Toxic Positivity : Kalimat Positif Pemicu Stress

  • Whatsapp
JURNALISTIK

“Itu perasaanmu kali, tetap positif thinking aja”, sering mendengar kalimat tersebut? atau yang ini, “Masalahmu tak seberapa dengan masalahku, jadi kamu harus bersyukur”. Kalimat-kalimat tersebut sering kali bertebaran ketika kita dirundung masalah.

Secara tidak sadar, kerap kali kita juga melontarkan kalimat-kalimat senada kepada orang lain dengan dalih memberikan semangat atau motivasi. Bagi sebagian orang, memberikan kalimat semacam itu akan ampuh memeperbaiki keadaan. Akan tetapi, bagi sebagian orang lainnya, kalimat tersebut justru dapat membuat seseorang menjadi kerdil dan mengganggu kesehatan mental karena berseberangan dengan apa yang dirasakan.

Dewasa ini, isu kesehatan mental masih dianggap sensitif dan sepele oleh sebagian orang. Masyarakat cenderung kurang peduli akan pentingya mental health. Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa setiap detik terdapat satu orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menjadikan kasus bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar di dunia pada rentan usia 15-29 tahun. Salah satu faktor yang memicu seseorang melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan mental dan depresi. Bahkan kita sering menghakimi dan menilai tindakan seseorang itu buruk tanpa tahu latar belakang yang sebenarnya. Kita juga tidak pernah tahu seberat apa masalah yang dipendam dan pada akhirnya berujung depresi.

Ketika memiliki masalah, kita sering mendapatkan wejangan atau pesan yang memakai prinsip “positive vibes only” di mana kita diharuskan untuk terus berpikir dan menebarkan hal-hal positif apapun masalahnya. Kita juga dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja, tetap tegar, padahal di dalam layaknya nasi kucing tanpa karet, ambyaar.

Hal semacam itu dapat ditemukan saat sedang berduka, tertekan, dan merasa lelah dengan segala rutinitas. Sering kali orang-orang melontarkan kalimat positif tapi justru beracun untuk kita. Hal ini sering dikenal dengan istilah toxic positivity. Kita dipaksa harus bahagia, pura-pura positif, seolah-olah emosi negatif tidak pernah mendapatkan jatah ruang di dalam pikiran.

Walaupun berpikir positif pada dasarnya baik, namun bukan berarti hal tersebut membuat kita tidak mengakui adanya perasaan negatif yang muncul.

Menyangkal emosi negatif hanya akan memperparah kondisi. Toxic positivity membuat emosi tidak stabil dan tertekan karena selalu berpura-pura bahagia di balik topeng penderitaan. Menurut Pubmed, orang yang terbiasa menghindar untuk mengakui emosi negatif yang dirasakan akan berakhir dengan perasaan yang lebih buruk. Sehingga tidak heran banyak orang yang mengalami depresi yang berujung bunuh diri.

Di antara kita mungkin belum sadar masih terbelenggu dalam toxic positivity. Padahal ciri-cirinya sangat mudah untuk diidentifikasi seperti merasa bersalah ketika sedih dan marah, cenderung menyembunyikan emosi negatif, mengabaikan masalah, dan mengabaikan perasaan orang lain.

Toxic positivity juga dapat dihindari dengan beberapa cara.

Berikut Cara Menghindari Toxic Positivity

  1. Menerima setiap emosi, yaitu jujur dengan diri sendiri atas perasaan yang dialami. Sehingga kita lebih tahu bagaiamana cara merespon terhadap perasaan tersebut. Selain itu, kita juga lebih tahu jenis bantuan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mental.
  2. Mengutarakan emosi lewat kata-kata atau tulisan. Menurut studi dari Unversity of California menyebutkan bahwa, mengutarakaan perasaan ke dalam bentuk kata-kata atau tulisan akan mengurangi intensitas emosi seperti kesedihan, kemarahan, dan sakit hati.
  3. “It’s okay to be not okay”. Selalu mengakui jika tidak sedang baik-baik saja. Karena hidup itu tidak selamanya lurus karena level permasalahan setiap individu itu berbeda-beda dan cara mengatasinya pun berbeda.
  4. Menjadi pendengar yang baik dan memvalidasi perasaan teman atau orang lain. Mencoba memberikan ruang untuk seseoarang meluapkan segala emosi dan menerima serta jujur kepada diri sendiri. Dengan begitu seseorang akan lebih terbuka tanpa harus diminta.
  5. Jangan membandingkan cerita atau pengalaman orang lain dengan ceritamu karena ini bukan kompetisi siapa yang lebih menderita.
  6. Memvalidasi perasaan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanyakan bagaiamana perasaan temanmu setelah curhat, apakah sudah lega atau masih mengganjal. Dan jangan memberikan saran atau nasihat tanpa diminta.

Bagi pembaca yang pernah mengalami hal serupa, emosi negatif itu lumrah, kok. Kita hanya perlu berpikir realistis serta aware terhadap diri sendiri dan orang lain, karena pada dasarnya kita pun ingin dimengerti.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *