SIPADU Disebut Lebih Baik Dibanding SIAPNU

PW IPNU IPPNU Jawa Tengah telah mimiliki sistem database yang bernama SIPADU. Sistem ini telah berjalan selama beberapa bulan dan dinilai telah maksimal.

Alifah, Pelaksana Program SIPADU dari PW IPPNU Jateng mengungkapkan, latar belakang munculnya program SIPADU ini disebabkan sejumlah PC IPNU IPPNU di Jateng yang kurang maksimal dalam melakukan pendataan anggota.

Seringkali ketika terjadi pergantian kepengurusan, data yang sudah ada tidak tersampaikan dengan baik ke kepengurusan selanjutnya.

“Jadi kami PW IPNU IPPNU Jateng mengupayakan, memfasilitasi teman-teman dalam hal pendataan organisasi secara terpadu,” ujarnya.

Ia mengatakan, meskipun di level Pimpinan Pusat lebih dulu telah ada sistem database yang bernama SIAPNU untuk IPNU dan website database untuk IPPNU. Namun, SIPADU disebut lebih baik dibandingkan program database yang dimiliki oleh Pimpiman Pusat tersebut.

Apalagi, katanya, program database yang dimiliki Pimpinan Pusat tidak diikuti oleh aturan yang mengikat. Ada kemungkinan ketika ganti periode website tersebut sudah tidak digunakan.

“Sedangkan SIPADU diikuti PPW, jadi program ini berjalan secara continue. Meskipun nantinya kepengurusan ini sdh demisioner kami akan mendampingi kepengurusan baru minimal satu tahun untuk menjalankan program SIPADU,” jelasnya.

Di Website database PP IPPNU misalnya, menurutnya, yang bisa mengakses data anggota hanya terbatas pada pengurus cabang saja. Hal ini justru bakal memberatkan PC.

“Oleh karena itu di SIPADU kami mudahkan dengan akses secara organisasi sampai tingkat PAC. Bahkan, nanti ketika datanya sudah terverifikasi, setiap anggota IPNU IPPNU bisa membuka data dirinya di SIPADU. Itu tidak bisa dilakukan di website PP IPPNU,” ujarnya.

“Ketika data saya sudah terverifikasi di website PP IPPNU, saya hendak login secara personal di website itu tidak bisa. Saya hanya bisa login secara organisasi atas nama PW ataupun PC,” katanya.

Lebih lanjut, alasan pihaknya tidak nyaman menggunakan website pimpinan pusat salah satunya karena kolom pengisian data tidak diwajibkan secara keseluruhan. Misalnya, hanya mengisi nama saja itu sudah bisa tersimpan, meskipun data yang lain belum diisi.

Sementara, di dalam SIPADU ada kolom-kolom yang wajib diisi, misal email hingga data kaderisasi. Jika kolom-kolom tersebut tidak diisi, maka datanya tidak akan tersimpan.

“Hal ini yang membuat kami yakin untuk menggunakan SIPADU. Karena validitas data di website pusat masih sangat rendah,” tegasnya.

Kemudian, data yang sudah masuk di SIPADU bisa digunakan untuk memetakan potensi kader yang ada di wilayah masing-masing, berdasarkan data kaderisasi, latar belakang pendidikan dan lain-lain. Bahkan, dari data itu bisa menjadi dasar pengurus baik di PW, PC maupun PAC dalam menentukan program kerja selanjutnya.

Mengenai data SIPADU yang harus menyertakan NIK, ia mengatakan hal itu merupakan permintaan dari PW NU Jawa Tengah. Pihaknya pun memastikan data tersebut bakal aman.

“Insya Allah data aman. Kami hanya meminta NIK saja, tidak pernah meminta foto KTP-nya. Hari ini penyalahgunaan KTP harus disertai dg bukti fisik KTP-nya. Bukan sekedar NIKnya saja. Kalo mendaftarkan akun gojek dkk yg premium pake NIK aja percaya, kenapa masih bimbang utk mengisi data NIK di Organisasi?” katanya.

Pihaknya pun berkomitmen akan mengembangkan berbagai fitur yang ada dalam SIPADU. Salah satunya adalah nantinya akan ada menu cetak sertifikat. Jadi memudahkan PC maupun PAC dalam menerbitkan sertifikat, jadi tidak perlu mendesign satu persatu. (lpj)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.