Betapa Indah Khidmahku (Cerpen)

  • Whatsapp

Betapa Indahnya Khidmahku
Karya : Nela Dwi Kusumawati (Gunungwungkal)

Aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak pernah tau siapa diriku dan apa kemampuanku. Aku lahir di wilayah pegunungan, daerah nan jauh dari keramaian kota. Sampai pada saatnya aku menemukan dunia baruku disaat aku keluar dari desa terpencilku itu. Aku melanjutkan proses belajarku di salah satu SMA favorit di kotaku. Jaraknya cukup jauh dari desaku sekitar 1 jam perjalanan menggunakan transportasi umum.

Keseharianku sama seperti anak-anak SMA pada umumnya. Pagi berangkat sekolah dan usai kegiatan pembelajaran akupun kembali pulang. Saat aku berada di bangku kelas X aku iri pada teman-temanku yang bisa dibilang sukses berorganisasi bersama kakak kelas. Tiap kali ada kakak kelas yang masuk kelas pasti yang dicari tiada lain adalah Nina dan Amir. Nina adalah anak baru sepertiku namun karna ada kakak kelas yang mengenalnya dengan baik dan mengetahui kemampuannya, akhirnya Ia bisa masuk OSIS dengan mudahnya. Selanjutnya Amir, Amir adalah anak yang terbilang pandai di kelasku, dan karna Ia merupakan keponakan dari Kepsek, ya wajarlah kalo dia gampang masuk dunia OSIS. Sekarang lihat aku.. Siapa aku?? Apa kemampuanku?? Aku hanya bisa iri pada mereka, aku juga bagian dari OSIS namun ruang gerakku tak seluas Amir dan Nina.

Dan yang perlu diketahui, Nina adalah orang yang dipilih oleh pihak SMA ku saat ada Sosialisasi Perdana IPNU IPPNU. Saat itu aku menjadi pengurus harian, tepatnya bendahara. Namun sayangnya ketika satu periode Nina berjalan tak ada yang berubah di SMA ku, OSIS masih berjalan sebagai mana biasanya dan IPNU IPPNU masih belum tercium baunya. Sampai selang satu tahun berikutnya, ada sosialisasi IPNU IPPNU lagi oleh PAC setempat. Dan saat itu kebetulan Nina dan Amir sedang ada persiapan lomba yang menyebabkan Nina selaku ketua IPPNU tidak dapat menemui pihak PAC tadi.

Alhasil aku dan Sherin terpaksa menemui tamu-tamu tersebut. Tujuan PAC tadi tak lain dan tak bukan adalah untuk mendirikan komisariat di SMA ku. Saat itu pembina kami Bapak Umam berhalangan hadir dan tidak dapat menemui tamu-tamu tersebut. Mereka hanya bisa bertemu sebagian kecil aktifis dari SMA kami dan tanpa diduga-duga aku dipilih menjadi Ketua IPPNU kala itu. Seorang Nanda jadi ketua??? Sesuatu yang tak pernah terbayang olehku. Jadi apa nantinya jika organisasi tersebut diketuai olehku?? Aku tak tau apa-apa!! Aku tak bisa apa-apa!! (Perang batinpun terjadi dalam diriku).

Karena bagaimanapun itu amanah yang diberikan padaku, aku terima amanah tersebut dan aku pasti bertanggung jawab. Di salah satu kesempatan, Bapak Susilo guru yang mengajarku pernah mengatakan, “anak seumuran kalian kok tidak tau kemampuannya sendiri, itu berarti idiot!” aku tercengang saat mencerna kata-kata itu. Dalam batinku aku tidak mau dianggap idiot tapi kenapa sampai saat ini aku belum tau kemampuanku?? Siapa aku??

Hari-hari berlalu dengan tetap aku memikirkan apa kemampuanku. Akupun seperti biasa menjalankan rutinitasku menjalankan tanggung jawabku di IPPNU. Aku tak pernah mau dan juga termotivasi untuk masuk dalam ranah IPPNU. Aku hanya terjebak dengan tanggung jawab yang mengikatku. Sampai pada akhirnya aku dituntut melakukan apa yg belum pernah aku lakukan, melakukan apa yang tidak suka aku lakukan dan masih banyak lagi. IPPNU serasa menjadi neraka bagiku kala itu. Aku hanya bisa sabar dan ikhlas menghadapi segala halangan dan rintangan yang ada. Hingga keikhlasanku itulah yang melahirkan keikhlasan berkhidmah dalam diriku.

DARI IPPNU AKU DITUNTUT UNTUK MENJADI YANG TERDEPAN
DARI IPPNU AKU DITUNTUT HARUS KELUAR DARI ZONA NYAMANKU
DARI IPPNU AKU DITUNTUT HARUS BISA BERBICARA DI DEPAN UMUM

Desakan macam apa itu??
Semua berawal dari desakan yang pada akhirnya melahirkan segudang manfaat dan keberkahan tiada akhir.
‘Barang siapa menanam pasti akan menuai.’ Sekarang aku sudah merasakan banyak sekali manfaat berIPPNU. Aku sekarang tau apa kemampuanku, apa pashion ku dari IPPNU. Disadari tidak disadari itulah yang terjadi. Aku mampu menjadi seorang pemimpin, aku mampu berbicara di depan umum, aku suka berbicara, dan banyak lagi yang kudapatkan dari IPPNU yang penuh berkah itu.

Keniscayaan bahwa seorang pemimpin akan menderita telah mengantarkanku pada kesuksesanku. My world my organization.
Aku sangat bersyukur, aku termasuk orang yang terpilih, orang yang mendapat hidayah dariNya untuk mengabdikan diri di IPPNU. Dan janjiku pada diriku, aku akan selalu ada untuk Nahdlatul Ulama tercinta.

Ternyata IPPNU yang dahulu menjadi neraka bagiku sekarang menjadi surga tiada akhir bagi diriku. Keberkahan mengalir disetiap langkahku. Sampai saat ini seorang Nanda yang dulunya tidak tau potensinya, yang tidak tau siapa dirinya, kini telah menjadi seorang pengusaha sukses. Cabang bisnisnya ada dimana-mana. Ia juga berhasil mendirikan salah satu pondok pesantren entrepreneur di salah satu kota di Jawa Timur. Masih ragukah untuk bergabung dengan IPPNU??

SEKIAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *