Paradigma Profesionalisme Organisasi di IPNU dan IPPNU

  • Whatsapp

Oleh Mohammad Salman –

Paradigma merupakan konstelasi teologi, teori , pertanyaan, pendekatan, dan prosedur yang dikembangkan dalam rangka memahami kondisi sejarah dan keadaan, untuk memberikan konsepsi dalam menafsirkan realitas. Paradigma akan memberikan inspirasi, imajinasi terhadap apa yang harus dilakukan. Bisa juga diartikan sebagai prinsip-prinsip dasar yang akan dijadikan acuan dalam segenap tumpukan strategi sesuai lokalitas masalah dan medan juang.

Bacaan Lainnya

Didalam berorganisasi, paradigma memiliki peran penting dalam menjaga pertanggungjawaban setiap pendekatan yang dilakukan sesuai dengan tupoksi bidang masing-masing.

Profesionalisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mempunyai makna; mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional. Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional.

Profesionalisme sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, dimana setiap orang berupaya untuk berkinerja secara profesional. Jika dalam organisasi tidak ditemukan profesionalisme, maka yang akan terjadi adalah timbulnya keresahan dalam organisasi tersebut dan mengakibatkan program kerja yang diharapkan dapat selesai menjadi terabaikan atau terbengkalai karena kurang adanya kepedulian terhadap program kerja tersebut.

Sepanjang perjalanan IPNU dan IPPNU di Kabupaten Pati sampai awal tahun 2020, ada beberapa paradigma yang berkembang sejak awal perintisan tahun 90’ an.

Pergantian paradigma ini mutlak diperlukan sesuai perubahan dalam konteks ruang dan waktu. Sesuai dengan literature Ushul Fikih dan Qawa’id, kita akan menemukan perkaaan Ibnu Qayyim al-Jauzi “Sesungguhnya hukum bisa berubah atau berbeda karena perubahan atau perbedaan waktu, tempat, keadaan atau kondisi, dan adat kebiasaan”.

Melahirkan Kepemimpinan Kolektif

Paradigma Profesionalisme dalam Organisasi kekaderan IPNU dan IPPNU harus menjadi arah baru. Dalam rangka melahirkan gaya kepemimpinan yang kolektif dan menghindari kepemimpinan yang sentralistik. Kepemimpinan kolektif artinya bahwa kepemimpinan yang terdiri dari keberadaan manusia-manusia cakap, cerdik serta memiliki kapabilitas atau bisa disebut sebagai manusia-manusia yang profesional.

Pra-kemerdekaan kepemimpinan kolektif ini bisa dilihat dengan lahirnya tokoh, sebut saja H.O.S Cokroaminoto sebagai pemimpin Sareka Islam, KH. Ahmad Dahlan sebagai pemimpin Muhammadiyah serta Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Pemimpin Nahdlatul Ulama yang mampu melahirkan pemimpin ssudahnya di awal kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Sebut saja, Ir. Soekarno murid dari H.O.S Cokroaminoto, KH. Wahid Hasyim murid sekaligus putra dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. Mas Mansyur murid dari KH. Ahmad Dahlan.

Sehingga paradigma profesionalisme harus menjadi konsentrasi serius bagi semua organisasi termasuk IPNU dan IPPNU dalam rangka melahirkan kepemimpinan kolektif dan terhindar dari kepemimpinan sentralistik yang bertumpu pada figur tertentu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *