Kebijakan New Normal dalam Sektor Pendidikan

  • Whatsapp

Pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai tatanan hidup manusia, yang mengakibatkan dampak siginifikan di berbagai sektor. Kini, Indonesia akan segera memasuki fase New Normal (Kenormalan Baru) yang akan dimulai pada Bulan Juni mendatang. Salah satu sektor yang paling awal menerapkan kebijakan ini adalah dunia ekonomi. Pemerintah pun telah menyiapkan berbagai skenario dan protokol guna menyokong kebijakan baru tersebut. Oleh Kementrian Perekonomian, kebijakan tersebut bertujuan untuk memulihkan roda perekonomian yang telah terpuruk selama masa pandemi covid-19.

Pemerintah telah menyiapkan skenario maupun protokol untuk menerapkan kebijakan new normal. Antara lain melalui kepetusan Kementrian Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di tempat kerja dan Industri dalam mendukung keberlangsungan usaha pada situasi pandemi. Juga melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/Menkes/335 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penularan Covid-19 di tempat kerja sektor jasa dan perdagangan (area publik) dalam rangka keberlangsungan usaha. Dalam hal ini pekerja diharapkan untuk tetap menjaga jarak dengan rekan kerjanya minimal 1 meter ketika masuk dalam kantor. Mereka pun dihimbau agar mengenakan pakaian khusus untuk bekerja dan segera menggantinya ketika sampai di rumah. Melengkapi aturan new normal dari Kemenkes dan Kemenko pemerintah juga menurunkan 340 ribu personil TNI-POLRI di sejumlah titik untuk memastikan masyarakat menerapkan disiplin Social Distancing.

Namun, tidak sedikit yang mengkritisi kebijakan New Normal ini, karena dianggap Indonesia belum siap. Menurut anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani, kebijakan tersebut terkesan terburu-buru, karena trend virus corona di Tanah Air belum bisa dikendalikan. Ditambahkan oleh pakar kesehatan Hermawan Saputra yang dihimpun dari Okezone.com, menurutnya kebijakan new normal dianggap bukan kebijakan yang solutif untuk menekan penyebaran virus corona. Apalagi, di bulan Juni diprediksi akan ada peningkatan yang signifikan.

Kebijakan ini memang bak buah simalakama. Di satu sisi, masyarakat akan mudah terserang virus, jika protokol kesehatan dilonggarkan, terlebih penyebaran virus di indonesia saat ini terkesan terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, memaksa masyarakat untuk tetap tinggal di rumah akan berdampak berat pada sektor ekonomi, karena banyak pekerja yang di rumahkan hingga di PHK. Sehingga tak ada lagi penghasilan bagi mereka untuk memenuhi kebetuhan secara finansial.

Kebijakan new normal ini, juga akan segera diterapkan pada sektor pendidikan. Dilansir dari kompas.com, sekolah akan segera dibuka kembali pada Bulan juli mendatang, namun tetap mengikuti panduan new normal, guna mencegah penyebaran covid-19. Panduan tersebut meliputi melakukan skrining kesehatan bagi guru dan karyawan sekolah. Karyawan dengan riwayat obesitas, diabetes, penyakit jantung, paru dan pembuluh darah, kehamilan, kanker, daya tahan tubuh lemah, tidak disarankan untuk mengajar atau bekerja di sekolah. Golongan-golongan tersebut dapat diberikan opsi work from home (WFH).

Selanjutnya melakukan skrining lokasi tempat tinggal, dengan melakukan identifikasi zona tempat tinggal guru dan karyawan. Jika tinggal di zona merah disarankan bekerja di lokasi sekolah dekat tempat tinggalnya. Disarankan melakukan test covid-19 sesuai standar yang telah ditetapkan WHO. Mengatur waktu kegiatan belajar agar tidak bersamaan dengan waktu padat lalu lintas dan dikurangi durasi di sekolah. Sekolah diharuskan mengatur tempat duduk di ruang guru dan ruang kelas dengan jarak 1,5 meter. Siswa maupun guru diharapkan tetap menjaga fisik serta tidak melakukan perkumpulan. Tetap menjaga kebersihan serta sering melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan sekolah. Sekolah pun diharapkan meyiapkan dukungan UKS dan Psikologis di sekolah. Kegiatan belajar mengajar akan relatif aman jika protokoler tersebut benar-benar diterapkan.

Untuk pendidikan pesantren, baru-baru ini pemerintah melalui kementrian agama telah mengeluarkan kebijakan terkait kegiatan pesantren selama new normal. Kebijakan tersebut meliputi, ketika akan kembali ke pondok pesantren santri dipastikan dalam kondisi sehat. Disarankan membawa peralatan makan dan minum sendiri dari rumah, membawa vitamin C, madu dan nutrisi untuk ketahanan tubuh selama sebulan, membawa masker dan hand sanitizer, membawa sajadah tipis yang ringan diangkat dan mudah dicuci, memperhatikan pengaturan mengenai Protokol Penggunaan sarana transportasi dan diusahakan menggunakan kendaraan pribadi/khusus dan diharapkan pengantar tidak masuk ke asrama. Selama berada di pondok sesama penghuni pondok dilarang melakukan salaman sampai pandemi ini benar-benar berakhir, menjaga jarak saat berinteraksi, selalu menggunakan masker, sering cuci tangan pakai sabun dan selalu menyiapkan hand sanitizer, mengkonsumsi vitamin dan makanan yang bergizi guna menjaga daya imunitas tubuh, tidak makan dan minum dalam satu wadah secara bersama-sama, hanya menggunakan pakaian, handuk, peralatan mandi dan kasur sendiri, tidak keluar lingkungan pondok kecuali untuk kepentingan khusus dengan persetujuan pengasuh, walisantri/keluarga tidak diperkenankan menjenguk selama pandemi belum berakhir. Jika terpaksa harus dijenguk, agar menerapkan protokol Covid-19, dan jika ada santri yang sakit segera diisolasi untuk dirawat di kamar khusus/poskestren/klinik Pesantren. Apabila perlu penanganan dokter dilakukan konsultasi dengan walisantri. Aturan ini diberlakukam semata-mata agar santri dapat belajar dengan tenang dan aman selama pandemi belum berakhir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *