Riwayat Keluyuran Ulama-Ulama Terdahulu

  • Whatsapp

Perangkat teknologi semakin canggih dan sekarang dunia tak lebih lebar dari layar telepon genggam. Apa saja bisa dicari, informasi apapun gampang diperoleh dan segalanya mudah diakses hanya lewat satu jari belaka.

Bahkan imajinasi-imajinasi tentang keindahan wisata, tempat duduknya dan spot untuk selfinya, yang belum pernah kita kunjungi sekalipun bisa kita simpan di salah satu folder otak kita tanpa harus datang ke tempatnya terlebih dahulu. Tentunya, ini semua berkat barang yang saban hari kita elus-elus, usap-usap dan pelototi.

Bacaan Lainnya

Sebagian besar kebiasaan yang kita lakukan di kehidupan nyata seolah-olah beralih sepenuhnya ke dunia maya, terlebih lagi di masa penyebaran Covid-19 seperti saat ini. Memang, kelihatannya jasad fisik hanya diam saja di kamar, tetapi di sisi lain akun sosmed kitalah yang bergelantungan, dari stalking satu foto mantan ke foto mantan lain, berselancar dari satu berita ke berita lain, dan keluyuran dari akun warung ngopi pindah ke akun warung buku.

Hal buruknya adalah saat masa covid-19 pungkas dan mereda, aktivitas kehidupan yang kita lakukan setiap hari tak pulih kembali seperti masa sebelum adanya covid-19, lebih-lebih kegandrungan akan gadget. Sehingga dampak yang timbul jadi berkebalikan, dunia maya menggeser dunia nyata.

Akhirnya, kita jadi enggan ngaji kopdar (kopi ndarat) ke kiai-kiai, dalihnya, toh ngaji daring juga bisa bahkan bisa diulang-ulang beratus-ratus kali sampai tangan jimpe. Kita jadi mudah mengesampingkan belajar dengan guru di sekolah, alibinya, toh mencermati akun ruang guru malah lebih memahamkan. Kita jadi malas keluyuran dan lebih terseret di dunia virtual.

Halah lebay….cangkemmu saja itu. “Aku sudah keluyuran tapi di dunia script, kode-kode, peredaran foton-foton, jaringan listrik dan rumus algoritma.”

Bhaa…. keluyuran macam apa itu?

“Padahal dalam keluyuran (dengan arti yang sebenarnya) barokahnya sangat banyak.” jelas Gus Baha’ dalam saalah satu ngajinya.

Apabila kita coba putar kembali teropong sejarah dunia ke belakang, meneroka kilas balik masa-masa ulama terdahulu, tidak sedikit kitab yang merekam kegandrungan ulama-ulama terdahulu dalam hal Rihlah, artikan saja keluyuran. Tentu konteks ini dalam rangka mencari ilmu. Ya, apabila diterima jadi mantu, itu lain hal, bonus.

Sang hujjatul Islam Imam al ghazali, selama masa karir intelektualnya ia mondar mandir mengembara di banyak wilyah, mulai dari Naisabur, Jurjan, Mekah, Madinah, Jerusaalem, Baghdad, Suriah hingga Mesir. Berkah keluyuran dan ngaji kopdar dari satu majlis ke majlis lain dengan berbagai guru menjadikan dirinya tercatat sebagai ulama besar dan tersohor sepanjang sejarah.

Datang dari daerah Magrib (Maroko), ada Ibnu Batutah. Ia adalah seorang alim (cendekiawan) yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad Pertengahan.

Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, , Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok.

Pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia inilah yang lantas diriwayatkan ulang dalam buku yang berjudul Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār (Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib), yang lazim disebut Ar-Rihlah ( lawatan atau keluyuran). Sampai sekarang buku ini masih dijadikan sebagai sumber rujukan di berbagai belahan dunia.

Ibn Khaldun dalam karangan magnum opusnya “Muqoddimah” bertutur bahwa keluyuran dalam rangka mencari ilmu dan bertemu dengan para masayikh dapat menambah kesempurnaan belajar, sebab kita bisa meraup pemahaman, teladan perangai, dan kisah-kisah dari tokoh-tokoh besar di berbagai daerah.

Seorang pengelana adalah seseorang yang melipat jarak dan menggulung bumi. Semakin jauh mereka keluyuran semakin banyak pula mereka bergaul dengan macam-macam orang, kebudayaannya, adat istiadatnya, pandangannya dan keyakinannya.

Dalam kitab al Bidayah wa al Nihayah buah karya Ibn Katsir, diceritakan perjuangan yang begitu totalitas dari seorang tabi’in bernama Said bin Al Musayyab untuk mencari satu hadits. Dia keluyuran berhari-hari dan bermalam-malam hanya untuk mencari satu hadits saja.

Bayangkan, luar biasa bukan….

Lain cerita datang dari Imam Ahmad bin Hambal. Ia pernah pergi haji sebanyak lima kali dan mengelilingi bumi hingga kitab musnadnya selesai.

Ibn al Jauziy bahkan sampai berkata, barang siapa yang menyedekahkan masa mudanya untuk mencari ilmu (keluyuran) maka masa tuannya akan terhormat.

Maka penting sekali kegiatan keluyuran itu, orang yang kurang keluyuran (pergaulan) seringkali gampang heran ketika mendapati sesuatu hal baru. Apalagi soal perbedaan sudut pandang. Kadang, kadang ya… (tidak selalu) ia begitu ngotot mempertahankan bangunan ilmu atau konsep pemahaman yang ia klaim benar. Apa saja yang bertentangan dengan pendapatnya mudah sekali ia tolak demi mengkokohkan klaim kebenaran versi tunggalnya.

Satu contoh, dulu orang-orang Eropa meyakini bahwasanya semua angsa berwarna putih. Keyakinan ini akhirnya tumbang saat Willem de Vlamingh menjadi orang Eropa pertama yang melihat angsa hitam di Australia.

Lagi-lagi ini berkah dari keluyuran. Coba saja kalau sampai si Willem batal bepergian, entah diputus pacarnya atau galau lihat teman-temanya sudah pada nikah. Apa yang akan terjadi? pasti orang Eropa tetap ngotot bahwasanya semua angsa ya berwarna putih.

jadi tak berlebihan saat kita menceramahi teman yang kuper bin gak percoyonan terkait satu hal yang ia yakini, padahal salah.

“Eeeealah……, cah pekok!! bener nek keluyurane kurang adoh tur ngopine kurang pait.”

Lalu, kapan kita bisa keluyuran dan ngopi bareng? hehe..

Oleh: Muhammad Harir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *