Terimakasih Tuhan (Cerpen)

  • Whatsapp

Terimakasih Tuhan (Cerpen)
Oleh: Coretan Senja (Pati)

“Alhamdulillah selesai juga”
Lega rasanya semua pesanan sudah ku kerjakan tinggal cetak dan besok dikirim.
Ya itulah kesaharianku, selalu di depan layar Laptop, sehari saja tanpa laptop rasanya ibarat sego kucing ora dikareti, AMBYAR.

Malam hari berlalu kini sang mentari sudah menyambutku. Kebetulan hari itu aku tidak ada pekerjaan, sesekali hpku berbunyi “Sayang ada chat ini” bunyi nada hpku, dalam hati kujawab “Iya sayang” Aku bergegas membuka seperti biasa dengan pola kesukaan, dan ternyata isinya chat dari grup IPNU IPPNU. “Yaaaah grup lagi grup lagi” namun dalam hati merasa senang karena melihat temen-temen aktif merespon pembahasan yang ada di grup.

Lalu aku berpindah membuka aplikasi berwarna biru tua berlogo huruf F.
“Sesekali buka FB ahh” terlintas dalam benakku, namun sesampainya di beranda facebook, entah mengapa aku heran “Tidak di WA tidak di Facebook, isinya sama aja soal IPNU IPPNU ” dengan muka datar tanpa ekspresi.

Entah apa gerangan seakan semua medsos penuh dengan postingan IPNU IPPNU.
Di samping pikiran yang sedikit uring-uringan, ada juga rasa penasaran untuk melihat lihat postingan IPNU IPPNU. Hingga akhirnya aku menemukan salah satu akun FB yang memposting foto kegiatan IPNU IPPNU. Aku memberanikan diri mencoba memberi komentar di foto tersebut “MANTAB” tulis komentarku.
“Iya kakak. Terimakasih” membaca balasan komentar dari akun itu, sempat terlintas pertanyaan dalam batinku “Kok melihat foto profilnya seperti tak asing, siapa ya?”
Akupun melanjutkan menyimak perbincangan dalam komentar, lalu mulai sedikit kepo pada dirinya. Dengan modal penasaran akupun mulai membuka akun Facebooknya, dari seluruh info detail akun sampai foto-fotonya kuamati dengan teliti, “Iya ya kayaknya kok tidak asing sekali, ah bodo amat lah.”

Kamipun melanjutkan perbincangan di kolom komentar. Sampai berhari hari, entah berapa komentar yang kami tulis
“Ah bodo amat, yang penting asik” Ucapku dalam hati.
Banyak sekali yang aku bahas dengan dirinya, mulai dari perkenalan sampai sampai membahas tentang IPNU IPPNU. Asyik. Nyaman hingga sampai setiap hari aku terfokus sama facebook lupa dengan Whatsappku. Ada keinginan untuk meminta nomer WhatsAppnya, tapi bagimana? Serasa tidak berani sama sekali.

Pada akhirnya sampailah ke pembahasan yang lebih serius, yang nantinya aku jadikan alasan untuk meminta nomornya.
Meski begitu aku masih saja tidak berani.
Entahlah hari hariku tidak seperti biasanya, untuk meminta nomor seseorang rasanya begitu sulit.

Selanjutnya, malam-malamku kuhabiskan dengan memikirkan strategi matang agar bisa mendapatkan nomornya. Namun tetap saja bimbang. Dan pada akirnya diriku mencoba untuk memberi kode dengan harapan dirinya peka.
“Em, bagaimana kalau kita lanjut lewat inbox?” Balas komentar terakhirku.
“Siaap kakak” balasnya.

Sungguh betapa senang hati ini ketika membaca balasan komentar darinya. Akupun cepat-cepat menekan tombol inbox yang ada di tampilan menu facebook, seketika itu tiba-tiba ada sms masuk, aku terkejut, apakah dia menghubungiku lewat sms?”
“Apa yang akan kukatakan nanti?” Aku bingung, kemudian lekas out dari facebook dan menju kontak pesan masuk, dengan hati berdebar, ku buka ternyata hanya pemberitahuan bahwa kuota telah habis, kesal ingin marah campur aduk jadi satu. Lalu akupun kembali membuka facebook, seketika dapat pemberitahuan bahwa quota tidak mencukupi lagi. Ingin rasanya berkata kasar.

Selagi ada waktu, aku melesat ke konter terdekat,
“Alhamdulillah” lega rasanya. Tanpa basa-basi kuketikkan nomor WhatsAppku di kolom chat Inbox” ucapku penuh harap.

Lama ku menunggunya, sesekali membuka kunci layar, tapi belum ada juga chat darinya, tanpa mengurangi rasa optimisku ku tetap menanti pesan yang penuh arti darinya, satu jam dua jam kutunggu, namun masih belum ada kabar.
*****
Tepat malam minggu ketika itu aku sedang fokus rapat dengan pemuda desaku, membahas tentang penyaluran bantuan air ke desa-desa yang membutuhkan. Tiba-tiba nada hapeku berbunyi, ternyata ada sebuah pesan masuk. Namun kubiarkan begitu saja karena rapat masih berlangsung.

Rapat selesai. Ingatanku kembali lagi kepada dirinya, tiba-tiba ada rasa rindu, ingin sekali melanjutkan perbincangan dalam kolom komentar. Tapi sepertinya kok tak ada respond di inboxku, apakah dia lupa atau bagaimana? Rasa pesimispun mulai menghantuiku.
Ah apa boleh buat.

Kubuka kunci layar handphoneku, tak kusangka dia sudah menghubungiku. Seketika aku membalasnya. Namun belum sempat klik tombol kirim tiba-tiba hpku mati, sempat menanyakan apakah ada yang membawa charger kepada teman-teman, namun teman-temanku seperti kompak, semuanya menggelengkan kepala.

Aku pulang dengan berlari, kebetulan tempat rapat malam itu dekat dengan rumahku, tanpa berpikir aku berlari hingga lupa dengan motorku yang masih tertinggal di lokasi. Alhasil akhirnya aku kembali lagi untuk mengambil motor. “Siiaaaaaaaaaaaaaal” rutukku.

Sialnya lagi pas sampai rumah, tenyata pintu sudah dikunci bapak. Sebenarya bisa ku ketuk pintu, memanggil bapak membukakannya, tapi rasanya tidak tega mengganggu bapak yang sudah beristirahat. Akhirnya kuputuskan untuk bermalam di basecamp pemuda yang letaknya sekitar 4 KM dari rumahku. Entah apa yang membuatku bahagia malam itu, meski bingung ingin memulai dari mana, tetap saja rasanya seperti kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan.

******
Pagi hari kembali menyapa. Hari itu hari minggu, kebetulan dia sedang libur kerja. Suara nada dering hape, kubuka ternyata ada WhatsApp darinya.
“Kak, bangun, gimana hari ini jadi pergi ndak??”
“Iya ini kakak sudah bangun, gimana ? Jemput?” Aku menawari.
“Iya kak, jemput di depan pasar ya”
“Oke”

Memang sejak semalam kita sudah janjian untuk pergi, bukan untuk jalan-jalan melainkan mengikuti kegiatan penyaluran air bersih ke tempat yang kekeringan, kebetulan aku berangkat sendirian, alhasil ada alasan untuk mengajaknya pergi.

Hari itu hari yang takkan pernah kulupakan.
Rasanya ingin tertawa bahagia. Apakah ini hanya rasa yang datang dan pergi, atau bagimana, sulit sekali untuk diugkapkan.

Hari demi hari aku lalui bersamanya. Terkadang membahas banyak hal, namun kadang juga tak ada pembahasan. Kami memang suka bercanda, dan berhasil membuatnya tersenyum sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.

Tiba minggu kedua, ia kembali menghubungiku
“ Kakak hari ini free kan?”
“Mau ngapain, Dek” balasku
“Hari ini wdek mau ke Pantai Parangtritis, Kak”

Kebetulan rumahku tidak jauh dari tepian pantai itu. Seketika aku lihat jadwal harianku, namun ternyata full kegiatan.

“Maaf ya, Dek. Pas itu Kakak full kegiatan”
“Owalah kakak emang orang sibuk ya” Ia membalas chatku dengan emot datar.

Aku merasa bersalah sekali, namun seperti peribahasa “Banyak jalan menuju Roma,” akupun mengatur kembali jadwalku hari itu, akhirnya aku bisa meluangkan waktuku yang sedikit untuknya hari itu jam 4 sore.

“ Maaf, Dek, Kakak nggak bisa datang” Sedikit berbohong karena hanya ingin membuat kejutan untuknya.
“Ya gapapa, Kak. Yang semangat ya, Kak!”
“Adek nanti sore ke pantai sama siapa?” Tanyaku penasaran
“Oh ini kak sama temen-temenku banyak kok” balasnya dengan santai
“Emm gitu ya, ya udah adek hati-hati ya, jaga diri baik-baik.”

*********

Detik demi detik, jam demi jam, aku selesaikan semua jadwalku dengan rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi. Dan akhirnya waktu itu tiba,
Dengan perasaan senang yang bercampur campur, selesai berkegiatan aku meluncur ke pantai. Aku sengaja tidak memberitahunya karena aku ingin memberinya kejutan.

Sasampainya di sana, “Ada kegiatan apa?” tanyaku pada salah satu temannya.
“Oh itu mas ada lagi ngerayain ulang tahun” Jawabnya.
“Siapa yang ulang tahun?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Hahahha, lihat aja sendiri, Mas” jawabnya sambil berlalu pergi.

Akupun dengan rasa penasaran, dari jauh kulihat ia memberikan kue ulang tahun kepada seorang laki-laki yang memang dikabarkan dekat denganya. Akupun duduk terdiam sejenak, dengan kondisi hati bak seperti ombak yang memecah karang. Aku mencoba menenangkan diri, dari rasa yang amburadul, tetap menahan emosi, karena aku sadar, aku bukan siap-siapa di matanya, tapi tetap saja tidak dapat membendung semua itu.

Aku kembali mencoba untuk melihatnya, tampak senyuman yang indah dan bahagia dari dirinya,
Akupun kembali perpaling dan berfikir ulang, etah kenapa, tapi itulah yang terjadi. Sudahlah, buat apa lagi, sudah selesai.
*********
“Pak kopinya ya, tanpa gula” Aku akhirnya memesan kopi.
“Ini, Mas” sambil menjulurkan secangkir kopi.
Perlahan lahan aku mengabil rokok yang ada di warung tepian pantai itu.
Secangkir kopi aku seruput dengan menikmati asap rokok yang penuh kenangan, serasa jiwaku kembali seutuhnya.

Setelah hati dan pikiran sedikit tenang
Akupun bergegas mengambil motorku yang terparkir. Dengan perasaan lega dan sedikit ada kekecewaan tapi itulah kenyataan yang aku hadapi. Roda berputar, angin sepoi-sepoi serasa kenikmatan menunggangi kuda besi menghilangkan apa yang telah terjadi.

Aku sampai di pertigaan dekat rumahku, ku berhenti sejenak untuk menyebrang, tiba-tiba truk melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam motorku yang berhenti di tengah jalan. Akupun terlempar jauh hingga membentur pembatas jalan. Sempat melihat kerumunan orang yang mengerumuni diriku sebelum akhirnya darah yang keluar dari kepala ku menutup kedua mataku. Tampak senyap gelap, senyumannya hadir kembali di saat kondisiku sedang sekarat, seakan akan membei isyarat padaku “Ayoo kak bangun kak”
Tapi apa daya tubuh ini sudah tak mampu lagi.
Ingin berusaha bangun ketika bayangan senyumnya itu hadir dalam bayangan gelap,
tapi ada rasa ingin menyerah ketika melihat ia bahagia dengan yang lain.
Di kondisi sekarat ku terdiam dan mencoba menenangkan keadaanku.

“Terkadang cinta memang tak harus memiliki, mememperhatikan, memahami dan mengikhlaskan juga salah satu cara mencintai seseorang, yang pada dasanya kebahagian adalah ending dari sekenario tuhan untuk hambanya yang ingin bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan” entah mengapa suara hati kecilku berkata seperti itu, seketika serasa tenang dan lega.

Hari hari yang lalu mungkin adalah kenikmatan dari tuhan yang belum aku syukuri, yang kali ini aku menyadarinya, kuterima takdir yang diberikan oleh Tuhan. Jika memang hari ini aku dipertemukan dengan tuhan Satu kata yang aku ingin ucapkan “TERIMAKASIH TUHAN” . Selesai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *