Implementasi Konsep Pendidikan Ibn Khaldun pada Era Kontemporer

  • Whatsapp

IMPLEMENTASI KONSEP PENDIDIKAN IBN KHALDUN PADA ERA KONTEMPORER

Ibn Khaldun, salah seorang sarjana muslim yang terkenal menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, dari mulai filsafat, sosiologi, politik, tata negara, hingga sejarah, dan masih banyak yang lainnya. Pemikiran dan gagasan Ibnu Khaldun menjadi rujukan para ilmuwan bahkan hingga di dunia barat khususnya dalam bidang sejarah dan sosiologi. Bukan hanya karena keluasan pengetahuannya, Ibn Khaldun juga terkenal dengan kreatifitas dan orisinalitas pemikiran ilmiahnya. Meskipun terkenal sebagai sosiolog dan sejarahwan, Ibn Khaldun juga memberi porsi yang besar di dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, tentang dunia pendidikan.
Pembahasan Ibn Khaldun tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan sampai hampir sepertiga dari keseluruhan karya tulisnya tersebut. Pemaparannya begitu runtut, luas, sangat mendetail dengan disertai argumentasi yang rasional dan juga diuraikan berbagai gambaran dari hasil pengamatannya di berbagai negara. Kecerdasan yang dimiliknya pun sangat tinggi yang membuatnya mampu mengaitkan sebab dengan musabab, menganalisa dan menghubungkan berbagai faktor dari apa yang dia lihat dan amati.
Analisa yang dilakukannya pun menggunakan berbagai sudut pandang keilmuan. Latar belakang keluarga yang merupakan politisi, aristokrat, dan intelektual mempengaruhi pertumbuhan masa kecilnya dan membentuk pola pikirnya. Maka tidak mengherankan jika karyanya menjadi rujukan, termasuk juga masalah pendidikan, oleh para sarjana dan ilmuwan berbagai bidang, baik dari barat maupun dari timur.

KONSEP PENDIDIKAN IBN KHALDUN

TUJUAN PENDIDIKAN

Tentang tujuan dari pendidikan itu sendiri, sebenarnya Ibn Khaldun tidak menuliskannya secara eksplisit. Akan tetapi, Muhammad Kosim merumuskannya dan membagi menjadi beberapa aspek. Jika dilihat dari aspek pribadi manusia itu sendiri, maka pendidikan bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam diri manusia, baik jasmani maupun rohani. Kedua, dilihat dari tabiat manusia yang merupakan makhluk sosial. Dari aspek ini maka pendidikan manusia bertujuan untuk menciptakan peradaban yang baik dan maju. Ketiga, dari aspek peran dan fungsi manusia di dunia maka pendidikan bertujuan agar manusia dapat melaksanakan tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di muka bumi dengan merawat, menata dan menjaga alam semesta.

Rumusan lain tentang tujuan pendidikan Ibn Khaldun juga dirumuskan oleh al-Shibani. Menurutnya tujuan dari pendidikan ada enam. Pertama, menyiapkan aspek keimanan seorang manusia. Kedua, menyiapkan akhlak sebagai modal dalam berperilaku di masyarakat. Ketiga, menyiapkan kemampuan seseorang untuk hidup di tengah masyarakatnya. Keempat, menyiapkan seseorang dari sisi keahlian sebagai modal bekerja. Kelima, menyiapkan seseorang dari segi pemikirannya. Terakhir, menyiapkan manusia dari sisi keseniannya.

Dari bebeberapa rumusan tersebut dan yang telah diuraikan sebelumnya tentang hakekat manusia, maka penulis menyimpulkan bahwa tujuan akhir dari pendidikan manusia menurut Ibn Khaldun adalah agar manusia mencapai hakekat kemanusiaannya (al-haqiqat al-insaniyyah). Keterangan ini sebenarnya telah sedikit disinggung oleh Ibn Khaldun meskipun tidak secara jelas. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa hakekat kemanusiaan adalah ketika manusia dapat memahami segala realitas yang ada dan segala aspek yang ada di dalam dirinya sehingga dalam kehidupannya manusia beraktifitas berdasar pengetahuan yang utuh.

Pemahaman dan pengetahuan yang utuh atas realitas beserta aspek-aspeknya melahirkan sebuah kesadaran atas apa yang dilakukannya. Pengetahuan tersebut bukanlah pengetahuan yang didapat manusia dengan menggunakan dimensi kemanusiaan saja, tetapi juga pengetahuan yang didapatkan manusia dari alam di atas kemanusiaannya yaitu alam ruh yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Pengetahuan tersebut didapat melalui penyaksian langsung (musyahadah) dan melahirkan sebuah kesadaran yang dibawa kembali ke dalam alam manusia.

Dengan kesadaran tersebut, seorang manusia dapat hidup sesuai dengan fungsi perannya di muka bumi. Dengan kesadaran itu pula, seorang manusia dapat hidup di tengah masyarakat dengan baik dan tau apa yang harus dilakukan untuk memajukan peradaban masyarakat sekitarnya. Dengan kesadaran itu juga, manusia akan memaksimalkan apa yang ada di dalam dirinya untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh dirinya di dalam hidup di dunia.

Tujuan pendidikan Ibn Khaldun bukan hanya ditujukan untuk menjadikan seorang manusia yang berperan dalam kemajuan peradaban masyarakatnya belaka atau menjadi anggota komunitas masyarakatnya yang baik. Tetapi lebih jauh lagi, Ibn Khaldun terlihat mengharapkan terwujudnya manusia yang pengetahuannya menembus batas teritori wilayah dan budaya. Meminjam istilah Naquib al-Attas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah “to produce a good man and not a good citizen”.

Ringkasnya, tujuan akhir dari pendidikan adalah munculnya kesadaran dikarenakan pengetahuan yang utuh atas semua realita yang ada. Dengan bekal pengetahuan dan kesadaran tersebut, manusia dapat memenuhi kebutuhan dalam hidupnya. Dengan pengetahuan dan kesadaran tersebut pula, manusia dapat berperan di tengah peradaban masyarakatnya dan lebih luas lagi, alam semesta. Manusia tersebut dapat memainkan perannya sebagai khalifatullah fil ardl dengan sebaik-baiknya. Inilah manusia yang sebenar-benarnya manusia atau hakekat kemanusiaan.

METODE PENDIDIKAN

Proses pendidikan dan pengajaran pada dasarnya telah terjadi di tengah-tengah peradaban manusia secara alami. Karakter manusia yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain menjadi faktor utama adanya proses pendidikan alami tersebut. Faktor tersebut menyebabkan manusia berinteraksi satu sama lainnya. Di sisi lain, manusia yang memang pada dasarnya selalu mencari pengetahuan, akan menerima pengetahuan tersebut dari proses pengamatan secara alami dan mencari pengetahuan dengan berhubungan dengan orang lain.

Meskipun begitu, Ibn Khaldun juga menekankan perlu adanya proses yang teratur dalam pendidikan. Keteraturan tersebut demi efektifitas kegiatan pembelajaran. Menurut Ibn Khaldun, yang paling harus diperhatikan dalam proses pembelajaran adalah al-tadrij (dilakukan secara bertahap). Pembelajaran tidak bisa dilakukan sekaligus dalam satu waktu karena keterbatasan kemampuan peserta didik. Tahapan-tahapan tersebut dimulai dari hal yang paling mendasar dari suatu ilmu pengetahuan.

Berbicara tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan, Ibn Khaldun juga mengatakan bahwa semua ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh murid juga diperlukan sebuah fondasi yang mendasari semua ilmu pengetahuan yang akan dipelajarinya, yaitu al-Qur’an. Pendapatnya ini tampaknya didasarkan kepada pengamatannya dari berbagai model pendidikan di beberapa daerah, seperti Maroko (Maghrib), Andalusia, dan daerah-daerah di Afrika. Daerah-daerah tersebut menerapkan pendidikan al-Qur’an kepada murid untuk dipelajari dan dipraktekkan sejak usia dini dengan berbagai metode dan corak pengajaran sesuai dengan kebiasaan masing-masing daerah. Pendidikan al-Qur’an dilakukan di usia dini ditujukan agar pemahaman tentang kitab suci pedoman hidup tersebut akan lebih mengakar di dalam jiwa seorang manusia.

Setelah murid benar-benar memahami dasar-dasar suatu ilmu pengetahuan, maka dilanjutkan dengan pengajaran tentang hal-hal yang bersifat detail. Hal detail yang dimaksud adalah yang di dalamnya terdapat berbagai permasalahan dan perbedaan pendapat dalam satu bidang ilmu pengetahuan. Dengan pembahasan berbagai masalah yang berkaitan dengan ilmu tersebut, murid diharapkan dapat terbiasa menemukan problem solving dalam setiap masalah. Dengan begitu, seorang murid benar-benar menguasai bidang yang sedang dipelajarinya tersebut.

Setelah murid benar-benar telah memahami tentang seluk beluk ilmu yang dipelajarinya, murid tersebut harus mengulang lagi semua yang telah dipahaminya. Pengulangan latihan atas apa yang telah dikuasainya ini tidak dipastikan harus berapa kali jumlahnya. Menurut Ibn Khaldun, jumlah pengulangan tersebut tergantung dari kemampuan dan kecerdasan murid itu sendiri. Dengan pengulangan terus menerus dan pembiasaan terhadap satu keilmuan, murid akan memiliki malakah (keahlian) terhadap ilmu tersebut. Malakah ini tidak hanya dalam keilmuan teoritis saja tetapi juga dalam keahliak praktis atau skill.

Terlihat bagaimana Ibn Khaldun menggunakan terminologi malakah sebagai standar keberhasilan seorang pelajar menguasai suatu bidang keilmuan. Dalam kamus al-Munjid malakah diartikan sebagai sesuatu yang mengakar hasil dari belajar dan latihan berulang kali hingga tertanam kuat di dalam jiwa. Menurutnya, malakah lebih dari sekadar paham (al-fahmu) atau hafal (al-wa’yu). Hafal adalah kemampuan daya simpan memori otak terhadap suatu pengetahuan, simbol, atau informasi. Faham adalah kemampuan menangkap makna dari sesuatu yang ditangkap oleh indera. Sedangkan malakah adalah penguasaan terhadap suatu hal secara optimal di dalam tiga aspek, afektif, kognitif, dan psikomotorik secara bersamaan. Dari keterangan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa malakah adalah suatu pemahaman atau keterampilan yang menempel kuat dalam diri manusia yang dapat keluar tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu atau yang sering dikatakan sebagian orang dengan kemampuan “di luar kepala”.

FAKTOR PENTING LAIN DALAM PROSES PENDIDIKAN

Selain metode pendidikan yang tepat, Ibn Khaldun juga memberikan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan. Pertama, kualitas guru atau pendidik harus benar-benar mumpuni. Seorang guru, menurut Ibn Khaldun, haruslah orang yang benar-benar memiliki malakah dalam mengajar suatu keilmuan di samping malakah terhadap bidang ilmu yang diajarkannya. Kedua malakah tersebut harus dimiliki oleh seorang guru dikarenakan keduanya merupakan dua hal yang berbeda.

Kedua, faktor yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan adalah menghindari segala sesuatu yang dapat membingungkan murid untuk memahami satu bidang keilmuan. Ibn Khaldun memberikan permisalan seperti mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan dalam satu waktu. Menurutnya, hal ini akan mengakibatkan murid membagi fokus perhatiannya sehingga sulit baginya serta menghambatnya untuk menguasai satu cabang ilmu pengetahuan.

Ketiga, dalam proses pendidikan kepada anak sebaiknya menghindari kekerasan. Kekerasan yang dilakukan dalam proses pendidikan akan berakibat buruk bagi murid khususnya anak-anak. Menurut Ibn Khaldun, kekerasan yang dialami oleh murid akan menanamkan dan membentuk sifat keras hati di dalam jiwanya dan ketakutan. Berasal dari ketakutan dan kekerasan hati seorang murid mengakibatkan sikap malas, licik, penyelewangan, dan pemberontakan.

Keempat, para penuntut ilmu sangat dianjurkan untuk melakukan rihlah (berkelana) dalam mencari ilmu dan menjumpai guru-guru yang ahli di bidangnya. Faktor ini sangat penting sebagai penunjang bagi penuntut ilmu untuk sampai kepada kesempurnaan pengetahuan dikarenakan menurut Ibn Khladun, pembelajaran dengan cara berjumpa secara fisik dengan guru akan menghilangkan kebingungan yang dialami oleh murid dalam memahami suatu ilmu dibandingkan dengan ketika belajar hanya melalui buku. Guru-guru yang malakah dalam satu bidang keilmuan biasanya tidak berkumpul di dalam satu daerah. Mereka berpencar di berbagai daerah dan karenanya, penuntut ilmu sangat dianjurkan melakukan rihlah dalam pencarian ilmu.
Kelima, dalam proses pencarian ilmu, murid sangat dianjurkan untuk mengiringi proses belajarnya dengan riyadlah dalam bentuk dzikir terutama salat. Ibn Khaldun menjelaskan bahwa hal ini menjadi sangat penting bagi penuntut ilmu jika penuntut ilmu tersebut ingin benar-benar sampai kepada pengetahuan puncak akan suatu realitas. Faktor ini berkaitan dengan tujuan pendidikan yang telah dijelaskan di atas tentang pengetahuan yang utuh atas realitas. Untuk sampai kepada pengetahuan tersebut, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentang hakekat manusia, manusia harus lepas dari kemanusiaan dan masuk ke dalam alam ruh. Riyadlah dimaksudkan untuk manusia agar dapat masuk ke dalam alam ini dan mendapatkan pengetahuan yang utuh.

Pengetahuan tersebut tidak dapat diperoleh hanya dari mengandalkan al-aql al-nadzariy (akal analitis) yang menghasilkan sebuah pengetahuan yang bersifat spekulatif saja. Keutuhan pengetahuan atas realita akan diperoleh ketika tabir (hijab) yang ada di dalam diri manusia terbuka. Hal ini karena sifat pengetahuan tersebut yang melewati batas dimensi materi dan persepsi yang dihasilkan manusia terhadap materi tersebut. Inilah pengetahuan yang diterima oleh para nabi dan malaikat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *