok yang pernah singgah sebentar dalam hatiku. Iya, aku merindukan Aldi. Seketika itu pula aku langsung menuliskan sebuah puisi yang terinspirasi dari Aldi.

Sepucuk puisi rindu untuk Aldi

Terkadang seseorang lebih memilih untuk tersenyum
Hanya karena tak ingin menjelaskan kenapa ia bersedih
Tidakkah rindu masih kau anggap ada
Meski kau kubur dalam-dalam atau kau karamkan dalam samudera
Tentangmu,
Adalah senja yang selalu penuh keindahan dan
Tentangku,
Hanyalah malam yang larut dalam keheningan
Kupinjam namamu di sepertiga malamku
Untuk kubincangkan dengan Rabbku
Setelah itu, aku pun melaksanakan shalat istikharah dan memohon petunjuk kepada-Nya.

Petujuk itu datang setelah 3 bulan kemudian. Tepat pada tanggal 11-12 Juli 2019 , Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Pati mengadakan acara
KONFERCAB. Kebetulan aku ditunjuk untuk mewakili PAC Gunungwungkal, sekitar 15 orang
turut serta menjadi peserta dalam konfercab tersebut.

Acara pun dimulai, seketika wajahku langsung terheran dan kaget karena Aldi menjadi pembawa acara dalam acara tersebut, dan nampaknya ia sadar bahwa ada aku di sana, tepat kurang lebih 5 meter aku dihadapannya. Ia
nampak tersipu malu sambil sesekali menundukan wajahnya yang sangat tampan itu.

Waktu istirahat pun datang, aku pergi menuju Musholla untuk menunaikan ibadah sholat ashar. Tiba-tiba Ika, temanku itu mengajakku ke taman samping. Katanya, ada seseorang yang ingin berbicara penting padaku. Kulihat ia adalah seorang lelaki yang tak asing bagiku. Ah ternyata Aldi. Lalu, sesosok laki-laki yang sangat kurindukan dan kucintai dalam diam itu mulai menghampiriku.

Aldi : “Assalamualaikum dek”
Ella : “Waalakumsalam”
Aldi : “Gimana kabarnya? Lama ya nggak ketemu hehehe”
Ella : “Alhamdulilah baik mas, katanya tadi mau ngomong penting?”
Aldi : “Aku pengen jujur dek, selama ini setelah berbulan-bulan sampai detik ini, aku sangat merindukanmu, entah mengapa hanya kamu sosok perempuan yang sulit sekali untuk kulupakan. Aku ternyata mencintaimu. Maukah
menjadi calon istriku? Aku siap menunggu sampai kapanpun kamu siap, tanpa harus pacaran. Islam pun melarang pacaran kan? Yang terpenting nanti kita komitmen satu sama lain.”

Ella : “Bismillah, iya saya siap ta’aruf mas”
Aldi : (sambil tersenyum) “Alhamdulilah.”

Selesai.

Pesan:
Selalu memohon petunjuk kepada Allah ialah kunci keberhasilan untuk mendapatkan sesuatu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar