Digdaya

  • Whatsapp

Digdaya (Cerbung)
Sri Pujiati (Sukolilo)

***#1
Mencintai adalah anugrah terindah yang diberikan tuhan kepada manusia, dari cinta lahir begitu banyak dharma, dari cinta lahir begitu banyak rasa, dan dari cinta lahir kehidupan baru di dunia. Tapi karna cinta lahir rasa sakit, karna cinta muncul dendam, karna cinta muncul dosa dan karna cinta muncul insan yang tidak berhati.

Sudah lama aku memperhatikan Angkasa, sejak pertemuan pertama yang tidak sengaja pada purnama bulan Syuro. Malam itu ada agenda Ngaji Budaya yang mendatangkan budayawan kondang dari Yogyakarta.

Dalam acara kami diajak diskusi dan mengembangkan cakrawala mengenai budaya leluhur yang diturunkan secara turun temurun, memahami makna filosofis ajaran-ajaran nenek moyang. Begitu juga kami seolah olah diajak kembali merasakan dimensi masa lalu yang penuh misteri dan keajaiban.

“Angkasa” ujarnya sembari menyodorkan tangan

Aku yang bingung menyambut tangannya “Lintang” jawabku tersenyum sopan.

“Jurnalis ya? Dari tadi saya perhatikan sibuk.”

“Tidak, saya hanya suka menulis poin pentingnya saja.”

Angkasa mendudukan diri di depanku “Ngomong-ngomong sejarah itu asyik ya, penuh dengan misteri dan keajaiban.”

“Iya, karena itu saya suka sejarah, saya seakan bertamsya kemasalalu. Saya juga jadi tau banyak permasalahan- permasalahan baru yang nantinya bisa saya ambil jalan pengalamannya sebagai bekal hidup.” Lintang merapatkan cardigannya tanpa sadar, hawa malam semakin dingin menusuk tulang memecah fokusnya pada pembicaraan narasumber.

Angkasa yang sedari tadi memperhatikan Lintang, melepas jaketnya, menyampirkan di bahu Lintang.

“Eh,” Lintang mendongak.
“Makasih nanti kamu kedinginan”
“Saya ngak papa kok.” Tolak lintang melepaskan jaket angkasa.

“Sudah nggak papa, Kak. Saya laki-laki tahan dengan dingin.. lagian saya pake cuma buat gaya doang.”

“Wah, laki-laki juga tau gaya ya..” Lintang memutuskan memakai jaket Angkasa.

“Btw, kapan aku bisa kembalikan jaketnya?”

“Nggak usah juga gak papa, tapi kalo kamu mau kembalikan nanti kalo kita ketemu lagi ya… saya pamit dulu.” Lintang mengangguk memandang punggung tegap lelaki itu.

Aku berdecak lamunanku bubar tentang masa lalu karena objek khayalanku itu memanggilku.

“Lintang.” Panggilnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi dan gigi kelincinya yang khas, dialah Angkasa si pencuri hatiku sejak pandang pertama.

“Ah iya ada apa.” Setengah sadar kumenjawab meresapi suaranya saat memanggilku, memang bucin ya aku ini, lemah dengan sesuatu yang berbau Angkasa.

“Nggak, cuma aku lihat kamu sendirian, kan sayang cewek cantik sendirian digodain genderuwo ntar, lagian kamu siang-siang ngapain di bawah pohon beringin begini?.”

Nahkan gimana aku ngak baper coba, dia itu humoris, bercandanya suka kelewatan gak tau kalo anak gadis ini lemah hati kalo berhubungan dengan dia.

“Haha..bisa aja si mas, jadi baper aku.” Tawa Lintang sambil menatap angkasa

“Beneran loh sayang…”

”Duh gusti, ini maksudnya apa coba? Manggil aku sayang beneran apa sayang aku digodain genderuwo.” Batin Lintang

Oke mas anda jual Lintang beli deh “Ya udah sayang, temenin aku di sini ya.”

Angkasa menoleh, “eh” kaget dengan ucapanku

“Hahahaha…. sampai melongo.”

“Wah, kamu sudah berani ya” ujarnya menyeringai, alamak alamat bakal dikerjain balik ini.

“Ampun deh, Mas. Ya udah aku balik dulu… udah dijemput kang ojek ini.” Lintang melambaikan tengan ke arah Angkasa.

“Ya udah hati-hati, jaga mata jaga pandangan jaga hati…takut khilaf jatuh cinta sama si Abang ojeknya.” Pesan Angkasa yang ditanggapi kekehan Lintang.

“Tenang, aku strong orangnya.. udah beribu kali aku dibaperin tanpa kepastian hahaha..” sampai Lintang sambil menyindir yang tak mungkin orangnya peka.

“Nanti sampai kos, aku kabarin ya, Dek.”

Lintang mengangkat jempol tanda setuju dengan permintaan Angkasa. Ngomong-ngomong aku, sejak pertemuan kedua Angkasa mulai ber aku-kamu sehingga lintang pun mengikuti tak lagi saya-kamu.

“Duh, Angkasa..sukses ya bikin anak gadis baper.” Guman Lintang saat naik motor Kang Ojek.

***#2
Satu jam satu hari sebulan sejak aku mengenalnya tanpa sadar dalam hati aku selalu mengeja namanya, entah sudah berapa dosa yang kutumpuk karena memikirkan dia yang tidak halal bagiku, bayangan dan lirikan matanya selalu terpatri dalam benakku.

Sungguh setan memang penghasut, sialnya aku terbuai oleh hasutan setan, batinku. Sempat terlintas untuk sowan kepada orang tuanya menjadikannya halal bagiku, tapi setelak kupikir ulang aku belum pantas untuknnya aku masih belum mampu menanggungnya, menanggung dhohir batin, memenuhi setiap kebutuhan dan menuntunnya menjalankan segala perintah-Nya.

Lintang, Lintang Sawitri, gumamku lirih sembari mengingat kembali tawanya. Ia gadis yang energik berapi-api, sukses membakar emosiku.

Ah hiya, dua hari lalu aku bertemu dengannya yang duduk sendirian di bawah pohon beringin kembar samping masjid. Entah setan apa yang merasuki hingga membuatku menghampirinya, oh aku ingat aku berpesan agar Lintang mengabariku jika sampai rumah.

Kubuka aplikasi WhatsApp di handphone, lalu ku cari chatnya yang ternyata tertimbun berjubel WA dari grup yang kuikuti maupun teman-temanku.

Lintang Sawitri
Assalamualaikum mas Angkasa, alhamdulilah kulo sampun dugi rumah.
15.00.

Tertanda jam 3 sore dia membalas pesanku, Maafkan aku Lintang belum bisa membalas pesanmu karena sibuk, baru saja ingin membalas pesan Fauzan juniorku di majalah At-Tibyan datang menyampaikan kabar.

“Gawat kang gawat.” Ujarnya sambil ngos-ngosan

“Kenapa? Atur nafas dulu.” Perintahku memandangnya heran.

” Gus Hasan mboten kerso rawuh mengisi acara, kalo mboten njenengan yang nembung.”

“Lah kok? Kan sudah diberikan surat resmi.”

Gus Hasan ini memang istimewa, salah seorang Senior Majalah At-tibyan ini terkenal dengan kenyentrikannya, bicara sedikit nyelekit tapi kalo disuruh mengarang puisi ahlinya, apalagi puisi cinta. Aku yang dekat dengannya sudah kebal dengan sikapnya.

“Ya sudah kang, aku saja yang nembung.” Lanjutku sambil memasukan handphone di saku.

Akhirnya dia berkenan mengisi acara jika aku mau menyampaikan surat kepada Bu Lik Hanifah calon istrinya yang kebetulan merupakan adik ayahku.

Sebenarnya Gus Hasan dan Bu Likku akan melaksanakan pernikahan pada pertengahan bulan Februari besok, tapi karena sedang di pingit pemutusan komunikasi membuat seniorku jadi setengah gila, sudah kuduga ketidakmauannya hanya alibi untuk menjadikanku tukang pos dadakan.

Apakah ini yang dirasakan oleh seorang yang sedang jatuh cinta? Tak bertemu rasanya rindu, rasanya setengah gila atau memang sudah gila ya, aku tak tahu. Mungkin ini juga yang dirasakan Qais saat dipisahkan dari cintanya Layla. Dunia terasa tidak ada gunanya apalagi isinya, yang ada menjadi tiada yang tiada menjadi ada.
Dialah sang legenda cinta yang lebih dulu melegenda sebelum kisah Romeo Juliet diciptakan. Dialah si Majnun yang syair kerinduannya, syair cintanya dikagumi oleh seluruh penduduk Arab. Diucapkan berkali-kali oleh para pujangga dan inspirasi untuk para pecinta, sungguh kisah cinta yang biru yang diceritakan turun temurun dari zaman ke zaman, iya kisah Layla & Majnun yang cintanya abadi sampai akhir hayat.

Laylaku Lintang, Qaisku Angkasa ah lama lama aku juga menjadi majnun.

Maaf, Dik baru balas. Dua hari ini aku sibuk, akan ada seminar lusa yang menyita perhatianku, walau demikian aku minta maaf ya, manusia tempatnya salah dan dosa. Angkasa.

Setelah membalas pesan lintang yang sempat mangkrak di handphone, aku memutuskan berwudhu menunaikan kewajiban yang sempat tertunda karna berdiskusi cukup lama dengan Gus Hasan.

***#3
“Sudah lama ya…” tanya Lintang meringis memandangi Angkasa yang menggigil kedinginan.

Setelah meletakan teh dan cemilan, Lintang memeluk nampan dan meletakkan dagunya di atas nampan yang sialnya tidak luput dari pandangan Angkasa.

“Nggak, emang niat kesini ko..”

“Lagian, tau rumahku dari mana?.” Pandang Lintang menyelidik.

“Orang tua kamu di rumah?.”

Kebiasaan Angkasa ketika nggak mau menjawab tapi malah mengalihkan pembicaraan membuat Lintang berdecak “Kebiasaan deh, iya di rumah lagi di dalam.”

Angkasa terkekeh. Paham dengan maksud Lintang, sambil mengamati ruang tamu rumah Lintang.

“Kamu punya kakak?” Tanya Angkasa tak sengaja melihat foto keluarga yang dipajang disudut ruang tamu.

“Em iya, udah kerja jadi jarang di rumah.” Terangnya.

Angkasa mengangguk-angguk sambil menyesap teh yang disediakam tuan rumah.

“Kamu sih, dua minggu gak ada kabar jadinya aku khawatir.” Ujar Angkasa tiba-tiba Lintang menoleh, memastikan apa yang dia dengar secara hal itu keluar dari pria secuek Angkasa, seakan tau pikiran Lintang, Angkasa tersenyum samar.

“Yah, gak punya kuota.. jangankan ngabari kamu….mau lihat pacar haluku aja ngak bisa.”

Angkasa memandang Lintang lama,
Lintang yang dipandang seperti itu jadi salah tingkah.

“Kenapa sih, Mas? Wajah aku ada sesuatunya? Aneh? Kok sebegitunya mandangi wajahku.”

Lintang yang dikenal blak-blakan langsung bertanya kepada si pelaku.

“Nggak, biasa aja, cantik… cuma kayaknya ada yang beda gitu ya.”

“Apa? Tambah chubby? Iya toh.. udah nggak usah ditahan ngomonge, biasa wae sama aku dari gerak-gerikmu sudah ketahuan, Mas..mau ngece tapi ndak jadi to?”

Lepas sudah tawa Angkasa mendengar ucapan Lintang, terlihat gigi putih rapi yang menambah kegantengan seorang Angkasa, kini gantian angkasa yang kikuk diperhatikan dengan detail oleh Lintang.

Belum sempat membalas ucapan lintang dari luar ada yang mengucapkan salam, pria paruh baya yang berkacamata dan membawa payung berwarna abu-abu.

“Oh ada tamu ya, Nduk… mari, Nak.” Pamit Bapak Lintang berjalan ke dalam, Angkasa segera menghampiri pria tersebut sembari bersalaman.

“Saya Angkasa, Pak. Teman Lintang.” Ujarnya sembari memperkenalkan diri.

“Ini Mas Angkasa yang jadi penanggung jawab penerbitan majalah At-Tibyan tahun ini, Pak.” Terang Lintang yang diangguki bapaknya.

“Oh, kamu Angkasa Barata yang jadi Pimpinan Redaksi tahun lalu?.” Angkasa mengangguk.

“Bagus-bagus, sudah sana lanjutkan ngobrolnya jangan lama-lama sudah mau maghrib.” Peringat Utsman, Bapak Lintang.

Angkasa menghela nafas lega saat Bapak Lintang sudah masuk ke dalam.
“Kenapa mas? Kok mukanya lega gitu, kayak habis menang perang aja.” Gurau Lintang.

“Gimana nggak lega, habis menghadapi camer, Nduk, rasanya deg-degan gimana gitu.”

“Ah, bisa aja bercandanya, Mas.. haha lucu lucu.” Tawa lintang yang mendapat pelototan Angkasa.

“Kamu kira bercanda? Aku serius, Nduk… tunggu aja aku pantas mendampingimu.”

Lintang terdiam tidak tau harus menjawab apa, ada gelenyar aneh di dadanya.

“Sudah ya, Nduk bertamunya. Hujannya udah reda.. mas mau pulang dulu sampaikan salam pada Bapak dan Ibu. Assalamualaikum.” Pamitnya sambil tersenyum.

Lintang mengantarkan sampai teras rumah, Angkasa yang sudah masuk mobil keluar kembali memberikan kresek hitam kepada Lintang.

“Apa ini?.” Tanyanya

“Sudah, dibuka di dalam saja.. aku pamit ya.” Ujarnya tanpa berbalik lagi memencet klakson sekali lalu pergi dari hadapan Lintang. (Bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *