Rinduku Pada Ayahku (Cerpen)

  • Whatsapp

Rinduku Pada Ayahku
Oleh: Nela Dwi Kusumawati (Gunungwungkal)

Pagi ini sangat cerah, seperti pagi pagi yang lalu, aku bangun di pagi buta karna aku harus membersihkan rumah paman dan bibiku. Paman dan bibiku menjadi orang tua asuhku sejak 6 tahun silam, dimana ibuku telah meninggalkanku saat aku masih duduk dibangku SD. Aku menganggap mereka sebagai orang tua kandungku namun mereka menganggapku tak lebih dari seorang keponakan. Pamanku sangat baik padaku, ia selalu memberikan hakku dan mencukupi semua kebutuhanku namun berbeda dengan bibiku, bibiku sangat membenciku tak tau entah apa alasannya. Andai aku bisa memilih aku juga tidak mau berada di situasi semacam ini.

Rutinitasku tak jauh beda dengan anak-anak seumuranku, aku juga pergi ke sekolah dan juga bermain bersama teman-teman. Namun itu saat pamanku berada di rumah. Jika paman bekerja di kantor sepulang sekolah hidupku adalah di jalanan. Bibiku memaksaku untuk mempunyai penghasilan sendiri. Setahun terakhir paman memberikan uang yang seharusnya diberikan padaku pada bibiku. Alhasil selama itu pula aku sudah tak mendapat hakku dan harus berjuang memenuhi kebutuhanku.

Siang itu, saat aku mengamen di salah satu bus jurusan surabaya-semarang ada seorang bapak yang tasnya dijambret. Seketika itu pula aku berusaha menolong bapak tersebut dan beruntungnya aku bisa mengembalikan tas bapak yang dijambret tadi.

“Terima kasih ya nak.. Berkat kamu tas bapak kembali.” kata bapak tersebut sambil mengelus kepalaku.
Aku hanya tersenyum melihat kegembiraan bapak tersebut. Karna bapak tersebut terburu-buru akhirnya kami pun berpisah hari itu.

Hari-hari berikutnya, aku tetap mengamen dari bus ke bus dan bertemu bapak itu kembali. Kali ini beliau berpakaian layaknya orang biasa. Hatiku tenang ketika melihat bapak tersebut. Aku pun tak tau kenapa.

Hari-hari pun berlalu…
Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, aku terus saja memikirkan bapak yang sering kutemui dalam bus itu. Banyak penumpang yang menaiki bus itu hanya saja berbeda dengan bapak tersebut.

“Nak…” Bapak itu membangunkanku karna aku tertidur di bus tanpa kusadari. Karna bus yang penuh dan hanya tersisa satu kursi di sampingku akhirnya bapak tersebut duduk tepat di sampingku.
“Kamu setiap hari ngamen di sini nak??” tanya bapak tersebut padaku.
“Iya pak,” jawabku dengan gugup
“Kemana orang tuamu ?? Kenapa mereka membiarkanmu ngamen di bus dan di jalanan seperti ini??” tanya bapak tersebut dengan penasaran,
“Ibu saya sudah meninggal pak, saya tinggal bersama paman dan bibi saya, jadi saya tidak mau merepotkan beliau, saya putuskan untuk mengamen di luar jam sekolah saya pak”. Bapak tersebut nampak puas dengan jawabanku.
Namun ketika bapak tersebut melihat kalung yang kupakai, kalung yang diberikan oleh ibuku, bapak tersebut bertanya
“Dari mana kamu dapatkan kalung ini nak??”
“Itu pemberian dari ibu saya, waktu ibu saya masih hidup pak”. Bapak tersebut tercengang dengan jawabanku.
“Apakah ibumu bernama Maryani??”
“Betul.. Dari mana bapak tau?”
Seketika bapak tersebut menangis dan memelukku, dan berkata “Anakku… bertahun-tahun ayah mencarimu nak…”
Aku masih kebingungan dengan hal tersebut, tapi selama ini aku memang tidak pernah tau siapa ayahku karna ibu sudah pergi meninggalkanku sebelum beliau menceritakan banyak tentang ayahku.

Awalnya aku tak percaya, dan aku lari meninggalkan bapak tersebut ketika beliau mengatakan hal tersebut. Malam itu aku tanyakan pada pamanku siapa ayahku sebenarnya, dan paman baru menjelaskan bahwa ayah memang sudah tidak bersama ibu sejak aku berumur 2 tahun, ayah pergi ke kota Semarang untuk menafkahi aku dan ibuku namun tragisnya di desa kami saat itu ada bencana gempa bumi yg menghancurkan seluruh rumah yang ada di desa kami yang mengakibatkan kami harus pindah dari desa kami. Paman menegaskan bahwa ayahku adalah orang yang bertanggung jawab dan ia adalah orang yang baik. Namun karna pindahan waktu itu tidak diketahui oleh ayah. Karena itulah ayah belum pernah menjumpaiku dan juga ibu.

Setelah aku mengetahui semuanya aku cari bapakku, dan di bus yang biasa kugunakan untuk mengais sedikit rezeki aku bertemu dengan ayahku. Dan akupun hidup bahagia bersama ayahku dan bisa menikmati hari-hariku sebagaimana anak-anak yang lain. Dan sampai saat ini ayah belum menikah lagi karna ayah masih sangat mencintai ibuku.

TAMAT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *