Re-aktualisasi Organisasi, Meneguhkan Militansi-Membaca Kembali Arah Gerak Organisasi

  • Whatsapp

Sebagai organisasi yang cukup panjang nafas dan usia gerakanya, IPNU mesti membaca kembali pengaruh, kontribusi serta peran kita pada realitas sebenarnya, jangan sampai apa yang selama ini kita lakukan justru tidak berdamapak. Paradigma kita yang transformatif tetapi tidak melahirkan ruang gerak yang transformatif bagi lingkungan kita, yang justru merasakan transformasinya hanya pada anggota dan kader secara kapasitas, selebihnya diluar hanya sebatas mengetahui hiruk-pikuk dan cara euforia kita menjalankan aktivitas organisasi. Apakah mungkin dalam keadaan masyarakat yang serba menampakkan eksistensi organisasi berjalan hanya membantuk dan meningkatkan dirinya sendiri, kalau pun diharuskan untuk menambal ketertinggalan dengan memperbaiki internal organisasi, lantas mulai dari mana kita mengekspansikan gagasan-gagasan maju dari organisasi yang berdampak bagi masyarakat luas. Dua pertanyaan yang hari ini mesti dijawab secara prinsipil bagi kita sebagai kader IPNU.

Maka tidak ada sesuatu yang bermula dari ruang hampa, sejauh apapun langkah yang ditempuh mesti bermula dari pijakan langkah pertama. Begitu pun dengan IPNU per hari ini, organisasi pengkaderan janjang pertama NU ini adalah sesuatu yang indegenius dan otentik. Gagasan untuk mengitegrasikan potensi produktif NU disegala sector ini bermula setelah beberapa aktivis muda NU seperti M Syufyan Cholil (Yogyakarta), H. Mustahal (Solo), dan Abdul Ghoni Farida (Semarang) berhasil mengkonsolidasikan organisasi-organisasi NU yang berlatar belakang sama dan sebelumnya sudah berkembang pada tahun-tahun sebelumnya seperti pada tanggal 11 Oktober 1936 di Surabaya ada Tsamrotul Mustafidin (Tunas Muda NU), tahun 1939 lahir Persatoean Santri NO (PERSANO). Tahun 1941 di Malang terbentuk Persatoean Murid NO (PAMNO), tahun 1945 muncul juga Ikatan Moerid NO. Sedang di Madura lahir juga Ijtima-uth Tholabiyah (Persatuan Siswa). Tepat 1946 Ijtimaut Tholabah NO (ITNO) di Sumbawa. Sementara tahun 1953 di Kediri, lahirlah Persatuan Pelajar NO (PERPENO), dan di Medan tahun 1954 terdapat IPINO (Ikatan Pelajar NO) dan IPENO).
Setelah mampu mengintegrasikan perkumpulan tersebut menjadi satu pembahasan pokok pada Konfrensi Besar Ma’arif NU pada tanggal 24 Februari 1954 di Semarang, dan dikenang sampai sekarang menjadi hari lahir dari IPNU. Konsolidasi organisasi tidak berhenti sampai disitu, aktivis-aktivis muda NU terus berikhtiar menyusun pembahasan terkait bentuk dan model oragnisasi akhirnya tepat di Solo pada tanggal 30 April-1 Mei 1954 mereka sepakat menggalang satu komitte gerakan yang kita kenal menjadi “Konfrensi Segi Lima”, “segi-lima” ini dilandasi karna 5 daerah penyangga pada saat awal mula berdirinya IPNU meliputi Yogyakarta, Solo, Kediri, Semarang, dan Jombang.

Konfrensi ini bukan hanya penting dalam melakukan konsolidasi internal organisasi, tapi juga penting dalam melahirkan aspek-aspek fundamental bagi arah gerak IPNU kedepanya, selain memutuskan untun menetapkan Tholchah Mansoer sebagai Ketua Umum pertama, juga melandasi asas-asas Organisasi berlandaskan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah An-Nahdlyyah. Praktis sejak konfrensi ini IPNU lah satu-satu oragnisasi berlatar belakang NU yang mampu konsen dalam hal pengetahuan sebagai penguatan ideologi di dalam lingkaran NU, IPNU pun satu-satunya organisasi yang mampu mengkonsolidasikan kekuatan produktif di NU dengan berbagai latar belakang; Santri, Pelajar, dan Mahasiswa.

Kenapa assabiquunal awwalun (sebutan bagi tiga perintis IPNU, M Syufyan Cholil, H. Mustahal, dan Abdul Ghoni Farida) ini mampu mengerakan elemen produktif NU, tidak lain karna mereka aktual dalam membaca semangat zaman selain itu meraka terdidik secara pengetahuan dan gerakan. Kesadaran ideology menguat agar mampu membuat suatu gelombang besar yang manfaatnya dirasakan sampai hari ini, seandainya meraka hari ini masih hidup, akan sanggat berbunga hati, ikhtiarnya membentuk IPNU berpengaruh luar biasa bagi perjalanan Nahdlatul Ulama, bisa kita amati dalam perjalanan Nahdlatul Ulama, hampir semua sosok-sosok yang berpengaruh di NU, pernah merasakan, ditempa, bersentuhan dengan organisasi IPNU.

Yang aktual melalui pendekatan sejarah
Prihal ini saya letakan historical aproach (pendekatan sejarah) sebagai satu refleksi, kesadaran kita terlibat dalam aktivisme organisasi di IPNU paling penting ialah bagaimana kita merespon setiap peristiwa yang terlampau kebelakang itu sebagai satu kekuatan untuk mendorong kesadaran progresif, maka dalam setiap kader bukan nilai pragmatis yang muncu begitu saja dari realitas organisasi, ia adalah keberlanjutan nilai dari satu generasi kebelakang menuju generasi mendatang, capaian-capaian apa yang pada masa lalu sudah terjadi bukan kita mengulanginya lagi, sebab yang aktual dari sejarah ialah gambaran besar sebagai praksis analitik untuk menyiapkan sumber daya bagi generasi mendatang. Kalau kita sebagai aktor organisasi gagal menangkap esesnsi masa lalu, tentu bayangkan kegagalan nampak lebih jelas dari pada menawarkan satu narasi kemajuan serta kebutuhan praksis untuk menjawab tantangan zaman yang kian pesat.
Jadi aktual adalah kunci, sebab tidak ada gagasan besar lahir dari situasi pemikiran terbelakang. Mengutip perkatan dari Nabi Ibrahim As “Alal insan an yakuna ‘arifan bizamanih’’, (manusia itu semestinya mengetahui kondisi dan situasi zamanya). Terang bukan atas perkataan tersebut bahwa kita mesti mengetahui, menguasai, dan mengoptimalkan akan keadaan dan situasi yang kita hadapi, tentu tidak jauh berbeda dengan organisasi, mesti dinamis serta aktual dalam menyusun, menata, dan mengembangkan agenda programatiknya. Aktual bukan berarti merespon segala fenomena yang muncul pada problematika sosial dan kebangsaan tanpa menyajikan perspektif yang relevan sebagai problem solving serta senantiasa konsisten pada issue-issue strategis tertentu. Atau mampu menampilkan banyak perubahan yang an-sich di internal organisasi, dan secara bertahap membangun konsolidasi eksternal agar secara bersama-sama bisa menciptakan perubahan pada skala yang lebih luas.

Aktual juga membuktikan bahwa kerja-kerja transformasi organisasi terus berlangsung. Berada pada situasi aktual bukan sesuatu yang mudah apabila tidak dilakukan secara terukur dengan displin organisasi yang kuat. Ada banyak perkumpulan/organisasi layu sebelum berkembang meski dengan resources memadai justru hanya berkutat di lingkaran sendiri, agenda-agendanya terbelakang, gagap atas perkembangan situasi, terseok-seok lantaran persoalan teknis dan internal para anggotanya mundur teratur hingga berujung hilang ditelan zaman. Persoalannya bukan hanya terletak pada ketidak-matangan dalam mengelola manajemen organisasi. Tentu kita tahu bahwa kebalikan dari aktual ialah berjalan stagnan, bergantung pada pihak luar, minimnya pembaharuan, atau tidak mampu mengambil peran strategis sehingga membuat sempitnya akses bagi eksistensi organisasi tapi hal yang paling nyata ialah meraka tidak mampu menampilkan sesuatu secara aktual.

Maka re-aktualisasi ialah mengoptimalkan capaian atas apa yang dilakukan generasi sebelumnya sembari terus melakukan kajian dan peningkatan kapasitas untuk mengupayakan inovasi-inovasi pada beberapa hal yang dianggap mampu dilaksankan. Selain menjadi eksistensi serta satu kesepakatan bersama, re-aktualisasi ialah komitmen secara kolektif untuk mendorong perubahan organisasi yang bersandar atas kesadaran kuat bagi setiap Anggota dan Kadernya.

Bukankah ada banyak tantangan yang muncul di muka publik?, secara garis besar bisa kita memetakan lebih gamblang dari yang material-praksis sampai ideologis-praksis, tentu yang pertama sudah tidak bisa ditolak dalam narasi ekonomi-politik bahwa arus globalisasi menjamah segala sector, neo-liberalisme mewujud sebagai pasar yang tidak hanya membuat jurang ketimpangan, kemiskinan serta kerusakan lingkungan. Yang genap dewasa ini kita jumpai akan adanya agenda-Revolusi Indrustri 4.0, hal ini lebih jelas pada level praksis dengan menyerap relasi kerja agar mampu mengoptimalkan ‘Digitalisasi dan Otomatisasi’. Di satu sisi perubahan zaman serba haitg-tech apa yang organisasi ini siapkan secara basis material pada setiap anggota dan kadernya baik secara prespektif maupun peran, sudahkah menguasai ruang public ‘milenial’ dengan kecakapan soft-skill, kematangan literatur. Atau lebih sederhanaya bagaimana indikator kemajuan dan peningkatan kapasitas Kader dan Anggota kita dalam merespon hal-hal tersebut.
Militansi Ber-IPNU peneguhan ideologi dan identitas NU.

Rekan-rekan sekalian, meminjam perkataan Bung Karno “warisilah api jangan abunya” artinya di awal sudah saya sampaikan bahwa re-aktualisasi ialah mewariskan api semangat perubahan bukan abu sisa-sisa ketertinggalan zaman, aktual menjadi kunci bagi gerakan-gerakan Kader-kader IPNU kedepanya, tentu sudah jelas bukan bahwa ada mekanisme tersendiri dalam rangkaian suatu proses serta paradigm transformatifnya IPNU, biasa kita mengenalnya sebagai fase “survive”, atau keberlanjutan ideologi sebagai nilai identitas NU maka berIPNU ialah kehendak transisi dari Jama’ah ke Jam’iyyah, bermula dari identitas kultural menjadi identitas struktural. Setidaknya definisi akan kebangkitan bisa bermula dari sini, mulai dari individu bias identitas dan ideologi menjadi peneguh, penggerak sampai katalisator perubahan NU di masa mendatang.

Sangat tepat apabila energi aktivisme itu menopang ikhtiar kita agar tetap berada di garis perjuangan, keterlibatan kita dalam kerja-kerja organisasi adalah keberlanjutan atas gagasan yang selama ini terbangun, suatu waktu kadang kau merasa sendiri hanya dipandu oleh pikiran dan tekad, tapi tidak boleh bergeming, ingat penderitaan dan pengorbanan yang dirasakan dalam proses tersebut, bagaimana ragamnya kesusahan itu menguji militansi kita supaya teguh dengan pilihan sederhana antara bertahan atau mundur, ingat juga banyak anggota-anggota yang ingin bertansformasi menjadi kader sehingga turut menitipkan semangat juang kemudian belajar berkorban atas segala daya juang itu, apa kita akan menelantarkan begitu saja.

Sekecil apapun celah kesempatan itu muncul yang boleh kita kerjakan hanya satu: terus bergerak maju melanjutkan segala hal yang belum terwujud. Ini jalan yang kita pilih hitungan susah senangnya adalah percakapan sehari-hari, maka latihlah nalar dan jiwa aktivisme disatu sisi dengan penguatan metode-teknik, teori-praksis, menata kontak jejaring, mebangun disiplin organisasi serta mempertajam pembacaan situasi.

Terlebih dalam ikhtiar perjuangan, terpenting ialah membangun nilai dan kemanusian, maka moral menjadi sesuatu yang saat fundamen di lapangan, setidaknya sebagai tempaan atas sikap dan prinsip agar kita mampu menyerap keteladanan. Selain dari pada itu, yang harus diyakini ialah bahwa kita sebenarnya tidak melakukan apa-apa, jangan beranggapan bahwa kita adalah kunci atas keterlibatan banyak orang tentang arah suatu gerakan organisasi, tidak!! kita hanya percaya bahwa semakin banyak bergerak secara kolektif maka kualitas pribadi-pribadi akan lebih baik secara peranan ada nilai lebih dalam pengalaman dan keahlian disitulah segalanya akan terukur, setidaknya kita hanya mengerjakan sesuatu sebisa mungkin jangan memaksakan kehendak. Agar ada peningkatan kapasitas, agar semakin panjang harapan dan nafas dalam berjuang.

Seperti kata Ernesto Che Guevara “Sentralisasi tanpa kehilangan inisiatif, desentralisasi tanpa kehilangan kendali”. Begitulah, kiranya kita mesti membuat pembacaan ulang atas kerja-kerja organisasi yang selama ini kita kerjakan. Ingat setiap Kader adalah “Anak Zaman”, kita tidak boleh membangun patronase dan klientilisme tapi bentuklah kesadaran sebagai nilai. Organisasi bukan sebatas kontribusi, peran, serta penguatan struktural, bukan pula sebatas aktualisasi teori dan praksis gerakan tapi lebih luasnya bisa diartikulasikan suatu pengabdian, soliditas dan kebersamaan. Semakin tinggi posisi dan ekspansi gerakan kita, maka harus semakin telaten turun ke bawah, guna mendorong banyak hal sembari menciptakan kenyataan-kenyataan baru. Tanpa adanya ruang dialog yang berpijak menjadi satu nafas perjuangan maka sulit satu komponen organisasi bisa menjadi ruang proses dan penempaan ideologi. Ingat bersama rekan-rekan dibawahlah tempat kita menjaga semangat dan bersemanyamnya idealisme.

Segala uraian di atas sederhanya adalah bentangan refleksi bahwa bahwa kerja-kerja organisasi yang aktual mesti dibangun dengan diskursus panjang sembari mempersiapkan perangkat analisis lapangan yang tajam disertai pengetahuan sebagai alat perjuangan, setidaknya mesti terdapat pergesaran arah gerak kita dari yang seremonial menjadi esensial, dari taktis menjadi strategis, dari statis menuju progresif. Kecuali kita masih terjebak dan beranggapan bahwa prestasi yang tercapai hari ini muncul begitu saja tanpa keterkaitan dengan generasi sebelumnya, asumsi yang demikian bukan saja memutus serangkaian nilai tapi juga bukti bahwa kita tidak lagi aktual dalam mengelola tanggung jawab dan menjalankan amanah organisasi.

Hasan Malawi
Ketua Organisasi PP IPNU.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. mantap Gus Hasan, semoga kedepan, IPNU menjadi Organisasi yang lebih maju dan lebih optimal dalam membina kader-kadernya guna menciptakan kader militan dan unggul yang berlandaskan aqidah ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah
    Semoga sehat selalu Gus.