Imam al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad, dan Nasihat untuk para Santri (Essay)

  • Whatsapp

Selain kitab agung Ar-Risalah anggitan Imam Syafi’i, kitab melegenda lain yang lahir dari sepucuk surat adalah Ayyuhal Walad milik Imam al-Ghazali. Walaupun disiplin dua kitab ini  berlainan, satu mengkaji seputar ushul fiqh dan  satunya menyoal nasihat untuk santri, tetapi keduanya sama-sama berangkat dari sebaris tanya yang disampaikan dalam bentuk surat.
Kitab ini, yakni Ayyuhal Walad, merupakan kitab berisi kumpulan nasihat-nasihat bijak bestari dan petunjuk yang khusus diperuntukan kepada para santri-santri Imam al-Ghazali, dengan harapan agar bisa dijadikan sebagai pegangan dan jalan untuk mengarungi kehidupan.
Satu hari, santri Imam al-Ghazali merenungkan kegamangan yang menerpa pikirannya beberapa hari belakangan. Bukan lantaran kedangkalan pikir atau tak terkuasainya ilmu-ilmu gurunya. Malahan, kegundahan ini tumbuh karena saking banyak ilmu yang telah ia tekuni, lantas bimbang mana ilmu yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat.
Dituliskan, bahkan santri ini sangat tekun dalam belajar dan menuntut ilmu bersama Imam al-Ghazali, sehingga ia mampu menguasai ilmu-ilmu secara detail dan terperinci dan memliki kekuatan jiwa yang baik.
“Sungguh aku telah membaca bermacam-macam ilmu dan telah kucurahkan umurku untuk belajar dan menghasilkan ilmu. Saat ini yang selayaknya aku ketahui adalah mana ilmu bermanfaat yang nanti menjadi pencahayaan di alam kuburku dan mana ilmu tak bermanfaat sehingga akan aku tinggalkan.” ujar santri tersebut.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
أللهم إني أعوذ بك من علم لاينفع
“Ya Allah, aku berlindung padaMu dari macam ilmu yang tidak bermanfaat..”
Pikiran-pikiran itu selalu melekat dan membayangi dirinya, sehingga kemudian ia menulis sebuah tanya di atas secarik kertas, dan dialamatkan kepada gurunya. Isi surat tersebut berupa permohonan fatwa mengenai beberapa masalah, mengharap nasehat-nasehat dan doa.
Tak hanya itu, santri itu juga mengadu tentang kondisi yang menerpa dirinya sambil mengatakan:
“Walaupun kitab-kitab karangan guruku, Al-Ghazali, seperti Ihya’ Ulumiddin dan lain-lainnya telah mencakup jawaban atas masalah dan problemku, namun yang aku pinta agar guruku, Imam al-Ghazali, berkenan menuliskan nasihat-nasihat pada lembaran kertas yang bisa senantiasa bersamaku sepanjang hayatku, dan akan ku amalkan isinya sepanjang umurku, Insya Allah.”
Sebagai jawaban atas pertanyaan santrinya, kemudian Al-Ghazali menuliskan suratnya dengan kalimah nida’ أيها الولد. Maka secara simplistik tepatlah bila kitab masyhur ini dinamai Ayyuhal Walad, artinya “Duhai Anakku”.
Kalimat Ayyuhal Walad terhitung 26 kali  dituliskan  dalam kitab tersebut dan ini belum termasuk 2 di bagian muqaddimah. 26 seruan Ayyuhal walad ini tercantum di awal setiap tuturan nasihat Imam Ghazali.
Di antara nasihat-nasihat itu antara lain adalah tentang mudahnya memberi nasihat, namun sangat susah menerimannya, larangan menjadi seorang muflis (merugi dalam amal dan sepi dalam perbuatan). Kali lain, nasihat itu membicarakan  tentang ilmu tanpa amal dan amal tanpa ilmu juga pembahasan dari pokok ilmu.
Sebagai catatan, tentunya pembagian atas muqaddimah dan penyusunan beberapa bab ini setelah melalui penulisan ulang  disertai dengan penambahan beberapa daftar isi. Aslinya kitab Ayyuhal walad ini sama sekali belum tercantum aturan-aturan pembagian sebagaimana di atas. (mh)
Wallahu a’lam
 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *