Pamit

  • Whatsapp

Pagi cerah nan langka di bulan Januari ini. Langit bersih tanpa gumpalan awan. Matahari setia mengisi tiap celah gedung sekretariat PAC IPNU Kecamatan Takengon. Pagi ini ada acara besar sekaligus sakral bagi pemilik gedung tersebut. Konferensi Anak Cabang kata semua orang. Aku juga mengatakan itu. Konferensi itu adalah penentuan siapa yang akan menjadi ketua periode selanjutnya. Ibarat Indonesia, kita menyebutnya Pemilu.
Di sini, aku berdiri. Di kursi paling depan ini aku berdiri tegak menatap seratus tiga belas orang berseragam hijau dengan jas abu-abu meyelimut. Ada sahabatku berada di samping kanan berjarak dua meter. Sama sepertiku, ia adalah calon ketua umum. Suasana sangat sunyi. Tegang. Penuh detakan jantung. Semua mata bak terkunci, fokus pada satu titik; kertas suara.
“Kertas suara terakhir ke-5… Rendi…” orang-orang bersorak-sorai. Suasana semakin tegang. Tinggal empat kertas suara yang belum dibuka. Jumlah suara hanya selisih dua. Detakan jantung seratus tiga belas orang semakin cepat. Begitupun aku, siap atau tidak, berani atau mundur, sanggup atau melepas, tega atau peduli, karena yang kuhadapi adalah Reno, sahabatku sendiri.
“Kertas suara terakhir ke-2… Ren… Reno Setiawan” empat puluh lebih orang bertepuk tangan. Semakin tegang. Semakin sunyi. Suara semut pun bisa terdengar saking sunyinya. Detak-detak ketegangan mulai memuncak. Jumlah suaraku dan sahabatku sama; lima puluh enam. Artinya kertas terakhir adalah penentuan. Kertas paling sakral.
“Baik, karena jumlah suara sama, maka kertas terakhir ini adalah penentuan. Bismillahirrohmanirrohim, kertas suara terakhir diraih oleh…” Pimpinan Sidang diam sejenak. Menghirup napas sepanjang mungkin.
“REN…” detak-detak ketegangan terakhir kian memuncak. Pimpinan Sidang berkata penuh tanda tanya, semakin tinggi nadanya. Rendi atau Reno? Aku atau sahabatku? Amat menegangkan.
“REENDII…” sembilan puluh tiga orang bersorak-sorai, menganga, senyum tak karuan, bahagia tiada tara. Sementara yang lain diam, kemudian perlahan ikut tersenyum. Reno hanya diam mengunci mulut. “Baik, kepada ketua terpilih bisa maju dan memaparkan visi dan misi serta harapan untuk IPNU Takengon ke depan.”
Ya Allah, jika Engkau ridlo, aku siap mengemban amanah ini. Apakah aku harus bahagia bisa menjadi ketua periode ini. Ataukah malah menyesal karena sahabatku, Reno yang berjuang mati-matian untuk organisasi ini malah tidak terpilih menjadi ketua. “Selamat yah” salah seorang anggota memberiku salam.
Waktu dengan tangkas menelan semua kegiatan. Acara usai. Tersisa panitia yang membereskan banner, bendera, photobooh, kursi-kursi, taplak meja, sampah, menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, mengarsipkan inventaris, membersihkan banyak hal. Semua persis seperti sebelum acara. Bersih. Panitia satu persatu hilang. Menyisakan aku yang menertibkan administrasi dan Reno yang duduk menggurat lantai keramik. Kujumpai dia, sahabatku.
“Ren, kenapa sih? Kayaknya ada masalah genting gitu?” suaraku bertanya. Entah mengapa ia tidak menjawab, hanya lanjut menggurat lantai keramik.
“Reno, ada apa? Bicaralah!” suaraku bernada tinggi. Memusatkan mata padanya.
“KAU BILANG ADA APA? MENGAPA KAU LAKUKAN INI?” sentak Reno tanpa jeda. Wajahnya memerah.
“Reno, ada apa? Mengapa kau ini?” Aku bingung. Bertanya penuh harapan.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu aku bodoh. Sampai hati kau lakukan ini padaku, Rendii!!!” sentaknya semakin tinggi. Semakin keras. Napasnya terpingkal-pingkal.
“Jderrr…” pintu dengan cepat terbanting oleh Reno. Bergegas ia memutar pedal gas. Menjauh secepat yang ia bisa. Ya, Tuhan, mengapa sahabatku ini? Pagi menjelang siang itu aku tidak mengerti apa arti kata ‘peka’ yang sebenarnya. Mengapa ya, Tuhan? Tiga belas tahun ikatan ini berdiri kokoh, sekejap luluh lanta menyisakan puing-puing mematikan.
Reno, sahabatku, berceritalah!
***
Subuh telah datang. Hening penuh kesunyian. Angin dingin mulai menelisik jari-jemari. Ayat Alquran terlantun dengan bijak menembus setiap lubuk hati. Membuat setiap pendengar terbangun dalam keadaan senyum mengembang. Sayang, hanya suaraku yang menggema di speaker toa masjid waktu itu. Hari demi hari selalu bersahut-sahutan dengan Reno. Sempat kulihat dia ikut sholat jamaah tempo lalu. Namun, tanpa kalimat ia segera pergi. Tanpa menyisakan pandangan untuk sahabatnya. Subuh itu aku mulai mengerti mengapa Reno abai padaku. Konferensi Anak Cabang. Ya, memang itu.
Matahari mulai menampakkan diri. Sinarnya menembus celah-celah dedaunan pohon kersen samping rumah. Tiada yang lebih nikmat dari mangkring di atasnya. Bersiul dengan harmonika. Memakan buah berbiji seribu itu. Manis. Sangat manis. Anak-anak di bawah berteriak meminta buah manis itu.
Melihat mereka memperebutkan buah kersen itu, aku terlempar ke dua belas tahun silam. Saat Reno dengan tangkas meliuk-liuk memanjat pohon kersen. Saat aku menyusulnya ke dahan pohon kersen. Saat kami bersama-sama mencoba meraih buah kersen paling ujung. Ketika itu juga dahan kersen patah menghujam tanah. Semua mata tertuju pada kami. “Yesss….” seperdelapan detik Reno menyeret dahan tersebut, membawanya kabur seraya membuka mulutnya lebar-lebar.
“Kak… Satu kersen lagi!!” lamunanku buyar. Baiklah, satu kali lagi kataku. Dan anak-anak kecil kembali mengambil posisi strategis untuk meraih buah kersen. “Satu, dua, … tiga!” cekatan anak-anak kecil menyaut buah itu. Set, gubrak, gruduk, gruduk, kersen jatuh dan terpijak. Penyambar kecewa. Kuambilkan satu persatu buah kersen untuk sembilan anak di bawah sana.
Ketika si Fida menyeringai karena kersen yang kuberi masih mentah. Ketika si Rara memakan jatah adeknya. Ketika lima kersen yang kubawa direbut semua oleh Adun. Ketika delapan anak itu mengejar-ngejar si Adun yang kurus tapi lincah. Whatsapp-ku berbunyi tanda mengirim notifikasi. Lekas aku membukanya. “Selamat, Rendi! Selamat! Kamu diterima di Universitas Frankfurt. Lusa kita ketemuan untuk melengkapi berkas” chat yang menggelegar dari Bang Aziz, seniorku. Apa? Tak mungkin.
Mengapa bisa lamaran serendah itu diterima oleh universitas setinggi langit. Kembali lagi aku dilema dua hal besar. Ketua IPNU atau masuk Universitas Frankfurt. Aku sangat bahagia karena impianku untuk kuliah di universitas luar negeri tercapai. Tapi bagaimana dengan tanggung jawabku sebagai nahkoda IPNU Takengon. Padahal usia jabatanku masih bayi.
Whatsapp berbunyi lagi, dari Andre, “Rendi, kesini sekarang. Reno ketabrak mobil. Gausah banyak nanya. Cepetan kesini. Rumah Sakit Anggrek No.231” Ya, Tuhan, mengapa lagi sahabatku ini. Tanpa banyak berpikir, aku ambil kunci, berlari tanpa memakai alas kaki. Segera kusambar pedal gas. Melaju secepat cheetah yang menyambar mangsa.
Grudak, grudak, “Siaaal….” ban motor tertusuk paku. Tanpa menunggu otak membuat kemungkinan, lekas kutambatkan motor sial itu ke toko ujung sana. Kemudian kusambar sepeda yang ada di sampingnya. Tanpa izin. Tanpa permisi. Aku mengayuh tanpa henti. Meliuk-liuk menyalip sepeda, motor, truk.
“Reno!” aku lihat, kepalanya penuh bercak darah, tertambat oleh perban. Kulihat sekujur tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Selang-selang terpasang rapi. Lemah jantungnya berdetak. Perlahan matanya terbuka. Lemas. Hanya terbuka beberapa milimeter. Melihatku di sampingnya. Kuraih tangan penuh selang. “Reno, kenapa bisa begini?” Reno hanya diam. Matanya tajam. Mencoba melepaskan tangannya yang kupegang. Kemudian memalingkan wajahnya. Andre duduk di sofa, mengabari orang tua Reno.
Aku mengerti mengapa ia selalu berpaling dari wajahku. Aku mengerti mengapa sampai detik ini ia tak pernah berbincang dengan sahabatnya. Aku mengerti. Tapi tidakkah kau ingat, bahwa suka duka harus kita lalui bebarengan. Biarlah waktu berjalan sesuai skenario Allah. Ingin rasanya kukatakan itu pada sahabatku. Tapi apalah gunanya. Percuma. Sia-sia. Matahari mulai tercelup ke pemukiman warga. “Aku pamit, Reno.”
***
Jarum jam menutup angka 11. Sholat Istikhoroh adalah jalan utama memilih dua pilihan besar. Ruangan sangat hening. Aku mengadu pada Allah. Terpilihlah satu pilihan besar. Tuhan memang adil. Maha Pemberi Petunjuk. Baiklah esok hari aku akan memberinya kabar pilihanku ini.
Pagi indah, esok yang cerah. Aku segera mengembalikan sepeda yang kupinjam tanpa izin. Kemudian mengantarkan motor pada bengkel. Lantas melanjutkan pergi ke Rumah Sakit Anggrek. Reno tergeletak tanpa gerak semilimeter pun. Ayahnya tidur terlentang di sofa. Aku mendekat ke Reno. Ia bangun. Aku akan mengabarinya pilihan besar. Namun, tetap saja. Ia masih berpaling dari wajahku. Satu jam aku menunggunya berbalik wajah. Belum juga. Dua jam berlalu. Tak mau juga. Sesekali aku memanggilnya. Namun, tidak ada respon sedetik pun. “Aku pamit, Reno!”
Aku berjalan pulang, berhenti di bawah bingkai pintu rumah sakit. “Astahfirullah, hari ini Bang Aziz ngajak ketemuan. Mengapa aku bisa lupa” aku menepuk jidat. Juga memejamkan mata. Aku terlalu sibuk memperhatikan Reno, hingga lupa hari ini Bang Aziz mengajak ketemuan. Secepat kilat internet melayang mengirim pesan ke Andre,
“Andree, cepetan jemput aku di Rumah Sakit Anggrek. Gausah nanya. Cepetan!!”
“Okeh, otewee!”
Andre menjemputku. Kami berdua melaju ke tempat bertemu dengan Bang Aziz, warung kopi Juko. Kali ini aku memutar gas lebih cepat. Andre bingung, bertanya-tanya tanpa kujawab.
Tiba di warung kopi Juko, spontan kami melihat Bang Aziz duduk. Ia menyapa duluan,
“Rendi, lama nggak ketemu. Gimana perkembangan kota ini?”
“Baik, Bang. Lebih baik jika kamu disini” Canda tawaku.
“Hahaha, sa ae lu. Oke, duduk Ren, nih, langsung aja catet berkas-berkasnya” kata Bang Aziz.
Andre memesan tiga kopi. Rupanya masih bingung. Tentang pertemuan ini, tentang berkas, tentang apalah.
“Satu, Ijazah, dua, Paspor, tiga … ” Aku mencatat semua berkas untuk mengajukan diri ke Universitas Frankfurt, Jerman.
“Bagaimana dengan Reno?” Bang Aziz bertanya.
“Buruk, Bang. Buruk. Reno sekarang dirawat di rumah sakit. Apalagi setelah konferensi tempo lalu, ia tak berbicara sepatah kata pun padaku.”
“Semoga cepat sembuh ya.” Jawab Bang Aziz.
“Kalian sebenarnya ada apa sih? Ada berkas-berkas segala, emang lu mau kerja, Ren?” Andre tiba-tiba menyela. Aku jelaskan pelan-pelan. Tentang pertemuan ini, tentang berkas-berkas, tentang pilihan besarku tempo lalu, tentang banyak hal.
“Eh, udah jam 11. Gass ke masjid yok!” Aku mengajak Bang Aziz dan Andre. Mereka meng-iya-kan.
Matahari menyengat tajam. Sholat Jumat usai. Aku menutup perjumpaan dengan Bang Aziz. Dua hari lagi aku berangkat ke Jerman. Andre mengantarku pulang. Ia masih tidak percaya dengan aku yang masuk Universitas Frankfurt, Jerman. Sempat ia menanyakan tanggung jawabku sebagai nahkoda IPNU Takengon. Penjelasanku membuatnya mengatakan “Iya”.
Dalam dua hari terakhir ini, kusempatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk Reno. Pagi, sore, petang, malam yang larut. Bercerita sepanjang mungkin, meski ia masih berpaling dari wajahku. Bercerita tentang sahabat, kepingan kenangan, masa kecil, pohon kersen. Namun, mengapa berat rasanya untuk menyinggung tentang konferensi, dan universitas. Dua pilihan besar itu rasanya canggung untuk diperbincangkan, melihat kondisi Reno yang masih diperban, selang-selang rapi. Ya, Tuhan, mengapa sahabatku ini. Tidak lebihkah perhatianku terhadapnya. Aku mengambil air wudlu. Meluapkan seluruh masalah di sajadah musholla rumah sakit.
***
Pagi menyambut hari Ahad. Mendung terlihat megah menutupi cerah terik matahari. Hari ini aku akan berangkat ke Jerman. Sebelum ragaku pergi melayang bersama pesawat, aku menyempatkan waktu untuk sahabat kecilku, Reno yang masih terbaring bersama perban dan selang-selang. Hari ini, hari terakhir berjumpa dengannya setelah tiga belas tahun tak pernah putus kedekatan ini.
“Reno, aku mengerti. Kau sahabatku. Aku akan berbicara tentang konferensi tempo lalu….” Aku diam sejenak, melihat reaksi Reno.
“Konferensi itu hal biasa bagiku. Aku lebih menghargai persahabatan ini. Tak kan kubiarkan tiga belas tahun kita bebarengan, sekejap luluh lanta hanya karena konferensi itu. Aku menang, memang…. Tapi….”
“PERGI KAUU!!” Reno menyentak. Napasnya cepat. Menatap tajam.
“Reno, kujelaskan….”
“PERGI KAU, RENDI!!”
Satu butir air merekah, mengalir pelan ke dagu. Mengapa aku ini? Mengapa aku menangis. Ya, Tuhan, persahabatnku benar-benar hancur. Segalanya. “Aku pamit, Ren.”
Aku pergi berjalan menunduk. Mengusap sungai kecil di pipi. Lekas menelpon Andre untuk mengantarku ke bandara. Di bawah bingkai pintu Andre sudah bersiap dengan jaketnya. “Kau kenapa, Rendi?” Andre bertanya tanpa kujawab. Pedal gas diputar, Andre melaju kencang. Bang Aziz berdiri di depan gerbang bandara. Aku menutup perjumpaan terakhir dengan Andre. Menitipkan secarik pesan untuk Reno. Andre memelukku, berkata bahwa aku harus menjaga kesehatan disana. “Iya, Ndre”
Pesawat terbang membawa ragaku bersama Bang Aziz. Benar, aku benar-benar melanjutkan kuliah di universitas luar negeri. Aku masih terngiang-ngiang tentang Reno. Kenangan bersamanya. Banyak hal dan segalanya tentang Reno. Tiga belas tahun. Pohon kersen. Tak percaya bahwa aku harus meninggalkannya. Semoga lekas sembuh, Reno. Ragamu dan jiwamu terhadapku.
***
Waktu melesat bagai anak panah. Dua hari berlalu. Reno telah kembali sehat. Perban dan selang-selang tiada. Andre mendatangi rumah Reno. Hanya untuk memberikan secarik surat dari Rendi, aku.
“Reno, maaf … Ini, ini ada surat dari Rendi … Dia bilang berikan surat ini saat Reno udah sehat, nah … terimalah!” Andre memberikan secarik surat dengan napas terhempas-hempas. Segera ia pamit pulang. Reno masih enggan untuk menerima. Namun, ia penasaran, karena selama dua hari Rendi tidak mengunjunginya di rumah sakit. Dibukalah secarik surat itu,
“Reno Setiawan, mungkin saat kau membaca surat ini hari masih pagi, siang, atau boleh jadi malam. Ren, aku mengerti, mengapa kau selalu berpaling dariku. Aku mengerti mengapa kau selalu abai atas jejak kakiku di rumah sakit kala itu. Aku mengerti, Ren. Kau adalah sahabat kecil, remaja, muda, bahkan semoga hingga tuaku. Layaklah jika aku mengerti sifat, kebiasaan, dan watakmu. Melalui surat ini, aku ingin meminta maaf sedalam-dalamnya, lebih dalam dari palung laut. Aku mohon maaf, atas tindakanku saat konferensi itu. Sekarang aku mengerti, Ren. Tapi tak perlu cemas, bingung, apalagi marah. Aku akan mewujudkannya. Melalui surat ini, aku menyatakan untuk mundur dari kursi jabatan ketua. Dan bersedialah kau untuk menjadi penggantiku, Sahabatku. Andre telah menyiapkan Konferensi Luar Biasa. Aku harap kau mau menerimanya. Melalui surat ini juga, aku ingin meminta maaf seluas-luasnya, karena janji sakral tiga belas tahun lalu, saat kita pertama kali kenal. Aku mohon maaf, aku mengingkarinya. Saat kau membaca ini, janji itu sudah teringkar. Aku berada di tempat jauh. Jauh dari kehidupanmu. Jauh dari canda tawamu. Maaf, aku melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku pamit, Reno!”
Reno termenung. Terduduk. Satu butir air mata lepas. Mengalir perlahan ke pipi. Ke dagu. Jatuh menghujam tanah. Matanya sayu. Napas terisak-isak. Cekatan ia bangun, menyambar ponsel di sakunya. Membuka blokir nomor telepon. Menelponnya secepat tangan bergerak.
“Ren… di…”
“Iyah, Reno!”
“Ma-af… Aku minta ma… af.” terdengar napas Reno terisak-isak.
“Iyah, Reno, Sahabatku. Kau tidak ada kesalahan di mataku. Sekarang fokuslah pada jabatanmu. Maaf, jika aku mengingkari janji kita”
Klik. Diam. Sunyi. Senyap. Gerimis turun di Takengon, juga di Jerman. Di antara dua jarak itu, terdengar isak sesal Reno dan senyum air mata Rendi.
Sekian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *