Kabut Harapan di Ujung Rindu Part II (Cerpen)

  • Whatsapp

Part 2

*******
Len, sini kamu! pinta bapak untuk Lena mendekat dengannya.
“Kamu sudah lulus sekolah, ada seorang laki-laki yang ingin menikah denganmu” Suara bapak yang masuk ke dalam telinga Lena seperti petir yang menyambarnya di siang bolong.
“Menikah?” tanya Lena melongo.
“Iya menikah” jelas bapaknya.
“Memangnya ada yang mau menikah dengan Lena?” tanya Lena.
“Lena itu orang miskin pak, ndak ada yang bisa diambil untung dari Lena kalau menikahi Lena”
“Ada, Len”
“Siapa memangnya?” tanya Lena lebih lanjut
“Anak Pak Joko dari desa sebelah Len”
“Oooo” seolah mengerti atas jawaban bapaknya
“Mau, Len?”
“Ndak!” jawabnya singkat dan memasuki kamarnya.

*******
Dua hari dua malam ia tak keluar ke kamar untuk membantu meringankan pekerjaan rumah emaknya. Keluar pun ia tak akan berbicara sepatah kata. Hanya keluar untuk ambil air wudhu, buang air dan mandi. Untuk makan saja enggan. Ia kehilangan selera makan.
“Lenaaaa” panggil Emaknya.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya selama dua hari dua malam tersebut kepada orang-orang rumah. Ia enggan menikah muda. Cita-citanya masih banyak yang belum dicapainya. Memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Mindsetnya bukan seperti anak desa yang setelah sekolah tujuannya hanya menikah. Bukan, itu bukan Lena. Ia hanya ingin sekolah dan sekolah lagi.
********
Hari itu hari Minggu di bulan Juni. Langit terang benderang membiru tanpa setitik awan pun yang menyelimutinya. Keluarga pak Joko datang ke rumah sederhana milik keluarga Lena. Sore itu, Lena memang di rumah. Tetapi masih saja tetap berada di dalam kamarnya. Ia mengirim pesan kepada Syifa melalui whatsapp messenger.
“Syif, mampus aku mau dinikahin beneran sama bapakku”
“Terus kamu gimana, Len?”
“Ya aku gamau lah, gila kali kalo aku mau” jawab Lena
“Syif, kamu mau bantu aku gak?” tanya Lena
“Bantu apa?”
“Aku mau ke semarang besok, Syif, anterin ke terminal ya”
“Yakin kamu?”
“Iyalah yakin, aku mau ke rumahnya kak Ami”
“Udah janjian?”
“Udah, dipersilahkan malah”
“Ya udah deh, besok ya, jam berapa?”
“Pokoknya aku mau keluar rumah pagi-pagi banget, aku ke rumahmu, nanti terserah mau kamu antarkan jam berapapun”
“Oke Len”

Sore itu entah apa yang dibicarakan oleh dua keluarga yang berencana menjadi besan tersebut, tetapi Lena enggan dengan keinginan bapaknya. Yang pasti Lena disuruh keluar untuk menemui juga keluarga pak Joko yang akan mengambilnya jadi menantu. Setengah mati Emak membujuknya untuk keluar kamar. Awalnya Lena kekeuh tak mau keluar kamar. Pada akhirnya ia nurut juga untuk keluar kamar sesuai permintaan emaknya. Oke Len sekali saja nurut sama Emak, sebelum kamu kabur batinnya.

“Ohhh jadi ini anaknya bu?” Tanya Pak Joko setelah Lena keluar kamar dan menemui tamu yang mengharapkan ia jadi menantunya.
“Cantik sekali”
Lena masih memasang wajah kaku kepada mereka. Ia terus menunduk. Karena ia memang tak suka jika ia menikah muda seperti yang diinginkan bapaknya. Yang ada dalam kepala bapak Lena hanya satu. Dengan menikahnya Lena akan berkurang satu beban di keluarga ini.
*******
Suara adzan Maghrib berkumandang. Semua pakaian Lena kemas di dalam sebuah tas yang akan dibawanya kabur dini hari nati. Ia tak dapat memejamkan matanya malam ini. Memikirkan bagaimana caranya supaya kabur tidak ketahuan oleh emaknya dan bapaknya yang kekeuh terhadap perjodohan ini.
Jam tiga dini hari. Ia tengah bersiap untuk pergi dari rumah yang telah disinggahinya semenjak kecil ini. Jika dipikir-pikir ia memang tak tahu diri. Sudah dirawat emak sama bapak sampai delapan belas tahun eh, sudah besar begini kok malah kabur-kaburan dari rumah ah bodo amat pikirnya dalam hati.
Jendela kamar dibuka pelan dan perlahan supaya tidak terdengar keras suaranya. Tasnya yang berisikan pakaian ia jatuhkan dari tas jendela. bug suara tas ransel milik Lena menimpa tanah di samping rumah. Menyusul Lena menjatuhkan diri dari atas jendela kamarnya dengan hati-hati. Ia membawa semua tabungannya dan beberapa helai pakaiannya. Angin fajar menghembus dan berbisik seolah ingin membangunkan orang-orang rumah untuk mencegah perginya Lena. Tetapi mereka masih saja tertidur pulas dini hari itu. Tak ada yang boleh menghadangi jalan Lena untuk pergi, tak ada yang boleh menghalangi mimpi-mimpi Lena.
Lena berjalan menyusuri jalanan yang masih sepi. Memberanikan diri untuk menuju rumah Syifa dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer. Adzan subuh berkumandang. Ia singgah sejenak di masjid yang dilewatinya untuk menjalankan sholat subuh yang tak mungkin ia lewatkan. Tak jauh jarak rumah Syifa dari masjid itu, sekitar sepuluh menit lagi dengan berjalan kaki mungkin sudah sampai.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam” Bunda Syifa membukakan pintu untuk Lena.
“Loh, Syif ini loh di cari Lena” Bunda Syifa memanggil Syifa dari pintu depan
“Masuk nak, mau kemana ini, kok pagi-pagi buta sudah sampai ke sini?”
“Mau ke Semarang, Tante”
“Semarang”? tanya bunda syifa
“Mau ngapain?”
“Kerja tante, sambil kuliah kalo bisa”
“Serius?”
“Iya tante” jawab Lena dengan tenang. Tak lama usai melaksanakan sholat subuh, Syifa langsung keluar dan menghampiri Lena.
“Berangkat sekarang atau nanti Len?” tanya Syifa
Udah nanti aja, ini masih pagi banget. Aku mau istirahat dulu, habis jalan jauh tadi
Yaudah, sini masuk ke kamar aku Syifa mempersilahkan Lena untuk masuk ke dalam kamar. Lena membuntutinya dari belakang.
Jam tujuh, Bunda Syifa menyiapkan sarapan dan memanggil Syifa dan juga Lena untuk sarapan. Tak banyak pembicaraan yang berarti di meja makan. Bunda Syifa lebih dahulu pergi ke pasar setelah memanggil mereka berdua untuk sarapan.
“Syif, kamu nggak keberatan kalau nganterin aku sampai terminal?” tanya Lena agak kaku karena sungkan dengan Syifa akan dirinya yang selalu merepotkan satu sahabatnya itu.
“Udahlah, Len gapapa. Nanti pulangnya juga aku bakalan main kok ke rumah budhe, jadi sekalian. Ada sesuatu yang mau dititipin bunda ke rumah budhe”
“Makasih banyak ya, Syif” ucapnya seraya berkaca-kaca
“Iyaaa Lena, sama-sama” Syifa membuka tangannya untuk memeluk Lena. Ia butuh banyak kekuatan sekarang. Bahkan untuk melawan dirinya sendiri.
Usai sarapan mereka berdua berangkat dari desa menuju pusat kota. Di terminal sudah menunggu bis kelas ekonomi jurusan kota Semarang. Di depan bus sudah tertuliskan Surabaya-Semarang. Sebelum berangkat Lena meneteskan air mata lagi. Aliran kecil sungai terbentuk di pipinya yang agak tembem itu. Peluk haru mereka tak terlepaskan. Seolah keduanya tak ingin berpisah.
Lena ingin mencari keberuntungan untuk pendidikannya di kota orang. Tak peduli apa yang tetangganya atau orang tuanya katakan, bahwa orang miskin tak boleh untuk bermimpi terlalu tinggi. Lena naik ke bus menuju Semarang. Tangannya melambai tanda perpisahan, kepada sahabat yang mengantarkannya ke kota pagi itu.
“Hati-hati, Len. Kalau udah sukses jangan lupa sama Syifa” teriak Syifa dari luar bus. Lena mengacungkan jempolnya pertanda setuju. Syifa, Syifa, baik hati sekali kamu kepada sahabatmu yang tak berdaya ini. Semoga Allah selalu membalas kebaikanmu kata Lena dalam hatinya.
********
Bus berpacu menuju kota Semarang melalui jalan Pantura. Lena berkirim pesan kepada kak Ami untuk mengabarinya bahwa hari ini ia jadi pergi ke Semarang. Sebelumnya memang sudah berkirim pesan tetapi hari pastinya memang belum tahu kapan, dan hari ini ia mengabarinya kembali. Semenjak hari itu, Lena memutuskan untuk menutup semua sosial medianya dan mengganti nomor hp nya supaya tidak ada satupun orang rumah yang menyuruhnya untuk pulang dan menikah dengan orang yang dipilihkan oleh orang tuanya.
Rumah Lena menjadi sangat ramai. Emaknya menangis, merasa kehilangan anak sulungnya. Tidak melihat kapan perginya, yang jelas baju-bajunya semuanya telah hilang dan jendela kamar Lena sudah terbuka lebar semenjak Lena membukanya untuk kabur.
“Lenaaaa Lenaaa.. Marlenaa” rintihnya lemah. Lalu akhirnya ia pingsan karena menangis dari sepagi dan belum sarapan. Sebagian tetangganya berbelas kasih datang ke rumah Lena untuk menjenguk Emak Lena yang tak berdaya.
“Sudahlah, Yu, ikhlaskan saja, nanti kalau Lena sudah sukses pasti ia akan kembali” ucap bulik Lena setelah Emak Lena tersadar dari pingsannya.
Semua ini salahku, jika aku tidak memaksa Lena untuk menikah, ia pasti tak akan kabur-kaburan seperti ini. Air matanya masih terurai. Matanya sembab. Semua orang sudah mencoba menghubungi Lena satu persatu. Namun tak ada jawaban. Karena ini memang sudah menjadi strategi Lena supaya tidak diketahui oleh orang rumah kemana ia pergi.
Sementara itu bapak Lena belum mengetahui, jika anak perempuan sulungnya pergi dari rumah. Pulang dari sawah, ia bingung dan bertanya-tanya, kenapa rumahnya menjadi ramai, ada beberapa orang yang keluar masuk dari pintu rumahnya.
“Ada apa ini?” tanyanya
“Lenaaa Pak Lenaaa” air mata maknya masih saja mengalir dan terisak.
“Lena kenapa?” tanyanya masih tenang
“Lena kabur dari rumah” jelas Emak Lena. Tak percaya akan penjelasan istrinya, bapak Lena mencari Lena di semua sudut ruangan. Barangkali anak itu sembunyi.
“Dasar anak tidak tahu diri” maki sang bapak terhadap Marlena yang pergi tanpa seijinnya atau Emaknya.
Lambat laun, kabar kepergian Lena dari rumah terdengar oleh seorang laki-laki yang mengharapkan Marlena. Akhirnya keluarga sang laki-laki mengurungkan niatnya untuk mengambil Marlena sebagai menantu, karena tingkah laku Marlena yang seperti itu.
*******
Tiga jam berlalu. Bis yang dinaiki Lena sampai di Semarang. Ia turun dari bus. Rasa kantuk yang menyelimutinya selama di bus belum juga hilang. Ia seperti orang bingung, mencari hp yang tadi di bawanya dan ditaruh sakunya tidak ada.
“Hpku…..??” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Sial, hilang” gerutunya.
Perih memang kehidupan di kota, baru sampai dan turun dari bus saja sudah kecopetan. Ia mengambil lipatan kertas yang sudah ia catat alamat rumah kak Ami. Beruntung ia sudah mencatatnya. Jika tidak, matilah dia, akan jadi gelandangan di kota orang nanti. Menelusuri kota semarang seharian penuh. Naik turun angkutan kota dan juga ojek untuk menuju alamat yang yang dituju. Bertanya kesana kemari untuk mencari alamat yang akan ia hampiri. Hingga tibalah ia di suatu rumah berlantai dua dengan pagar tinggi di depannya dengan seorang tukang ojek yang mengantarkannya.
“Berapa Pak?”
“Sepuluh ribu Mbak”
“Ini Pak, terimakasih sudah mengantarkan saya”
“Baik, sama-sama Mbak” setelah memperoleh upah tukang ojek langsung melenggang pergi untuk meneruskan pekerjaannya.
Lena melongo melihat rumah yang begitu megahnya. “Inikah rumahnya kak Ami? tanyanya dalam hati. Ia memencet bel di depan rumah sambil mengucapkan salam. Tak lama seseorag keluar, bukan kak Ami. Seorang laki-laki usia sekitar tiga puluh lima tahunan membukakan pintu gerbang.
“Nyari siapa Non?”
“Kak Ami nya ada?” tanyanya halus
“Ada Non, mari masuk”
Kak Ami memang sudah menunggunya semenjak tadi ia membalas pesan Lena yang tak berkabar lagi. Ia baru saja selesai mandi. Lena menunggu di ruang tamu rumah itu. Tak lama setelah laki-laki itu ke dalam untuk memanggil kak Ami. Kak Ami keluar dan menemui tamunya yang berasal dari kota asalnya itu. Tak lain tak bukan adalah Marlena.
“Ohh Lena udah sampai ya, apa kabar Len?” sapa kak Ami sambil bersalaman kepada Lena
“Alhamdulillah baik Kak” balas Lena dengan simpul senyum yang menyudut di bibirnya
“Tadi aku bales pesanmu tapi kok gabales lagi? Oiya whatsApp kamu baru ya?”
“Hpku hilang Kak, di terminal tadi” jelas Lena pada kak Ami
“Yaudah kamu istirahat dulu Len. Kamu pasti capek kan harus muter-muter cari rumah ini” Kak Ami mempersilahkan Lena untuk istirahat dulu di rumah ini. Dan mempersilahkan Lena untuk tinggal di sini.
*******
Hari pengumuman ujian tiba. Lena diterima di jurusan fisika di Universitas Negeri di kota Semarang. Ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa bidik misi yang beberapa persyaratannya ia harus pulang ke rumah untuk menyiapkan berkas-berkasnya. Akhirnya Lena kalah, menghubungi adiknya terlebih dahulu melalui WhatsApp Messenger, dan meminta untuk mengirimkan berkas-berkas yang ia butuhkan guna memenuhi persyaratan tersebut. Karena rumah Kak Ami jauh dari Perguruan Tinggi tempat ia diterima, akhirnya mau tak mau ia angkat kaki dari rumah kak Ami. Ia memutuskan untuk mondok di pesantren mahasiswa yang dekat dengan kampusnya.
Suatu malam setelah semua berkas terkirim ke alamat Lena di semarang. Gawai Lena berdering. Sebuah panggilan dari adik laki-laki Lena. Lena mengangkat dan menajwab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum” suara Lena terdengar dari seberang
“Waalaikum salam, Mbak.. Mak mau bicara sama kamu” Adiknya menyerahkan hp kepada maknya dan ditempelkan ke telinganya.
“Len” panggil maknya
“Nggih mak” jawab Lena
“Apa kabar Len?”
“Baik Mak”
“Kamu jaga diri baik-baik ya Len di kota orang. Kamu kapan pulang? Mak selalu menanti kehadiranmu di sini”
“Maafin Lena ya Mak, Lena ndak bermaksud untuk pergi dari rumah, Lena ndak mau nikah muda, Lena punya banyak cita-cita, Mak”
“Iya Len, iya Mak sudah tahu, Mak sudah memaafkanmu Len”
“Doakan Lena ya, Mak. Lena di sini baik-baik saja. Lena sekarang tinggal di pondok. Lena kuliah dari beasiswa. Jadi semua biaya kuliah Lena gratis. Cukup doakan Lena saja Mak, doakan Lena” suara Lena terdengar terisak dari speaker hp adiknya. Sejujurnya ia juga merindukan keluarganya di kampung.
“Sudah ya Mak, Lena mau ngaji. Bisa disambung besok lagi Mak” pinta Lena sebelum menutup telfon dari adiknya.
“Iya Len, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab Lena sambil menutup telfonnya
Ia mengambil Al-quran di atas tumpukan buku-bukunya yang paling atas untuk ngaji sama bunyai. Lena diangkat sebagai mbak ndalem, sehingga giliran ngaji sama bunyai digiliran paling akhir. Suatu hal yang ia syukuri. Ia tidak perlu memikirkan biaya makan. Ia mengabdi kepada Bunyai dan Pak Kiai. Tentu pekerjaan tanggungjawabnya juga banyak. Tetapi ia harus mampu mengatur waktunya. Tak jarang ia hanya tidur dua jam sehari semalam, demi menyelesaikan tugas-tugas kampusnya. Sebelum subuh ia harus sudah bangun.
*******
Liburan semester dua tiba. Marlena izin pulang pada bunyai untuk pulang ke kota asalnya. Bunyai mengijinkan tetapi hanya seminggu saja waktu yang diberikan untuk pulang. Setelah itu ia harus kembali ke Semarang. Bis antar kota jurusan Surabaya ia naiki. Sama seperti dulu. Ia turun dari terminal dan mencari angkot yang akan mengantarkannya ke kampung.
“Assalamualaikum”di halaman sepi orang. Emaknya mungkin ke sawah membantu bapaknya. Adiknya mungkin sekolah. Tapi pintu rumah terbuka. Berbagai asumsi melayang di pikirannya. Sampai di depan pintu ia mengucapkan salam lebih keras. Maknya di dapur mendengarnya segera berlari.
Suara Lena.
“Kamu pulang Nak” setengah berlari Emak Lena menuju ke depan. Ia segera memeluk anak sulungnya itu.
“Ini Lena kan??” menepuk pipi lena yang masih utuh, pertanda ini nggak mimpi
“Iya Mak, ini Lena” jawab Lena
“Alhamdulillah, tidak jadi kehilangan satu anak Emak”
“Mak, maafin Lena ya, akibat kabur hp Lena hilang pas turun dari bus”
“Sudah Len, Mak udah maafin kamu”
“Oiya mak, apa kabar anak Pak Joko itu?”
“Sudah nikah Len sama orang lain, kamu gausah khawatir mau dijodohin lagi. Mak sama bapak sekarang terserah kamu saja. Kamu sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Toh sudah di perguruan tinggi dan mondok pula. Jadi sedikit banyak paling tidak ilmumu bertambah”
“Iya mak terimakasih” ucapnya sambil memeluk Emaknya kembali
“Bapak di mana, Mak?”
“Biasalah di sawah, sebentar lagi juga pulang, kamu sudah makan Len?”
“Sudah mak” sembari berlalu dan pamit ke Emaknya untuk masuk ke kamarnya. Tak banyak yang berbeda, semuanya tetap sama sebelum ia pergi dari rumah ini.
********
Langit bulan Juli duaribu tujuh belas tampak anggun. Apalagi ketika sore datang. Tak akan ada yang mungkin bisa mengelak keindahan langit sore itu. Angin senja berbisik mesra di telinga Lena yang tengah duduk di beranda rumah bersama laki-laki yang mulai menginjak remaja. Tahun depan akan memasuki bangku SMP.
Le, belajar yang rajin ujar Lena pada laki-laki kecil berusia dua belas tahun itu. Laki-laki kecil itu hanya mengangguk menandakan ia setuju.
Tak ada yang ia sesali akibat perbutannya setahun yang lalu itu. Jika ia tidak pergi waktu itu, mungkin seluruh impiannya akan patah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *