Refleksi 1 Tahun Pelajar NU Pati dalam Mengawal Gerakan Literasi

  • Whatsapp

Oleh : Mohammad Salman

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) sudah masuk di usia senja. Sejak kelahirannya pada 24 Februari 1954 dan 2 Maret 1955, artinya saat ini sudah berada di usia 66 dan 65 tahun. Usia yang tidak bisa disebut muda lagi bukan? Lantas, sudah seberapa besar peran organisasi ini terhadap pelajar di Indonesia?

Bacaan Lainnya

Sebagai BANOM (badan otonom) dari organisasi Nahdlatul Ulama, IPNU dan IPPNU menjadi representasi NU di kalangan generasi muda di usia 13 sampai 27 tahun. Organisasi ini pun memiliki struktural dari Ranting sampai Pusat. Potensi yang sangat besar bagi suatu ORMAS, baik pengaruhnya maupun peranannya. Namun, apakah kontribusinya sudah bisa dirasakan bagi pelajar di Indonesia. Pertanyaan yang seharusnya terpatri di benak setiap pengurus IPNU dan IPPNU baik di tingkatan Ranting sampai Pusat.

Sebagai seorang pengurus di salah satu Kabupaten di Jawa Tengah. Saya merasa peran IPNU sebagai organisasi keterpelajaran belum memberikan kontribusi yang maksimal. Kegiatan yang selalu berkutat di lingkup pengamalan amaliyah Nahdlatul Ulama, seperti Tahlilan, Yasinan, pembacaan Al-Barzanji, membuat pelajar seperti saya merasa peran itu kurang maksimal. Dikarenakan kegiatan-kegiatan itu secara kultural sudah sering dilakukan penulis ketika berbaur dengan masyarakat.

Sebagai organisasi besar seharusnya IPNU dan IPPNU mampu berperan lebih, tidak hanya fokus di ranah keagamaan. Karena pelajar butuh aktualisasi diri di organisasi ini, peningkatan kapasitas diri seperti mendapatkan softskill, diskusi pemikiran, berwacana hingga merespon isu yang sedang berkembang di Indonesia, yang kesemuanya tidak bisa didapatkan di bangku sekolah maupun perkuliahan. Maka IPNU dan IPPNU setidaknya harus menjadi wadah bagi pengembangan kapasitas anggota maupun pengurusnya.

Visi IPNU IPPNU

Asumsi penulis terhadap organisasi IPNU lebih dari itu. IPNU dan IPPNU harus mampu menjalankan perannya sesuai dengan visi-nya. Terbentuknya pelajar bangsa yang bertakwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia, berwawasan kebangsaan dan kebhinekaan serta bertanggungjawab atas terlaksanannya syari’at Islam Ahlussunnah Wal-jamaah An-Nahdliyah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 demi tegaknya NKRI. Oleh karena visi yang mulia inilah IPNU seharusnya mampu berkontribusi lebih terhadap pelajar di Indonesia.

Tidak sedikit dijumpai penulis, pengurus yang tidak hafal visi organisasinya. Mungkin inilah yang menyebabkan peran IPNU-IPPNU belum berjalan maksimal. Di lingkaran internal saja masih banyak yang tidak mengerti organisasinya. Banyaknya struktural mulai dari Pusat, Wilayah, Cabang, Anak Cabang, Ranting, Anak Ranting hingga Komisariat, baik di sekolah maupun perguruan tinggi seharusnya mampu menjadi arus besar dalam mengawal isu apapun. Ketidak kompakan dari Pusat sampai Ranting inilah yang harus dibenahi. Akhir-akhir ini, Pimpinan Pusat sering mengawal isu-isu yang sedang berkembang, seperti RUU HIP, RUU Pesantren dan lain-lain. Namun isu itu hanya berada di Pusat, tidak sampai dibahas di ranah Wilayah, Cabang apalagi Ranting.

Persoalan Klasik

Peliknya kesadaran mengawal isu tidak terlepas dari rumitnya persoalan internal yang tidak kunjung usai. Pekerjaan rumah seperti agenda wajib bidang kaderisasi di masing-masing tingkatan harus diselesaikan lebih awal. Karena kaderisasi adalah fondasi dasar sebuah organisasi. Kaderisasi sebagai proses peningkatan kuantitas dan kualitas memiliki peranan penting dalam rangka merekrut anggota baru yang dimulai dari Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) yang menjadi tanggung jawab pengurus kaderisasi di tingkatan Ranting, kemudian meningkatkan kualitas alumni makesta pada Lakmud (Latihan Kader Muda) yang menjadi tanggung jawab pengurus bidang kaderisasi di tingkatan Anak Cabang, serta dilanjutkan pada kaderisasi terakhir yakni Lakut (Latihan Kader Utama) sebagai tanggung jawab pengurus Cabang dan tingkatan di atasnya. Mata rantai kaderisasi inilah menjadi pijakan awal yang harus diselesaikan oleh masing-masing tingkatan ketika ingin melahirkan pengurus yang berkualitas dan profesional.

Di dalam PD PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga) IPNU ada sekurang-kurangnya 5 Departemen, 4 Lembaga dan 2 Badan untuk tingkatan Cabang dan 3 Departemen, 2 Lembaga, dan2 Badan untuk tingkatan Anak Cabang serta 2 Departemen, 1 Lembaga untuk tingkatan Ranting. Setelah proses kuantitas dan kualitas dengan melakukan Makesta, Lakmud, serta Lakut. Diharapkan kaderisasi dan follow up-nya mampu mempersiapkan calon pengurus untuk mengisi Departemen, Lembaga dan Badan di masing-masing tingkatan secara profesional.

Mata rantai proses peningkatan kapasitas dan profesionalisme pengurus tidak bisa dianalogikan layaknya membalikkan telapak tangan. Harus ada sistem dan supporting sistem yang terpola dari Pusat sampai Ranting. Sehingga persoalan klasik di IPNU dan IPPNU ini segera terentaskan dan sudah mulai masuk di peranan-peranan lain seperti pengawalan isu baik lokal maupun nasional.

Budaya Intelektual

Indonesia adalah negara dengan minat baca masyarakat yang terlalu rendah. Pada tahun 2016 berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 62 negara. Artinya dari 1.000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Rendahnya minat baca mengakibatkan problem besar dalam masyarakat yakni mereka akan mudah percaya hingga terpancing terhadap isu yang belum jelas kevalidannya seperti isu hoax dengan sumber yang tidak jelas tentu dikarenakan lemahnya tingkat literasi di kalangan masyarakat terutama pelajar.

Minat baca yang rendah inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama, terlebih ORMAS seperti IPNU dan IPPNU. Karena mayoritas anggotanya adalah berasal dari kalangan Pelajar dan Mahasiswa. Literasi dan pelajar seharusnya bersahabat dengan baik. Karena tugas seorang pelajar adalah belajar. Sehingga ada hal yang keliru ketika para pelajar tidak minat dengan membaca. Banyak elemen yang harus bahu membahu mengampanyekan gerakan ini.

Ruang-ruang kegiatan di luar kaderisasi harus diisi dengan kreatif dan solutif oleh masing-masing tingkatan dengan baik. Seperti yang dilakukan Pimpinan Cabang Kabupaten Pati dengan mengangkat isu literasi sebagai narasi organisasi yang menjadi perhatian khusus. Dibuktikan dengan adanya program-program di bidang literasi, seperti perpustakaan online, rumat literasi, website, diskusi, bedah buku yang di break down ke tingkatan Anak Cabang hingga Ranting.

Upaya ini dalam rangka membudayakan gerakan pelajar berintelektual sekaligus menyukseskan narasi literasi sehingga anggota merasa mendapatkan pengaruh yang signifikan di IPNU dan IPPNU. Dengan ini IPNU dan IPPNU secara gamblang akan memberikan kontribusi positif bagi anggota dan kader-kadernya. Sehingga mereka merasakan kehadiran organisasi ini dalam pengembangan intelektual mereka dengan mengingat jasa IPNU dan IPPNU di masa yang akan datang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *