Coretan Diskusi “NGISI CANGKIR”: Merawat Komunikasi, Menunjang Eksistensi di Tataran Stakeholder Desa

  • Whatsapp

Organisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V adalah kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan organisasi tidak boleh dianggap hal sepele. Alasannya, karena menggapai tujuan itu dibutuhkan proses yang panjang sekali, melewati berbagai dinamika, usaha total merumuskan strategi, dan disokong pengurus dan anggota yang solid berperan sebagai tim. Seringkali dalam lika-liku organisasi, terjadi kebuntuan, macet di tengah jalan. Yang jika dianalisa, sumber utamanya mungkin berasal dari konflik internal, ketidak seriusan pengurus, anggota yang kabur, dan segudang problem-problem lain yang mewarnai organisasi. Ketika kebuntuan itu dibiarkan menjalar kemana-mana, bagai penyakit yang tidak segera dicarikan obat. Tinggal menunggu masa saja, suatu organisasi akan tereliminasi dari panggung sejarah. Organisasi manapun jika pengurusnya antipati atas masalah, bahkan cenderung menghindar. Maka yang terjadi adalah masalah tidak terselesaikan, timbul masalah baru, dan muncul aksi saling melempar kesalahan. Jangka panjangnya, organisasi tidak akan bisa berkembang dan cenderung jalan di tempat, syukur tidak ambruk.

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) sebagai organisasi yang bergerak pada ranah keterpelajaran dan keagamaan juga harus membuka mata lebar saat kebuntuan ini muncul. Wujudnya kebuntuan merupakan tanggung jawab kolektif pengurus—bukan hanya figur ketua—mencari jalan keluar dari suatu akar permasalahan. Usaha menerobos kebuntuan dapat tercipta dalam rupa analisis masalah, mengkaji masalah, lalu didiskusikan bersama. Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Trangkil mengaktualisasikan pola penyelesaian masalah dengan terobosan progam Ngisi Cangkir, progam yang kata Rekan Muhammad Salman, Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Pati sekaligus Alumni PAC IPNU Trangkil sebagai wadah mengolah disparitas pemikiran, forum memadu rasa, dan menata wacana. Boleh jadi, setiap organisasi punya ruang diskusi sendiri. Nah, kalau di IPNU Trangkil namanya Ngisi Cangkir. Setiap diskusi tidak boleh berhenti pada aspek wacana, ia haruslah lahir menjadi gagasan berpikir yang melandasi aksi nyata. Ketika ada masalah yang menyangkut organisasi dan tidak dapat dipecahkan sendiri, maka forum diskusi inilah yang bertugas sebagai tungku masak solusi. Embrio progam Ngisi Cangkir sudah terbentuk sejak lama, menurut pengalaman penulis, Ngisi Cangkir sudah menjadi tradisi diskusi malam semenjak tahun 2017, pada era Rekan Taufiq Ushuluddin (Ketua PAC IPNU Trangkil periode 2017-2019) hingga sekarang.

Diskusi Ngisi Cangkir kemarin (5/3 2021) bersama narasumber Rekan Salman mengangkat tema Merawat Komunikasi, Menunjang Eksistensi di Tataran Stakeholder Desa, tema yang mungkin khas didengar kader IPNU-IPPNU, sebab terdapat kata komunikasi dan stakeholder (pemangku kepentingan). Komunikasi sendiri adalah jantung dari organisasi, tanpanya organisasi hanyalah tubuh yang mati. Bagaimana tidak, kita tidak mungkin dapat menjalankan roda organisasi tanpa memakai komunikasi. Ibarat suatu sistem komputer, dia seperti kabel yang menghubungkan kode pemrogaman ke bagian-bagian dalam komputer. Tanpa kabel penghubung, komputer tidak dapat bekerja secara normal, bahkan hanya onggokan besi tidak berguna.

Komunikasi dalam organisasi IPNU-IPPNU menurut Rekan Salman terbagi menjadi 2 bagian. Pertama komunikasi internal, adalah komunikasi antara seorang ketua dengan pengurus harian, pengurus harian dengan pengurus bidang, pengurus bidang dengan anggotanya, anggota dengan sesama anggota, dan segala komunikasi yang masih lingkup dalam organisasi. Semuanya membentuk susunan atau pola yang kompleks jika diamati, satu saja pola ini tersendat, maka timbul istilah miss-komunikasi (komunikasi kacau) yang lama kelamaan menjadi akar konflik-konflik internal. Kedua, adalah komunikasi eksternal. Komunikasi ini adalah tanggung jawab ketua atau demisioner, seorang ketua berperan menjalin hubungan dengan orang-orang di atas kepengurusannya, instansi, atau organisasi selain IPNU-IPPNU, merekalah yang kita kenal dengan stakeholder atau pemangku kepentingan. Komunikasi yang terbangun baik akan menjadi kunci suksesnya organisasi. Namun, faktanya membangun komunikasi yang baik itu tidak gampang. Butuh yang namanya kepekaan terhadap momentum, kapan saatnya menjalin komunikasi, tahu latar belakang orang yang diajak berkomunikasi, serta mengawali pembicaraan dengan sekadar basa-basi juga penting. Komunikasi eksternal menuntut adanya proses dan kesabaran tinggi, yang dimana ketua punya beban berat di sini. Sejauh mana ketua berhasil mengelola komunikasi eksternalnya, sejauh itulah organisasi dapat dibuktikan eksistensinya. Masalah-masalah inilah yang menjadi isu pokok lahirnya tema diskusi.

Merawat komunikasi hemat penulis, dapat diusahakan dengan berbagai hal; yang pertama adalah mengenal dan mengetahui pihak yang kita ajak komunikasi. Semakin kita mengenal, peluang kita memperoleh akses komunikasi akan semakin terbuka lebar. Hal ini penting sekali, sebab minimnya pengetahuan atas lawan bicara dapat berakibat pada kita sendiri. Kita mungkin akan gelagapan ketika pertama kali bertemu. Hal itu bisa diantisipasi melalui jaringan yang kita punya, orang lain yang dekat dengan pihak tersebut bisa ditanyai seputar kehidupannya, syukur-syukur informasi penting dapat kita gali juga; yang kedua, setelah menjalin komunikasi, kita juga punya tanggungan menjaga dan merawat. Komunikasi harus disiram sesering mungkin agar tidak layu. Tanda komunikasi subur dirawat adalah kita tidak merasa canggung dengan lawan bicara, begitupun dia tidak merasa asing dengan kita. Kurangi aktivitas komunikasi hanya ketika butuh, hal ini bisa menimbulkan persepsi buruk stakeholder tentang kita. Paling sering terjadi, kita tidak kenal etika berkomunikasi yang baik. Salah waktu dan tempat, apalagi salah topik pembicaraan.

Stakeholder (pemangku kepentingan) dalam KBBI berarti orang atau pihak yang memiliki kepentingan—penulis menghendaki pemangku kepentingan di tataran desa, jika dihitung komunal banyak sekali. Sedangkan definisi stakeholder menurut Freeman dan McVea (2001) adalah setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Yang paling berpengaruh umumnya adalah kepala desa, itu awam jika tidak ada tokoh yang lebih disegani di desa, seperti tokoh masyarakat, ulama, atau kiai. Kepala desa merupakan tumpuan inti yang bisa dibuat pijakan IPNU-IPPNU ranah ranting ketika memiliki wacana melahirkan progam kemasyarakatan. Salman mengatakan, “IPNU-IPPNU memiliki kebermanfaatan yang tinggi sebagai organisasi yang mengawal pelajar desa untuk terhindar dari kenakalan remaja.” Kebermanfaatan itu menurutnya, jangan sampai dirubah terbalik. IPNU-IPPNU malah menjadi ajang menyelipkan kenakalan, perilaku ini jelas merusak citra besar organisasi IPNU-IPPNU, merusak nama baik Nahdlatul Ulama, organisasi yang menjadi payung hukum IPNU-IPPNU. Kepala desa menurut Rekan Salman seharusnya berterima kasih atas adanya organisasi yang bermanfaat—IPNU-IPPNU di desa. Berbicara kenakalan remaja, hal itu tidak terlepas dari situasi psikologi remaja yang cenderung labil. Remaja kerap mencari suatu kegiatan yang dapat menghabiskan waktu senggangnya. Nahas, problem kenakalan ini menjadi sumbangsih besar kegiatan yang dipilih remaja, aksi tawuran, penggunaan obat terlarang, hubungan gelap dan banyak lagi contoh kenakalan ini. IPNU-IPPNU jelas punya gerbang besar yang siap mewadahi pelajar manapun, termasuk juga pelajar yang gabut, istilah populer untuk remaja yang sedang bingung melakukan kegiatan apapun. Sekadar informasi, kata gabut ini belum memperoleh tempat di KBBI Edisi V, kata yang bisa mengungkapkan makna gabut adalah menganggur.

Pemangku kepentingan yang lain adalah organisasi mitra pelajar, Karang Taruna, komunitas-komunitas, dan banom-banom NU. Penting sekali menjalin relasi dengan banyak jaringan, alasannya demi apa? kegiatan IPNU-IPPNU selama ini masih berkutat di ranah internal, rutinan di sekretariat, rapat-rapat, dan lainnya. IPNU-IPPNU sebetulnya punya tiket emas berkhidmat, mengabdi di masyarakat. Tiket ini menjadi tiket biasa apabila pengurusnya tidak bergerak aktif memantau kebutuhan masyarakat, situasi kondisi desa, dan kebijakan yang digulirkan pemerintah desa. Mengapa sampai segitunya? hal ini tidak terlepas dari usaha IPNU-IPPNU yang sedapat mungkin merancang kegiatan yang cocok dengan kebutuhan masyarakat. Timbal baliknya, pelajar IPNU-IPPNU akan mendapat kepercayaan dan sugesti positif dari banyak pihak. Golnya, organisasi IPNU-IPPNU ranting dapat terus berkiprah dan eksis di mata masyarakat.

Mengakiri tulisan ini, penulis berharap gagasan yang ditanam Rekan Salman kepada peserta diskusi Ngisi Cangkir dapat tersebar juga ke seluruh kader IPNU-IPPNU—khusunya dalam lingkup kabupaten Pati, bahkan seluruh nusantara. Visi Pelajar NU Pati yang berbunyi Pati Bumi Literasi menurut hemat penulis harus diturunkan menjadi wacana-wacana kritis yang terendap pada otak kader IPNU-IPPNU. Wacana itu berkembang menjadi gerakan membaca, berdiskusi, dan mengaktualisasi.

“Literasi itu, nantinya diturunkan beranak pinak menjadi tiga, yaitu baca, diskusi, dan aksi.” ungkap Ketua PC IPNU Pati periode 2019-2021 saat menguraikan visi PC IPNU-IPPNU Pati. Usaha menyebarkan gagasan ini adalah tanggung jawab setiap kader IPNU-IPPNU yang memiliki potensi. Rekan Salman berharap, Kabupaten Pati semakin semarak dengan Kader IPNU-IPPNU yang menuangkan, mencatat, dan melahirkan gagasan lewat tulisan, warisan para pendiri yang seharusnya dipertahankan. IPNU-IPPNU masih punya banyak pekerjaan rumah menuntaskan banyak hal, meskipun beberapa sudah dikerjakan, seperti momentum akreditasi ranting dan komisariat sekabupaten Pati yang telah berakhir, yang berarti tugas internal pengurus sudah dianggap tuntas. Kesuksesan PC IPNU-IPPNU Pati menjadi pimpinan cabang pertama yang menggelar akreditasi adalah kado indah saat momen Hari Lahir IPNU ke-67 dan IPPNU ke-66.

Tabik,
Fahri Reza Muhammad
Kadilangu,Maret 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *