KH. Aniq muhammadun: Orientasi Kualitas, Bukan Kuantitas

  • Whatsapp

KH. M Aniq Muhammadun (Pengasuh PP Mambaul Ulum Pakis Tayu Pati) menekankan agar pesantren dan lembaga pendidikan pada umumnya menekankan kualitas anak didik, bukan kuantitas.

Kuantitas tanpa kualitas dalam jangka panjang akan menurunkan kuantitas itu sendiri. Kualitas yang dicapai secara konsisten akan meningkatkan kuantitas karena kepercayaan yang tinggi dari masyarakat secara luas.

Bacaan Lainnya

Kualitas itu meliputi:
A. Moralitas luhur (اخلاق الكريمة)
B. Keilmuan yg memadai (تفقه في الدين)
C. Perjuangan di tengah masyarakat (دعوة الاسلام)

Tantangan Riil
Mewujudkan santri atau anak didik yang mampu memenuhi tiga kualitas di atas menghadapi banyak tantangan di era liberalisasi informasi sekarang. Handphone yang ada fasilitas internet, warung internet, warung kopi, dan fasilitas yang memanjakan anak didik untuk berselancar ke dunia maya tanpa batas menjadi tantangan serius.

Kebanyakan mereka belum mempunyai filter (alat penyaring) yang memadai sehingga belum bisa membedakan mana informasi yang berdampak positif dan mana yang berdampak negatif. Di tengah nihilnya filter, mereka akhirnya banyak yang mengakses informasi yang negatif, seperti pornografi yang membahayakan moral-mental-keilmuan dan prospek anak didik.

Di sisi lain, keterbukaan pergaulan membuat sekat dan pembatas menjadi semakin longgar, sehingga interaksi berjalan lebih fleksibel. Hal ini sering dimanfaatkan untuk hal-hal negatif, seperti pacaran kelewat batas, masuk dalam jaringan miras dan narkoba, dan lain-lain.

Hal ini jika menggunakan kaidah درء المفسدة مقدم علي جلب المصلحة (menolak kerusakan didahulukan dari mendatangkan kemajuan), maka langkah pencegahan (preventif) harus dikedepankan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Apatisme keluarga dalam mengawasi anaknya semakin membahayakan keberlangsungan anak didik dalam menjalani episode hidupnya yang sangat menentukan. Keluarga seyogyanya mempunyai perhatian lebih dan berpartisipasi aktif dalam pengawasan anaknya supaya anak terus dalam pengawasan dan kontrol orang tua, sehingga orang tua bisa cepat memperbaiki anak ketika sedang ada masalah dan bisa mempercepat eksplorasi potensi anak secara maksimal.

Hal ini sesuai fungsi orang tua dalam agama yang harus menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Dalam al-Qur’an yang terkenal dijelaskan: قوا أنفسكم واهليكم نارا (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). Jadi segala hal yang menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan neraka harus dicegah sedini mungkin.

Jebakan Materialisme
Materialisme menjadi virus yang mematikan karena bisa membuat seseorang lepas kontrol dlm berucap, bertindak, dan mengambil keputusan. Dalam konteks ini, maka dalam mendidik anak, nilai-nilai keikhlasan, kejujuran, kejuangan, kesantunan, dan kesabaran, harus dikedepankan supaya proses ideologisasi, internalisasi karakter, dan improvisasi keilmuan berjalan dengan maksimal demi terwujudnya sumber daya manusia yang handal di masa depan.

Penulis yang pernah mengelola lembaga pendidikan di kampung seperti mendapatkan pecutan keras dari dawuh aji KH M Aniq Muhammadun. Seyogyanya semua lembaga pendidikan lebih berorientasi kualitas dari pada kuantitas (yang berujung pada matrealisme jangka pendek yang membahayakan moralitas, keilmuan, dan daya juang anak).

Turun Langsung
Menghadapi persoalan rumit dalam konteks kaderisasi, lanjut KH M Aniq Muhammadun, pendidik (مربي) atau pengajar (معلم) harus terjun langsung ke lapangan untuk mengawal proses belajar mengajar anak didik supaya sesuai dengan kurikulum dan Khittah pendidikan yang menekankan kualitas moral, keilmuan, dan perjuangan di tengah masyarakat.

Seribu teori tanpa praktek tak berguna. Dalam hal ini, maka pendidik dan pengajar harus mempraktekkan langsung segala pemikiran dan ide gagasan cemerlang untuk mengatasi semua persoalan dengan memahami kendala yang ada di lapangan dan berpikir solusi taktis implementatif yg efektif untuk mengatasi kendala yang ada.

Kader Ideal Harus Diperjuangkan

Islam membutuhkan kader ideal yang kelahirannya harus diperjuangkan. Tidak boleh ada kemalas-malasan dan apatisme. Semua elemen bangsa harus bergerak dan berjuang untuk melahirkan kader-kader muda pembangunan negeri yang mempunyai integritas moral, kredibilitas dan kapabilitas intelektual, visioner, dan sosok pejuang masyarakat yang tulus ikhlas demi kemajuan bangsa dan agama.

Nasehat penting KH M Aniq Muhammadun di atas menjadi bahan refleksi mendalam bagi semua praktisi di lembaga pendidikan, sehingga tidak terjadi hal-hal negatif lahir dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan insya Allah akan melahirkan SDM-SDM handal untuk mencapai Indonesia Emas tahun 2025 yang akan datang.

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani (Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Pati)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *