Berkah Jadi Kader (Cerpen)

  • Whatsapp

Berkah Jadi Kader (Cerpen)
Oleh: Desy Fitri Yanti

Gempa dahsyat kembali mengguncang wilayah Tanah Air, Jumat, 28 September 2018. Gempa magnitudo 7,4 yang diikuti tsunami dahsyat membuat sebagian wilayah Palu dan Donggala rata dengan tanah.

Berita yang nampak dalam layar televisiku, Sebuah bencana yang meluluh lantakkan kota Palu dan sekitarnya, memakan banyak korban jiwa. Rumah, bangunan, sekolah semua roboh tanpa sisa sedikitpun. Seketika seluruh media baik media cetak maupun media elektronik digemparkan dengan berita yang masih panas baru-baru ini.

Mataku terfokus kepada berita kala itu. Tiba-tiba ponsel berdering dan mengalihkan pandanganku “klunting” terlihat pesan whatssap dilayar ponselku “PAC IPNU IPPNU.” Grup lagi dan lagi. Gumamku. Terpapar di layar ponsel pesan terupdate dari IPNU IPPNU mengenai berita yang sama seperti di televisi tadi. Yang mana mereka akan mengadakan program Peduli Sesama dalam rangka penggalangan dana untuk Palu. Dalam waktu yang bersamaan masuk sebuah pesan
“Dek, besok bisa ikut acara yang sudah dishare di grup”
“Insyaallah bisa kak”
“Jangan lupa temannya pada diajak biar rame ya!”
Kak Juna, salah satu senior IPNU Seorang yang menampung seluruh aduan-aduanku kala pertama kali bergabung dalam organisasi kece ini.

Tanpa pikir panjang, ku cari laman pencarian Whatssap “PR IPNU IPPNU” dengan gerakan lincah tanganku mulai berlari kesana dan kemari.

“Assalamualaikum rekan rekanita besok hari Jum’at pukul 08.00 WIB akan diadakan penggalangan dana untuk Gempa Palu bersama PAC, bertempat di Pasar Raya. Mohon kehadiran untuk rekan-rekanita ya.”
Terpaut beberapa detik, respon mereka luar biasa

“Asyiiiiaaaappp”
“Mangkat ayo mangkat”
“Ayo ngader”
“Asyik ngumpul”

Apapun gaya mereka disatukan dalam satu wadah. Bak es buah yang lengkap bersama komponennya. Hari begitu cepat berganti esok.

******
Sesuai rencana kemarin hari ini penggalangan dana. Bersih-bersih, mandi, sarapan lalu memakai seragam kebanggaan PDH “Pakaian Dinas Harian” dengan simbol IPPNU di lengan kiri.
“Klunting” terpapar di layar handphone “Kak Juna IPNU”
“Dek, temenya udah diinfo? Gimana bisa hadir kan?”
“Bisa, kak! Aasyiiiiiaaaappp katanya. Ini aku juga mau berangkat”
“Oke, jangan lupa izin orang tua, hati-hati kakak tunggu di sana”

Pesan yang tak pernah terlewatkan. Masih teringat betul pesan yang sama oleh seorang Instruktur semasa aku MAKESTA ia berkata:
“Dimanapun kita ngader dan jadi kader, orang tua nomor satu”
“Mau kemana, Za?”
“Izin mau ngader, Bu. Hari ini ada penggalangan dana untuk korban gempa di Palu”
“Ooo ngIPNU. Kalau gitu ibu kasih izin, hati-hati ya”
“Assalamualaikum bu”
“Waalaikumussalam”

Wusssssss akupun melesat jauh menuju Pasar Raya. Rupanya rekan rekanita telah ramai di sana. Dimulailah acara dengan doa bersama semoga apapun yang dilakukan berkah selalu. Lantas ketua PAC mengatur stategi membagi kelompok diberbagai sudut pasar ini.

Dibentuklah beberapa kelompok. Perkelompok berjumlah 5 orang. Masing-masing kelompok ditugaskan di setiap sudut Pasar Raya. Kebetulan kelompokku ditugaskan di bagian depan pasar dekat jalan raya. Bagiku ini tantangan besar, menghadapi beberapa penjual dan pembeli dengan karakter yang berbeda. Sebagai kader tentunya nggak boleh “keder” alias minder atau takut.

Paparan senyum serta ramah tamah kunci segalanya. Kami menghampiri setiap pedagang dan pembeli di pasar dan mulai menyapa “Assalamualaikum kami dari IPNU IPPNU mengadakan penggalangan dana untuk korban gempa di Palu. Mohon bantuan seikhlasnya untuk membantu sahabat kita.”

Kami ulangi terus menerus kepada setiap orang yang berlalu lalang. Setiap orang dari kami sambil menengadahkan kardus bertempel kata “Peduli Palu, Sigi dan Donggala bersama IPNU IPPNU”. Beberapa respon kami terima. Termasuk respon negatif bahkan mencemooh keberadaan kami. Entah dibilang nyari untung, cuma gaya-gayaan, bahkan ada yang bilang hanya untuk eksistensi belaka.

Seribu, 2 ribu alhamdulillah terkumpul walau pecahan 5 ribu ataupun 10 ribu hanya terlihat beberapa lembar saja dalam kardus kami. Hingga pada akhirnya kami bertemu seorang bapak pedagang buah. Saat kami mengulurkan kardus Keluarlah 10 ribu dari kantongnya. Tampaknya beliau tau keberadaan kita di Pasar Raya ini. Beliau tersenyum lantas bertanya
“Dari mana, Dek”
“Kami dari kader IPNU IPPNU, Pak” jawabku
“IPNU IPPNU? Ee sebentar” beliau membuka tas dan mengeluarkan uang 50 ribu. “Nah ini”
“Lho, Pak tadi kan sudah?”
“Nggak apa-apa. Bapak dulu pernah jadi kader IPNU tapi cuma ikut-ikutan. Nah adek-adek yang serius ya, karena banyak ilmu di sana. Doain bapak biar sehat selalu diberi umur panjang dan bisa berjumpa lagi dengan adek-adek”
“Aamiiinn semoga menjadi amal berkah bapak.Terimakasih banyak, Pak.”
“Salam 3B” sahut bapaknya.
“Belajar, Berjuang, Bertaqwa” sahut kami bersamaan lantas tertawa bersama.

Subhanallah. Apapun niat yang baik pasti ada balasan yang baik pula. Sekitar Pukul 11:00 WIB kami berkumpul kembali, menghitung seluruh penggalangan dana hari ini. Alhamdulillah terkumpul kurang lebih 1 juta setengah. Bagiku Sungguh pengalaman yang luar biasa bersama kader-kader hebat. Inilah berkah menjadi kader. Pertama,aku mendapat izin keluar oleh ibu karena tujuanku bersama IPNU IPPNU. Kedua, bertemu seorang pedagang dengan 60 ribu yang sangat berharga, beliau bangga melihat para anak muda yang masih ingin berkiprah bersama IPNU IPPNU. Karena berIPNU-IPPNU itu Asssyyyiiiiiiikkkkk.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *