Kabut Harapan di Ujung Rindu (Cerpen)

  • Whatsapp

Kabut Harapan di Ujung Rindu
Oleh Ulfiailma (Trangkil)

Semburat langit kebiruan sudah mulai tampak menyongsong pagi yang mulai menuai harapan. Langit merah muda pagi itu tampak indah. Usai sholat subuh, gadis muda berusia delapan belas tahun mulai membantu maknya untuk membersihkan rumah sebelum ia bersiap untuk berangkat sekolah . Lena namanya. Gadis ini selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk selalu taat beribadah kepada sang pemberi hidup dan kehidupan.
Lampu-lampu rumah mulai dipadamkan. Sudah tampak cahaya matahari mengintip di balik dedaunan. Tetapi ujung barat masih tetap saja hitam, karena belum terjangkau oleh sinar sang surya pagi itu. Lena meraih gagang sapu untuk membersihkan setiap bilik rumahnya. Gadis yang rajin. Sementara itu adik lelaki bungsunya masih saja tertidur lelap melanjutkan mimpinya usai melaksanakan sholat subuh. Bapak Lena sudah berangkat sejak petang tadi ke sawah mencari penghidupan untuk esok hari yang tidak menentu.
Usai membersihkan lantai, Lena langsung menuju kamar mandi untuk mencuci baju kotor seluruh anggota keluarganya. Hal yang sudah biasa dilakukan Lena. Maknya masih sibuk dengan nasi yang dikukus di atas tungku dengan bara api yang mengebul mengeluarkan asap. Sampai jam enam pun nasi belum matang untuk sarapan Lena dan adiknya.
“Adikmu belum juga bangun Len?” tanya Emak dari sudut dapur.
“Belum Mak” jawab Lena singkat.

Jam dinding sudah menunjukkan ke angka enam dan dua belas. Itu artinya harus bersiap-siap menuju ke sekolah untuk membangun mimpi yang telah ia rangkai sedemikian rupa. Mandi dan mempersiapkan diri. Namun, adik bungsu Lena belum juga terbangun untuk mewujudkan semua mimpinya.
“Le.. bangun, kamu sekolah atau nggak?” tanya Lena seusai mandi dan berganti pakaian ke sekolah.
“Jam berapa Mbak?”
“Setengah tujuh”
Matanya membelalak seketika karena kaget. Sudah jam setengah tujuh namun ia belum juga mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

“Setengah tujuh? Serius mbak? Nggak bercanda kan?”
“Udah tidur aja lagi sampai jam sepuluh atau nggak usah bangun sekalian” bentak Lena dari pintu kamar adik bungsunya.
“Assalamualaikum Mak” salam Lena kepada Emaknya untuk pamit menuju ke sekolah.
“Walaikumsalam Len, hati-hati ya. Belajar yang rajin di sekolah!” Lena menimpalinya dengan senyum bahagia. Senyum dari Emaknya pagi itu yang membuatnya lebih bersemangat.

Lena memang terlahir dari keluarga yang kurang mampu, namun ia tetap mensyukuri keadaannya. Ia masih bisa sekolah berkat beasiswa pendidikan yang diberikan sekolah kepadanya. Jika tidak begitu ia mungkin sudah putus sekolah semenjak MTs. Beruntung, masih ada orang baik yang mau membantu biaya pendidikannya.
Orang tuanya bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, dan terkadang itupun masih tak cukup untuk makan sekeluarga. Di rumah, Lena tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik laki-lakinya yang berusia sebelas tahun, dan masih duduk di bangku kelas 5 SD. Beda sifat dan watak antara Lena dan adiknya. Adiknya sangat pemalas.
Ia menaiki sepeda bututnya menuju ke sekolah. Tak jauh jauh jarak yang ia tempuh supaya sampai ke ladang ilmu untuk dituainya. Sekitar satu kilometer dari rumahnya. Jika tidak ada sepeda mungkin ia harus berangkat lebih pagi lagi untuk sampai ke sekolah dengan tidak terlambat.

“Len ikut aku yuk nanti siang!” pinta Syifa kepada Lena
“Kemana?” tanya Lena memastikan
“Udah pokoknya ikut aja” ujar Syifa
“Tapi aku kan harus pulang dulu ke rumah, kalo ndak gitu ntar emakku nyariin”
“Yaudah, kamu nanti pulang dulu nanti aku jemput ke rumah kamu”
“Ok” jawab Lena menyetujui permintaan Syifa.
*****

Matahari sudah mulai meredupkan sinar-sinar panasnya. Ia mulai mencondongkan diri ke arah Barat. Untuk mulai kembali ke ruang yang gelap.

“Kita mau kemana sih, Syif?” tanya Lena
“Udah ikut aja, yang pasti kegiatan ini bermanfaat” jawab Syifa meyakinkan Lena

Sampai di lokasi, Lena masih bingung dengan Syifa yang mengajaknya tanpa memberitahunya ini kegiatan apa. Tertulis di depan nama kegiatan dengan tema “Perempuan dan Feminisme di Indonesia” yang diadakan oleh sebuah organisasi pelajar di tingkat kecamatannya yang bernama IPPNU.

“Syif” senggol Lena kepada Syifa menggunakan sikut lengannya.
“Hmmmm”
“IPPNU itu apa sih Syif?” tanyanya lagi.
“IPPNU itu singkatan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama”
“Ooooooooo” mulutnya mengerucut dan membulat pertanda mengerti.

Seusai acara, Lena dan Syifa langsung menemui narasumber untuk bertanya tanya lebih dalam mengenai hal-hal yang belum diketahuinya. Banyak pengalaman dan juga pengetahuan baru yang dapat mereka berdua petik dari acara tersebut.
“Jadi, seorang perempuan harus memperjuangkan hak-hak yang ia punya. Perempuan itu bisa kok menjadi pemimpin. Perempuan itu bisa kok menjadi orang nomor satu. Jadi menjadi perempuan tidak harus berdiam diri di rumah untuk selalu patuh pada laki-laki di rumahnya. Seorang perempuan harus mempunyai cita cita tinggi.”
“Btw kalian masih sekolah?”
“Masih, Kak” Jawab mereka berdua kompak
“Kelas berapa?”
“Dua belas”
“Oh, sebentar lagi mau lulus, setelah itu mau ngelanjutin kemana? Kuliah? Mondok? Atau mau menikah saja? hehehehehe” tanya Kak Ami sang narasumber sambil nyengir.
“Kuliah, Kak” Syifa menjawab dengan semangat
“Kalo kamu, Dek?” tanya Kak Ami kepada Lena.
Ia hanya mampu menggeleng lemah. Karena ia tak mungkin dapat mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Yang ia tahu untuk masuk ke perguruan Tinggi saja harus mengeluarkan uang berjuta-juta. Sedangkan bapak dan emaknya, ratusan ribu pun kadang tak punya.
“Lhoo kenapa?” Tanya Kak Ami lebih lanjut.
Kak Ami merupakan salah satu Dosen di Perguruan Tinggi Swasta di kota Semarang, yang juga merupakan aktivis feminisme dan alumni dari IPPNU.
“Ndak ada biaya kak jawab Lena” ia menunduk.
“Eh iya nama kamu siapa?”
“Lena, Kak”
“Len, kamu tidak perlu khawatir masalah biaya di Perguruan Tinggi nanti, di sana nanti akan ada banyak beasiswa yang bisa kamu dapatkan. Buktinya adalah saya. Saya sekolah S2 saya gratis berkat beasiswa yang saya raih. Nanti hubungi saya saja, saya akan bantu kamu semampu saya. Ini nomer hp saya. Hubungi kapanpun ketika kamu butuh atau mau berkonsultasi dengan saya. Saya pamit dulu hari ini, karena jadwal lain sudah menunggu dan harus kembali ke Semarang” pamit Kak Ami kepada mereka berdua, yang kemudian ia juga berpamitan kepada panitia acara yang masih membersihkan lokasi seminar tadi.
*******
“Kamu mau gabung IPPNU nggak, Len?” tanya Syifa membuka percakapan.
“Mau Syif, mau!!!!” jawabnya bersemangat
“Kalo ada kegiatan seperti ini ajak aku ya Syif” pintanya.
“Siap, bersedia. Pokoknya aku selalu siap untuk kamu, kapan aja hahaha” jawabnya.
“Oh iya, kalo kamu mau ikut IPPNU kamu harus ikut makesta dulu” tutur syifa
“Makesta itu apa sih, Syif?”
“Makesta itu masa kesetiaan anggota, jadi itu merupakan gerbang awal untuk menjadi anggota IPPNU”
“Oh iya? Kapan ada Makesta?”
“Liburan semester ini kayaknya ada Len, di desa kita tercinta ini” jelas Syifa.
“Yaudah aku mau ikut” ujarnya bersemangat.
******
Liburan bulan Desember tiba. Lena mengikuti Makesta yang diadakan oleh Pimpinan Ranting IPNU IPPNU di desanya. Di sini ia belajar dengan penuh semangat untuk memperoleh ilmu baru dari para narasumber yang dihadirkan. Setiap penjelasan dari narasumber ia perhatikan dengan seksama. Di sini juga ada Syifa, tetapi Syifa bukan sebagai peserta ataupun narasumber, ia sebagai salah satu jajaran panitia yang mengadakan acara Makesta tersebut.
“Syif, kalo ada makesta lagi aku mau ikut” Pinta Lena kepada Syifa yang sudah lebih lama berada di organisasi ini.
“Ya jangan Makesta terus to Len, yang lebih tinggi ada namanya Lakmud”
“Lakmud nanti kayak gimana?”
“Seperti ini, tapi lebih seru lagi, dengan narasumber yang tambah keren pokoknya” Syifa menjelaskan.
“Wah mau mau”
“Kalo ada nanti mau ikut.”

*******
Makesta telah usai, saatnya kembali ke tempat singgah yang paling nyaman, walaupun tidak mewah. Begitulah Lena. Rumah adalah tempat yang paling indah baginya untuk merajut mimpi di keluarga ini. Sampai di rumah pandangan sinis emaknya menatap tajam kepada Lena.
Darimana saja kau, Len? tanya Emaknya sepulang dari acara Makesta. Lena masih menunduk, belum menjawab, tas ransel masih menggantung di punggungnya. Ia langsung memasuki kamarnya untuk membersihkan diri dan mandi. Kesal setengah mati dicuekin Lena begitu saja. Bukan apa-apa, tetapi firasat Lena mungkin ada benarnya, bahwa ia akan disidang oleh kedua orang tuanya malam ini.
*******
Matahari kembali ke peraduannya. Elok warna jingga menyelimuti ujung barat langit yang memancar jua ke daratan di halaman rumahnya. Indah bukan? Cahayanya merasuk ke celah-celah bilik kamar Marlena. Setelah ia benar-benar hilang di ujung barat, adzan maghrib berkumandang syahdu. Pertanda panggilan sholat bagi umat Islam.
Lena segera mengambil air wudhu di belakang lalu menunaikan sholat maghrib. Khusyu’ ia menjalankannya, dan berdoa kepada Sang Kuasa untuk diberikan kekuatan, kesehatan dan kelancaran segala urusannya.
“Lenaaa…” Panggil bapaknya dari ruang keluarga yang berada tepat di depan pintu masuk rumah sederhana ini.
” Dalem, Pak” jawab Lena agak merinding, karena ia sudah merasa bahwa ia akan memperoleh nasehat banyak dari kedua orang tuanya. Ia membuka pintu kamarnya dan menuju ruangan di mana bapak dan Emak menunggunya.
“Dari mana saja kamu sejak kemarin, hingga tak pulang” Tanya bapaknya.
“Anu pak..”
“Jawab yang jujur!” Bentak Bapaknya yang memang selalu tegas kepada anak-anaknya.
“Ikut kegiatan Makesta, Pak” jawab Lena spontan dan masih menundukkan wajahnya.

“Kalau mau ikut acara itu pamit dulu sama Emak atau Bapak, Nduk Cah Ayu” Emak menimpali dengan halus dan membelai rambut pendeknya yang berkuncir di belakang.
“Nggih, Mak. Lena minta maaf sama mak sama bapak. Karena kemarin mau berangkat tidak ada orang sama sekali” Suara Lena merendah dan bersimpuh di hadapan Emak dan juga Bapaknya untuk meminta maaf atas kesalahannya.
“Kalo mau pergi pamit dulu. Besok ulangi lagi ya, Len” suara Bapak walaupun terdengar rendah tapi sangat menyayat hatinya. Lena menggeleng pelan dan tetap menunduk.
“Ya sudah, kamu belajar sana Len, jangan lupa sebentar lagi Ujian Nasional” Emak mengingatkan.
*******
April Dua Ribu Enam Belas. Ujian Nasional telah usai berikut ujian-ujian lain sebagai ujian akhir di sekolah. Hari minggu, hari wisuda Madrasah Aliyah. Senang hati perasaannya bisa diwisuda hingga lulus Aliyah. Padahal dahulu ia hendak melanjutkan saja bimbang. Tak lupa, ia berterimakasih kepada pemilik yayasan yang telah membebaskan biaya bulanan, selama ia bersekolah di sini.
“Maak….aku lulus sekolah alhamdulillah…” Air mata Lena berurai. Ia memimpikan pendidikan lebih dari ini. Maknya tersenyum bahagia. Karena ia dinobatkan sebagai wisudawati terbaik tahun ini. Sebuah kebanggaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Di tangannya tergenggam ikrar setia alumni, kalung wisuda yang terbuat dari kain bludru tergantung di lehernya.
“Sungguh, Emak sama Bapak tak percaya sampai sejauh ini Len.”
“Iya, Mak”
Mereka pulang dengan perasaan yang teramat bahagia, setelah hari itu Lena hendak mencari pekerjaan, sekiranya ia bisa melanjutkan mimpi-mimpi yang ia gantungkan di antara bintang-bintang malam yang menyilaukan.
“Mak habis ini Lena pengen kuliah” celetuk Lena setelah sampai rumah.
“Jangan aneh-aneh kamu, uang darimana buat biaya kamu kuliah?”
“Tapi Lena pengen sekolah lagi, Mak”

“Sudah gausah aneh-aneh. Istirahat saja sana. Sadar diri Len, kita ini orang yang nggak punya. Jangan mimpi tinggi-tinggi, orang miskin tidak boleh mimpi tinggi-tinggi” Emaknya menasehati.

Satu bulan berlalu, ia mulai menghubungi Kak Ami untuk meminta bantuan kepadanya dengan keperluan mendaftarkan kuliah. Tapi tak ada biaya barang sedikitpun dari emak untuknya mendaftarkan dirinya di Perguruan Tinggi. Tabungan Lena yang mungkin akan dipakai untuk daftar kuliah.
Beberapa hari itu Lena mulai bekerja untuk mendapatkan uang yang akan dipakainya untuk mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi dan hidup di kota Semarang. Gajinya lumayan selama dua bulan. Lebih dari cukuplah untuk daftar kuliah dan berangkat ke Semarang. Sisa tabungannya juga masih lumayan.

*******
Len, sini kamu! pinta bapak untuk Lena mendekat dengannya.
“Kamu sudah lulus sekolah, ada seorang laki-laki yang ingin menikah denganmu” Suara bapak yang masuk ke dalam telinga Lena seperti petir yang menyambarnya di siang bolong.
“Menikah?” tanya Lena melongo.
“Iya menikah” jelas bapaknya.
“Memangnya ada yang mau menikah dengan Lena?” tanya Lena.

Bagaimanana kisah Lena selanjutnya? Apakah ia mengikuti kemauan sang ayah untuk dinikahkan? Atau malah memilih untuk menolak Karena ingin mewujudkan mimpinya? Bersambung di Part II ya Rekan dan Rekanita 🙂

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *