KH. Suyuthi Abdul Qadir: Ulama Fiqih Kharismatik Pati

  • Whatsapp

KH. Suyuthi Abdul Qadir–Beliau dilahirkan di Pati pada 4 Dzulqa’dah 1321 H dari pasangan KH. Abdul Qadir dan Nyai Hj. Arum. Kiai Suyuthi mulai belajar agama kepada ayahnya sejak kecil sebelum ditinggal wafat pada usia 17 tahun. Setelah belajar kepada ayahnya, Kiai Suyuthi mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain untuk memuaskan dahaga intelektualnya yang tidak pernah padam sepanjang hayat. Beberapa pesantren yang pernah disinggahi oleh Kiai Suyuthi yaitu: Pesantren Mambaul Ulum Jamsaren Solo (1921-1923) yang diasuh oleh Kiai Idris, Pesantren Kasingan Rembang (1923-1924), dan Pesantren Tebuireng Jombang (1924-1937) diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Di Tebuireng, Kiai Suyuthi mengabdikan diri pada Kiai Hasyim Asy’ari. Karena ketekunan dan kedalaman ilmunya, ia sering diamanahi untuk menjadi badal (wakil/pengganti) Kiai pendiri organisasi NU itu. Satu misal, ketika Kiai Hasyim sedang udzur tidak kuasa mengajar santri-santrinya, beliau menunjuk Kiai Suyuthi untuk menggantikan posisinya.
Pada saat itu, menjadi badal dari Kiai Hasyim merupakan sesuatu yang istimewa di mata santri lain. Karena hanya santri senior lah senior yang mampu dan biasanya mereka akan menjadi kiai besar kelak ketika kembali ke kampung halaman.

Prestasi Kiai Suyuthi ketika belajar di Tebuireng ini secara langsung berpengaruh dalam karirnya di Nahdlatul Ulama tingkat cabang. Posisi sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pati di era KH. Abdullah Zain Salam, KH. Muhammadun Abdul Hadi, dan KH. MA. Sahal Mahfudh, adalah pengakuan terhadap kedalaman ilmu, keluhuran budi, keikhlasan perjuangan, dan jiwa kepemimpinannya. Semua modal ini sudah ditempa dan dimatangkan pada saat mondok di Tebuireng.

Sebagai tokoh NU, akidah, syariat dan tasawuf adalah tiga aspek yang tidak bisa dipisahkan sebagai satu kesatuan gerak dan langkah Kiai Suyuthi. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Mandzumah Hidayatul Adzkiya’ Ila Thariqil Auliya’ Karya Syaikh Zainuddin Ibn Ali Al-Malibari, bahwa “Orang yang mendalami ilmu fiqh tapi tidak mengkaji dan mengamalkan ilmu tasawuf, maka ia menjadi orang fasiq (keluar dari jalan yang benar karena tidak mengetahui rahasia dan hikmah syariat). Sedangkan orang yang mengkaji dan mengamalkan tasawuf tanpa memahami fiqh, maka ia menjadi zindiq (menyembunyikan kekafiran dalam hatinya karena tidak melakukan kewajiban lahir).”

Akidah, syariat dan tasawuf telah menyatu di diri Kiai Suyuthi dalam setiap tarikan nafas dan gerak perjuangannya. Khusus dalam hal tarekat, beliau mengikuti tarekat Syadziliyah. Hal ini dibuktikan dengan kepemilikan Hizb Syadziliyah. Namun banyak masyarakat yang tidak mengetahui tarekat ini, karena Kiai Suyuthi sendiri tidak menonjolkan ciri tarekat dalam aktivitas kesehariannya.

Dalam kesehariannya, wajah sebagai ulama yang kharismatik sangat menonjol dari Kiai Suyuthi. Banyak ulama sekitar Pati yang berbondong-bondong datang ke Guyangan untuk menyerap ilmu fiqh dan ilmu lain dari beliau. Sebagai santri yang telah melalang buana di berbagai pesantren ini, keilmuan Kiai Suyuthi diakui oleh para kiai, santri, pejabat dan seluruh elemen masyarakat di Pati, khususnya di Guyangan. Sehingga mereka sangat bersemangat dan tak segan untuk menimba ilmu dari beliau.

Pemikiran KH. Suyuthi Abdul Qadir
Kiai Suyuthi dikenal sebagai ulama ahli fiqh. Pada zaman itu, beliau jadi tokoh penting di Pati yang identik dengan ilmu fiqh kontekstualnya, yaitu konsep realita fiqh yang mampu merespon persoalan sosial secara aktif dan solutif.
Melihat posisinya sebagai Rais Syuriah PCNU Pati, otoritas keilmuan fiqh menjadi sebuah keniscayaan. Forum kajian fiqh yang menjadi identitas utama organisasi ini adalah Bahtsul Masail. Dalam forum ini, kajian fiqh dibahas secara serius. Rais Syuriah biasanya berposisi sebagai Mushahih (korektor) yang mengoreksi kesalahan, memilih Nash (dalil) yang benar, dan merumuskan jawaban yang tepat. Tentu semua ini membutuhkan kompetensi yang memadai dalam bidang kitab kuning, khususnya disiplin ilmu fiqh. Tentunya, kemampuan Kiai Suyuthi tidak diragukan lagi dalam hal ini.
Adapun beberapa produk dari pemikiran Kiai Suyuthi adalah sebagai berikut:
1. Nikah Sirri (nikah yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama) hukumnya tidak sah.
2. Membangkang Pemerintah (UlilAmri) dikategorikan kaum fasiq.
3. Shalat witir dilakukan tiga rakaat yang dilaksanakan langsung setelah sholat isya’.
4. Diperbolehkannya membongkar masjid secara total.

Oleh: Suharsono

Sumber:
Al-Malbari, Zainuddin Ibn Ali, MandzumahHidayatulAdzkiya’ IlaThariqilAuliya’, Jakarta: Dar Ihyail Kutub al-Arabiyyah, t.t.
Asmani, Jamal Makmur, KH. Suyuthi Abdul QadirGuyangan Penerus Perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Leska ( Lembaga Studi Kitab Kuning), 2019.
Bangkit, Media Informasi dan Kreasi Siswa RaudlatulUlum, Edisi 14 Tahun 2014, Edisi 16 Tahun 2016, dan Edisi 18 Tahun 2018.
Mizawie, Zainal Milal, Masterpiece Islam Nusantara, Sanad, dan Jejaring Ulama Santri (1830-1945), Jakarta: Pustaka Compass, 2016, cet. 2.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *