Kenalkan Kearifan Lokal, PAC IPNU IPPNU Margoyoso Gelar Workshop Kebudayaan

MARGOYOSO – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Margoyoso menggelar Gebyar Ramadan dan Workshop Kebudayaan. “Ngaji Budaya” bersama sejarawan muda Pati ini bertempat di Aula Serbaguna Kecamatan Margoyoso, Minggu (24/4/2022).

Puluhan delegasi dari pimpinan ranting se-Kecamatan Margoyoso memadati lokasi dengan penuh antusias.

Acara tersebut diisi oleh Ragil Haryo Yudiartanto (Sejarawan Muda Pati) dan M. Farid Abbad (Senior PAC IPNU Margoyoso dan Pegiat Literasi Pesantren).

Bagus Mubarik, Ketua PAC IPNU Margoyoso menyampaikan bahwa acara Gebyar Ramadan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ia juga mengatakan kalau pelajar sangat butuh terhadap pengetahuan mengenai budaya agar ia bisa mengenali diri dan lingkungan di sekitarnya dengan baik.

“Pelajar butuh terhadap pengetahuan budaya. Selain belajar budaya Indonesia secara umum di bangku sekolah, juga dibutuhkan pengetahuan tentang budaya lokal,” ujarnya.

Ia juga menambahi, kegiatan ini sebagai ikhtiar dalam mengenalkan dan mengembangkan budaya kepada generasi muda, sebagai wujud rasa memiliki dan takut kehilangan akan budaya.

Ragil dalam menyampaikan materi, ia banyak menyampaikan tentang cagar budaya dan kearifan lokal kecamatan Margoyoso serta upaya pelestarian sejarah untuk generasi muda. Ia menjelaskan dengan rinci seluk beluk budaya hingga tradisi apa saja yang masih berlangsung sampai sekarang dan bagaimana langkah-langkah agar situs cagar budaya mendapat pengakuan di level lokal, nasional, hingga internasional.

Selain memberi penguatan materi, Farid Abbad, senior yang lebih akrab disapa Gus Farid itu mengajak generasi milenial untuk menyukai sebuah sejarah atau setidaknya mempelajari sedikit tentang sejarah, istilahnya kepo, terutama sejarah di desa sendiri.

Gus Farid juga menambahkan untuk menarik minat generasi muda masa kini berarti kita harus mengikuti media dan instrumen yang dekat dengan dunia milenial saat ini.
“Cara kita mengemasnya harus tepat. Sejarah yang luar biasa percuma karena tidak dikemas dengan baik.” ujarnya.

Gus Farid itu juga berpesan bahwa budaya adalah karakter bangsa kita, jadi sudah seharusnya  kita menanamkan nilai-nilai budaya pada kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita terlalu ikut arus hingga budaya kita tercerabut perlahan tanpa kita sadari.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama.

(lpj)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.