Aku Ingin Jadi Angin (Cerpen)

  • Whatsapp
JURNALISTIK

Aku Ingin Jadi Angin

Oleh : PAC IPNU IPPNU Margoyoso

“Heh, kamu kenapa murung gitu, ngga seperti biasanya?” pertanyaan itu jatuh tepat ke gendang telingaku seperti bom yang menghujam—tak mampu kubendung dengan perisai apapun, ucap Nia mengagetkanku.

“nggak kok, aku ngga kenapa kenapa.”

Jawabku, dengan harapan: semoga tak ada suara yang keluar dari mulutnya lagi, meski itu helaan nafas dia.

Kita memang sudah janjian berdua—selepas kuliah di taman ini; mencari suasana baru. Hitung-hitung refreshing otak, tenaga dan fikiran dari kegiatan monoton yang kita jalani setiap harinya; bergelut dengan leptop, bisingnya penyampaian dosen, apalagi saat ada yang sok kritis dalam menanggapi statemen waktu presentasi, gemes banget, pingin nyubit ubun-ubunnya.

***

Nia kembali membuyarkan lamunanku dengan lambaian tangannya di depan mataku.

“heh, kamu ini kenapa, jawab, Il!”

pertanyaan itu datang lagi.

“ngga apa-apa, kok Nia.”

jawabku, meyakinkan dia.

“ngga, jawab jujur; Il, kamu kenapa?” tegas Nia kepadaku.

semakin kesini aku tak mungkin menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi jawaban apa yang pas untuk pertanyaan yang semakin menjerat itu.

“nah, kan diam. Kamu lagi ada apa-apa, mesti. Aku yakin.” susul Nia melihatku kebingungan menjawab pertanyaannya.

“heh, Il. kamu ada apa, cerita! kalau ngga gua cekek lo!”

apaan, sadis amat ni anak.

“haduh, aku harus jawab apa ini, ih.” gerutuku dalam hati.

dengan sangat sangat terpaksa aku menjawab:

“aku ingin jadi angin; aku bisa pergi kemana pun yang aku mau, aku bisa bantu orang-orang yang membutuhkanku, bahkan aku bisa menghempaskan orang-orang yang hati nuraninya mati.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *