Ber-IPNU IPPNU : Antara Pengabdian dan Kepentingan

  • Whatsapp

Ber-IPNU IPPNU : Antara Pengabdian dan Kepentingan (Essay)
Oleh : Miftahus Salam
(SCC IPNU Kab. Pati)

IPNU IPPNU merupakan akronim dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Organisasi keterpelajaran Nahdlatul Ulama (disingkat NU) yang didirikan oleh KH. Prof. Moh. Tolchah Manshur dan Hj. Umroh Mahfudzoh. Secara kepengurusan keduanya merupakan organisasi yang berbeda, tapi masih dalam segmentasi yang sama. IPNU didirikan pada tahun 1954, sedangkan IPPNU didirikan pada tahun 1955.

Segmentasi IPNU-IPPNU yaitu di area keterpelajaran. Berkisar antara umur 12-27 tahun. Sampai saat ini belum jelas berapa jumlah yang pasti anggota IPNU-IPPNU, diperkirakan mencapai jutaan. Maka tak heran organisasi ini memiliki daya tawar yang besar dalam kontestasi perpolitikan.

IPNU-IPPNU merupakan organisasi yang terstruktur dari mulai yang terbawah yaitu ranting hingga pusat yang setiap tingkatannya memiliki problem yang perlu dibenahi. Perlu kepengurusan yang memiliki loyalitas dan keikhlasan yang kuat, tanpa didasari kepentingan dari luar organisasi untuk membenahi problem yang dihadapi. Akan tetapi para pengurus seringkali terjebak dengan persoalan-persoalan kepentingan luar organisasi yang mengakibatkan organisasi lambat untuk berkembang.

Jelas, bahwa IPNU-IPNU harus segera berbenah, terutama dari segi mentalitas kepengurusannya. Mentalitas pengabdian sayogjanya harus lebih ditekankan, dan menyingkirkan mentalitas kepentingan. Sayangnya persoalan kepentingan di dalam tubuh IPNU-IPPNU ini telah mengakar, dari mulai kepentingan senioritas, hingga kepentingan politis. Tentu perlu keberanian yang besar untuk menghilangkan mentalitas kepentingan ini.

Problem Dilematis: Pengabdian dan Kepentingan

Dalam pendanaan IPNU IPPNU masih banyak ditopang oleh unsur-unsur dari luar organisasi. Ini merupakan persoalan yang sampai saat ini belum terselesaikan. Banyak kebijakan yang telah dilakukan oleh organisasi dari level pusat hingga terbawah untuk mewujudkan kemandirian organisasi. Salah satunya dibentuknya lembaga perekonomian. Akan tetapi lembaga tersebut banyak yang tidak berjalan maksimal, kebanyakan lembaga tersebut hadir hanya sekedar formalitas kepengurusan, tanpa memiliki dampak yang signifikan dalam memenuhi pendanaan organisasi.
Problem kemandirian inilah yang sampai saat ini menyebabkan IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang bersifat paternalistik – tidak dapat berdiri sendiri, butuh bantuan dari luar. Hal ini perlu segera ditangani. Tidak mudah memang, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan, meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Persoalan paternalistik inilah yang menyebabkan dilematika dalam menjalankan roda kepengurusan. Karena tentunya orang atau kelompok memberikan bantuan atau sokongan pasti memiliki kepentingan di dalamnya. Hal ini menjadi problem dalam kepengurusan – di sisi lain pengurus ingin mengabdikan dirinya secara maksimal dalam organisasi, akan tetapi mereka telah terlebih dahulu terjebak di dalam kontrak kepentingan.

Contoh yang paling nyata adalah persoalan kepentingan politik praktis, yang kita sama-sama tahu, bahwa IPNU IPPNU banyak disokong oleh berbagai elemen kepentingan politik – dari mulai saat pencalonan, hingga saat dalam menjalankan roda kepengurusan. Banyak anggota DPR dan partai politik yang terlibat di dalamnya. Meskipun tidak semua level kepengurusan melakukan hal semacam ini, tapi tidak sedikit yang telah melakukannya. Bukan hanya sekedar persoalan politik praktis yang mengintai IPNU-IPPNU. Persoalan senioritas pun sering kali menghantui organisasi ini, sehingga profesionalitas dalam kepengurusan tidak berjalan dengan maksimal. Persoalan senioritas ini telah mengakar dalam IPNU-IPPNU. Yang seharusnya senior hanya sekedar melakukan pengawasan, lebih jauh dari itu senior juga ikut andil dalam menentukan kebijakan.

Persoalan kepentingan pada dasarnya tak mudah untuk dihindarkan. Dalam persoalan kepentingan ini yang mendapatkan dampak buruk paling besar adalah mereka yang benar-benar ingin mengabdi dalam organisasi. Seolah mereka menjadi korban kepentingan oleh segelintir orang yang ingin mendapatkan keuntungan. Pada akhirnya tidak sedikit dari mereka yang benar-benar mengabdi menjadi antipati terhadap organisasi setelah mereka tahu, jika mereka dimanfaatkan.

Profesionalisme Organisasi

Persoalan kepentingan memang tidak dapat dihindarkan. Seenggaknya kepentingan organisasi harus lebih diutamakan dari pada kepentingan luar. Dengan niat dasar pengabdian, kita kikis unsur-unsur kepentingan.
Profesionalisme organisasi sangat dibutuhkan untuk mewujudkan organisasi yang lebih mapan. Hal ini sangat ditentukan oleh segenap unsur yang ada di dalam organisasi – dari mulai pengurus hingga anggota. Mentalitas profesionalitas perlu ditekankan, dengan melihat tupoksi kerja setiap unsur di dalamnya. Lagi-lagi hal ini tidak mudah untuk dilakukan, tapi perlahan pasti bisa untuk dilakukan. Syaratnya satu, yaitu niat pengabdian harus lebih ditekankan, dari pada kepentingan.

IPNU-IPPNU merupakan organisasi pelajar. Pelajar adalah subjek dari kata kerja belajar. Dalam proses belajar salah merupakan hal yang wajar, akan tetapi jangan sampai terus dilakukan. Jika salah lakukanlah perbaikan, karena hakikat belajar adalah memperbaiki kesalahan.

Dalam ber-IPNU-IPPNU saya kira kita telah banyak melakukan kesalahan, di antaranya memasukkan kepentingan pribadi di dalam organisasi, maka hal tersebut perlu kiranya kita perbaiki dengan niat pengabdian demi IPNU-IPPNU yang lebih mapan. Saya selalu diingatkan oleh para sesepuh NU ketika sowan “Hidupilah NU, jangan mencari penghidupan di NU”. Dan ada lagi kalimat dari para sesepuh NU yang selalu saya ingat “Mengabdi di NU insya Allah akan mendapatkan keberkahan, sebaliknya kalo memanfaatkan NU untuk meraih kepentingan, maka akan mendapatkan kemungkaran dari Tuhan sang pencipta alam”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *