Literasi Media Mengubah Masa Depan Remaja

Menurut Hafied Cangara Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa sendiri adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan media komunikasi seperti televisi, radio, internet, dan surat kabar.

Banyak hal yang dapat dimuat di media massa, mulai dari berita faktual hingga non faktual, acara hiburan, dari film kartun hingga film yang hanya dipertontonkan untuk orang dewasa. Acara-acara tersebut dapat dengan mudah di akses melalui TV atau radio.

Televisi dan radio sendiri memiliki 3 fungsi, yaitu informasi, edukasi, dan hiburan. Namun, semakin kesini siaran televisi sudah didominasi dengan hiburan. Hiburan ini sendiri, banyak menayangkan sinetron-sinetron yang kurang cocok menjadi tontonan anak remaja. Namun kini, sinetron menjadi hal biasa untuk ditonton anak maupun remaja. Padahal, sinetron memiliki dampak yang membahayakan bagi remaja karena akan menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak kecerdasan otak sebelah kanan. Untuk edukasi sendiri, hanya ada dibeberapa channel dengan waktu sangat minim. Zaman sekarang, hanya sedikit remaja yang mau menonton berita di TV, selebihnya mereka lebih tertarik menonton sinetron atau hiburan lainnya. Tidak hanya sinetron, hiburan atau komedi yang membicarakan kontroversial, gosip, dan lainnya juga tidak kalah diminati oleh para remaja.

Sebuah penelitian American Psychological Association (APA) pada tahun 1995, menjelaskan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berlaku buruk (giwmukti.multiply.com). Dengan hal ini, KPI harus lebih selektif terhadap program televisi masa kini, dengan tupoksi yang dimiliki KPI seharusnya kualitas siaran di Indonesia membawa semangat pembangunan manusia sesuai nawacita Presiden Jokowi. Masyarakat khususnya remaja juga harus dapat memilih acara yang bermanfaat, cerdas dalam menonton, dan kritis dalam menyikapi tontonan. Di era pandemi seperti ini, TVRI adalah salah satu stasiun TV yang tepat sebagai bahan tontonan, karena TVRI dapat membuat program-program yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya remaja. Program yang berisi edukasi juga bisa ditemukan dibeberapa radio.

Semakin berkembangnya zaman, radio kurang diminati dikalangan remaja. Bahkan sudah jarang yang mempunyai radio dirumah. Berdasarkan Survey Nielsen 2014, tiap tahun, pendengar radio mengalami penurunan hingga 3%. Sedangkan sebagai media promosi, radio hanya memiliki porsi penetrasi 30% penggunaan di tengah masyarakat, dibanding televisi, majalah, dan media lainnya. Penurunan peminat ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti radio dianggap membosankan dan mudahnya mengakses lagu dengan cepat dari internet.

Dunia internet yang semakin berkembang, kini merajalela di berbagai kalangan. Hanya dengan menggunakan internet, semua media massa dapat diakses. Seperti film, video, musik, dan berita dapat dilihat di YouTube, Google, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Namun sayangnya, karena kemudahan diakses itulah menjadikan apa yang seharusnya tidak boleh dibaca dan dipertontonkan menjadi hal wajar bagi remaja.

Apalagi, jika kurangnya pengawasan dari orang tua. Bagi remaja yang masih labil dan mudah terpengaruh oleh orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mereka bebas mengakses sesuatu yang seharusnya tidak boleh diakses untuk kesenangannya sendiri. Hal itu dapat menjadikan kecanduan pada diri remaja. Bila tidak segera dihentikan, akan dengan mudah mengubah mindset dan perilaku kedepannya menjadi buruk. Apalagi sekarang aplikasi Tiktok sedang populer dimainkan dan ditonton dari berbagai kalangan khususnya remaja. Mereka rela menghabiskan waktu hingga 24 jam untuk bermain dan menonton video di Tiktok. Sebenarnya, tidak semua video di Tiktok bersifat buruk. Banyak juga video edukasi yang tersedia disana. Namun kembali lagi, hanya sedikit peminat untuk menikmati video bertema edukasi. Kemudahan akses pada media-media sosial ini berakibat pada menurunnya konsumsi masyarakat pada surat kabar.

Surat kabar sekarang juga mulai ditinggalkan. Hal ini dikarenakan kurangnya minat baca pada diri remaja. Dari Survey Nielsen, hanya 9% Remaja Indonesia yang masih membaca media cetak. Menurunnya minat baca disebabkan oleh beberapa faktor seperti belum adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan para orang tua sedari kecil dan fasilitas pendidikan yang kurang merata. Jika disuruh memilih, para remaja akan dengan cepat memilih menonton video dari pada pembaca. Karena bagi mereka, menonton video lebih menarik dan menghibur. Sedangkan membaca kurang diminati karena dianggap membosankan dan membuat mengantuk.

Maka dari itu untuk menjadikan diri kita berkualitas, tanamkan sejak dini minat membaca dari berbagai media. Dapat memilih tontonan yang bersifat edukasi agar dapat mengubah mindset kita. Memiliki pengetahuan luas dari literasi akan berdampak baik bagi kehidupan kita dan sekitar. Ayo semangat literasi!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.